Senin, 14 September 2020

Akhlakul Karimah sebagai inti Profil Pelajar Pancasila

 

Akhlakul Karimah sebagai inti Profil Pelajar Pancasila

Oleh : Faozi Latif, SHI, M.H.

 

Pendidikan Karakter adalah program Pemerintahan Presiden Jokowi sejak awal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak.[1] Sehingga pendidikan karakter adalah pendidikan untuk mengarahkan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti, tabiat atau watak. Untuk bisa melahirkan sumber daya yang diharapkan, maka Pusat Kurikulum Kementrian Pendidikan telah membuat profil pelajar Indonesia berbasis Pancasila.

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang beragama, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila merupakan intisari dari nilai-nilai keagamaan yang berkembang di masyarakat. Lebih jauh, profil pelajar Pancasila adalah nilai-nilai yang juga diharapkan dari nilai-nilai keagamaan. Dalam Islam hal ini disebut sebagai Akhlakul Karimah. Ada enam profil pelajar pancasila yang sudah dikembangkan.

Pertama, bernalar kritis dan dapat memecahkan masalah. Dalam Al-Quran, Allah memberikan ilustrasi untuk berfikir kritis dengan kalimat ulul albab. Ulul albab secara bahasa berasal dari dua kata: ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai’, sedang al albab mempunyai beragam arti. Kata ulul albab muncul sebanyak 16 kali dalam Al-Quran. Dalam terjemahan Indonesia, arti yang paling sering digunakan adalah ‘akal’. Karenanya, ulul albab sering diartikan dengan ‘yang mempunyai akal’ atau ‘orang yang berakal’. Al-albab berbentuk jama dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa ulul albab adalah orang yang memiliki otak berlapis-lapis alias otak yang tajam. Penelusuran terhadap terjemahan bahasa Inggris menemukan arti yang lebih beragam. Ulul albab memiliki beberapa arti, yang dikaitkan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), tilikan (insight), pemahaman (understanding), kebijaksanaan (wisdom). Penelusuran terhadap terjemahan bahasa Inggris menemukan arti yang lebih beragam. Ulul albab memiliki beberapa arti, yang dikaitkan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), tilikan (insight), pemahaman (understanding), kebijaksanaan (wisdom).[2]

Menghadapi menyebarnya berita yang sangat massif, pelajar Pancasila tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum pasti kebenarannya. Islam memerintahkan untuk “tabayyun” ketika mendapatkan sebuah berita. Ketika teknologi sudah ada di dalam genggaman, maka mutlak peran nalar kritis diperlukan. Bahkan ketika mendapatkan berita yang sudah pasti benar saja, tidak mudah untuk membagikannya kepada orang lain, ketika madharatnya lebih besar.

Kedua, pelajar haruslah mandiri. Alloh sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Semua terlahir membawa potensinya masing-masing. Dalam Islam istilah tangan di atas lebih baik dari pada tangan dibawah. Ini adalah kiasan bahwa member itu lebih baik daripada menerima. Kemandirian dimulai dengan usaha (ikhtiyar) yang maksimal. Perintah untuk ikhtiyar yang maksimal dilakukan beriringan dengan ibadah kepada Alloh (Surat Al-Jumah : 10).

Ketiga, Pelajar Pancasila harus kreatif. Dalam Al-Quran, Alloh menegaskan bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum, sampai mereka mau merubah sendiri (QS. Ar-Ra’du : 11). Secara implisit, Alloh memerintahkan umat manusia untuk berfikir secara kreatif. Tidak mudah menyalahkan keadaan yang mungkin saja tidak sesuai dengan keinginannya. Kesulitan dijadikan sebagai pendorong untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain (out of the box).

Keempat, Pelajar Pancasila suka bergotong royong. Tidak ada sesuatu yang sulit untuk dilakukan kalau dikerjakan secara gotong royong. Semangat ini adalah warisan nenek moyang kita (founding father). Islam memerintahkan kita untuk tolong menolong dalam kebaikan (Al-Maidah:2). Sikap ini merupakan jati diri Bangsa Indonesia yang idealnya terus dipelihara.

Kelima, Pelajar Pancasila mempunyai sikap kebhinekaan global. Pelajar Pancasila mencintai keberagaman budaya. Sebuah sunatullah, ketika Alloh menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (Al-Hujurat:13). Tujuan dari itu adalah bukan untuk saling bermusuhan tapi untuk berta’aruf (saling mengenal). Perbedaan bahasa, warna kulit, budaya dan sebagainya merupakan bukti keagungan Alloh SWT.

Keenam, Pelajar Pancasila berakhlak mulia. Ini adalah inti dari pengamalan pancasila terutama sila pertama. Diharapkan pelajar pancasila memahami dan merealisasikan semua sikap dari profil pelajar pancasila ini. Sebab kesemuanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah.

 



[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/karakter

[2] https://www.uii.ac.id/membumikan-konsep-ulul-albab/