Berisi kumpulan tulisan-tulisan pribadi, baik berupa cerpen, artikel, maupun unek-unek...!!
Jumat, 22 April 2016
Lelaki Kumal
Pagi itu gerimis menyapa
kampungku. Peluh bercampur dengan titik-titik air. Pasar tetap ramai. Semua
aktivitas berjalan seperti biasa. Penjual sayuran menawarkan dagangannya. Di
sebuah kedai kopi tak jauh dari pasar, aku menikmati segelas kopi susu hangat.
Cukup untuk menghangatkan badanku yang mulai terasa dingin. Aku mengambil
pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
Tukang sampah lewat dengan
gerobaknya. Aku menutup kedua lubang hidung. Bau sampah tumpah menyebar ke
mana-mana. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun yang menutup
hidung. Aku menurunkan jariku kembali menikmati kopi susuku. Masih terasa
panas. Sebuah pisang goreng kembali mendarat di mulutku. Dingin-dingin seperti
ini enaknya memang menikmati goreng pisang panas ditemani kopi susu.
Seorang berpakaian lusuh
dengan rambut panjang tak beraturan berdiri di simpang kedai. Tak banyak yang
dia lakukan. Hanya berjalan mondar-mandir. Aku sempat berpikir. Mungkinkah dia
merasa kedinginan seperti aku? Jangan-jangan dia sengaja berjalan mondar-mandir
untuk menghilangkan rasa dingin.
”Lihat apa kang?” Mbok
Minah penjaga kedai bertanya. Aku sampai tidak sadar ternyata menurutnya dia
sudah bertanya beberapa kali. Mungkin aku terlalu asyik memperhatikan orang di
seberang. Sampai gendang telingaku tidak sensitif lagi.
”Apa tiap pagi dia ada di
tempat itu?” aku balik bertanya.
”Sebentar aku mau
membungkus pisang goreng dan kopi pahit,” Mbok Minah memasukan empat potong
pisang goreng dan kopi di plastik putih ke dalam kresek hitam dan kemudian
meninggalkanku.
Pandanganku tetap tidak
bergeming. Tak lama seorang perempuan mendekatinya dengan sebuah kresek hitam.
Laki-laki di ujung jalan itu menerima kresek itu dan kemudian berlalu. Tanpa
kata, aku tidak melihat bibirnya bergerak.
”Siapa dia Mbok?” kataku
pada Mbok Minah ketika dia sudah kembali ke kedai.
”Aku tidak pernah bertanya
tentang nama dan asal-usul, aku juga tidak menganggap hal itu penting, aku
hanya kasihan melihat dia kedinginan. Kalau saja aku tidak berjualan, aku ingin
mengajaknya berteduh di kedaiku. Tapi aku takut langgananku jadi tidak mau
singgah. Dulu dia selalu mendekat ke kedaiku, tapi diusir oleh suamiku karena
baunya. Akhirnya aku menyuruh dia berdiri agak jauh dari kedaiku, dan aku yang
akan mengantarkan kopi dan pisang goreng. Aku tidak tahu apakah dia mengerti
kata-kataku ketika itu. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi mendekat ke
kedaiku. Dia tidak akan pergi sebelum aku membawakan kopi dan pisang goreng.”
Aku hanya mendengarkan
tanpa berkomentar. Aku membiarkan bibir mbok minah bergerak merangkai kata demi
kata. Sepertinya dia tidak peduli apakah aku mendengarkan kata-katanya atau
tidak. Mungkin itu juga tidak penting baginya. Yang terpenting ketika
kenikmatan berbicara tidak terganggu oleh kekuatan apapun. Atau mungkin jarang
ada waktu buatnya membicarakan sesuatu yang menurutnya penting. Bisa jadi dia
terlalu bosan dengan kata-kata yang keluar dari banyak mulut. Hanya telinganya
yang selama ini selalu bekerja.
* * *
Mentari belum menampakan
sinarnya. Suara jangkrik masih sesekali terdengar. Bacaan alquran melangit dari
beberapa menara mesjid. Sejenak aku mendengarkan lantunan ayat-ayat Tuhan
membelah kesunyian. Sepertinya dari suara kaset. Karena hampir tiap pagi suara
itu yang terdengar. Mungkin suara itu hanya untuk membangunkan orang. Aku hanya
tersenyum memikirkan itu.
Aktivitas pasar sudah
ramai. Bahkan dari pertengahan malam beberapa pedagang sudah berada di tempat
itu, sambil menunggu barang dari luar kota. Ketika barang datang, mereka segera
menggelar dagangannya. Sangat gesit dan rapi. Rutinitas yang tidak pernah
berhenti.
Sambil menunggu pagi, aku
mencari koran. Pagi-pagi biasanya penjaja koran mempersiapkan korannya dan
menumpuk di pinggir jalan sebelum dijual. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan.
Hampir tidak ada berita yang positif dari negeri ini. Banjir melanda ibu kota,
pengungsi lapindo demonstrasi ke Dewan, Demam berdarah kembali merenggut nyawa.
Biasanya aku hanya membeli koran setiap Hari Sabtu. Informasi lowongan kerja
selalu penuh pada hari itu, hampir tiga halaman biasanya.
Belum sempat aku melipat
halaman terakhir koran yang masih di tanganku. Pandanganku tertuju pada
beberapa tulisan mencolok yang membuat darahku mendesir. Keningku berkerut.
Relokasi pasar lama ke tempat baru akan dilaksanakan minggu depan. Kemacetan di
sekitar pasar lama sudah terlalu parah, sehingga perlu di benahi. Itu alasan
yang disebutkan di sana. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Alasan itu
memang benar. Pasar yang berada di dekat jalan itu menjadi tempat berkumpulnya
manusia. Ada penjual dan pembeli. Ada juga barang-barang yang ditawarkan. Semua
itu membutuhkan alat transportasi. Aku hanya berharap di tempat baru, para
penghuni pasar lama mendapat tempat yang lebih baik.
Pikiranku melayang pada
Mbok Minah, ”Kemana dia akan pergi berjualan?” akankah dia menempati tempat
baru.
Keinginan untuk
mengunjungi kedai kopi Mbok Minah muncul secara tiba-tiba. Belum sempat aku
berpikir jauh, dua kakiku sudah mulai berjalan.
”Kopi susu satu Mbok,”
kataku ketika sampai di depan kedai.
Tidak ada kata yang keluar
dari mulut Mbok Minah. Tangan terampilnya segera mengambil gelas kosong yang
baru saja dicucinya. Pandanganku menyapu pada seisi kedai. Aku tidak melihat
foto-foto yang kemarin di pajang. Kalenderpun sudah tidak berada lagi di
tempatnya. Belum sempat keherananku bertambah, Mbok datang membawakan kopi
susu.
”Ini kopi susu spesial,
khusus untuk Mas Paijo” suara Mbok Minah terdengar berat. Senyumnya mengembang
seperti terpaksa. Ada beban berat yang sedang menghimpit dadanya. Ingin rasanya
aku menghapus kesedihan itu. Aku jadi teringat ibuku di kampung. Mungkin
usianya tidak jauh berbeda dengan Mbok Minah. Hanya penampilannya yang berbeda.
Kerut-kerut kulit Mbok Minah terlihat nyata. Mungkin kesedihan dan beban hidup
menambah usianya terlihat senja.
”Besok Mbok tidak lagi
berjualan, Mbok akan pulang kampung saja,” suara itu terdengar lagi, suara yang
menambah suasana hatiku bertambah sedih. ”Kemarin anak Mbok yang sulung
menyuruh Mbok pulang, dia ingin Mbok merawat anaknya yang masih kecil karena
dia dan istrinya sibuk bekerja.” Aku hanya tersenyum mencoba menahan kesedihan.
”Mudah-mudahan Mbok bisa
lebih senang hidup di tengah-tengah anak sendiri,” kataku mencoba menghibur.
Beberapa kardus terlihat
di balik pintu ketika angin sepoi-sepoi membukanya perlahan.
Hari ini tidak ada lagi
pisang goreng. Hanya kopi susu yang sudah mulai dingin.
* * *
Pagi ini pasar lama
menjadi sepi laksana kuburan. Hilir mudik becak yang membawa barang dan sayuran
hampir tidak terlihat lagi. Beberapa kios lain disekitar pasarpun tak luput
dari pembersihan. Aku merasakan kesepian yang belum pernah ku rasakan. Aku
kehilangan teman bicara. Mbok Minah, mungkin hanya aku yang merasakan ketiadaannya.
Dia lebih senang ’mengabdi’ pada anaknya. Meninggalkan beberapa langganan yang
selalu menunggu pisang gorengnya matang.
Aku menyusuri sisa-sisa
pasar. Sebuah batu di depanku, aku tendang dan mengenai kaleng susu. Prang ...
dia mengeluarkan suara.
Aku berhenti ketika
melihat seorang berwajah kumal berjalan mondar-mandir. Pakaiannya robek di
beberapa tempat. Rambutnya memanjang tidak terawat. Aku seperti diingatkan
dengan sesuatu. Aku bergegas membeli sebuah roti kering di sebuah toko yang
agak jauh dari pasar. Kemudian aku kembali ke tempat laki-laki kumal itu
berada. Aku memberikan bungkusan roti itu dan diapun berlalu.
Ada rasa senang ketika aku
telah membantu orang. Aku tidak perduli apakah dia memahami kebaikanku.
Pandanganku masih menyusuri langkah laki-laki kumal yang mulai tidak terlihat.
Perlahan senyum Mbok Minah tergambar di benakku.
* * *
Aktivitas pagiku bertambah
satu mulai hari ini. Membawakan sebuah roti untuk ’teman’ baruku. Mungkin pada
awalnya dia kaget ketika bukan Mbok Minah yang membawakan makanan. Demikian
juga makanannyapun berbeda, tidak lagi pisang goreng dan kopi, tetapi roti
kering dan aqua gelas.
Aku menikmati rutinitas
itu. Setiap kali aku menyodorkan roti dan aqua gelas, hidungku seakan mencium
aroma pisang gorengnya Mbok Minah. Bisa jadi bukan hanya aku yang merasakan
itu, tetapi laki-laki itu?
Hampir satu minggu aku
melakukan aktivitas baruku.
Hari ini dengan wajah
berseri aku membawakan dua bungkus roti dan dua aqua gelas. Aku ingin
memberikan lebih dari pada biasanya. Karena hari ini memang istimewa bagiku.
Dan aku ingin diapun memgetahuinya. Aku tidak mau dianggap durhaka karena
melupakan detik-detik menegangkan bagi ibu dan ayahku dua puluh lima tahun yang
lalu.
Laki-laki itu tidak berada
di tempat biasa. Aneh, tidak seperti biasa.
Aku berkeliling di sekitar bekas pasar, berharap bertemu dengan dia.
Pikiran jelek mulai bermain di otakku.
”Sreeet....,” air yang
menggenang muncrat mengenai pakaianku, bersamaan dengan angkutan kota yang
melaju kencang. Sopir gila! Aku mengumpat dalam hati.
Kakiku mulai menjauh dari tempat itu.
Di pinggir jalan seorang
penjual koran memajang barangnya. Terlihat tulisan-tulisan mencolok di muka
untuk menarik minat orang untuk membeli. Pandanganku tertuju pada deretan koran
itu, tapi pikiranku mengembara entah ke mana. PENGEMIS DAN GELANDANGAN DI
RAZIA, menjadi judul salah satu dari koran itu. Rasa penasaran mulai muncul.
Berharap ada berita yang sedang aku cari. Ya berita tentang keberadaan
laki-laki kumal itu.
Empat orang gelandangan dan pengemis di razia oleh
petugas ketertiban, sementara seorang lagi melarikan diri dan ditemukan sudah
tidak bernyawa di sebuah sungai. Diduga mayat laki-laki kumal itu terjun dari
atas jembatan dan mengenai batu-batuan.
Deretan kata itu bagaikan
kilat yang menyambar. Aku lemas, mungkinkah laki-laki itu.....? Aku tidak
berani meneruskan.
Istana Kardus
Aku menatap pada tumpukan
kardus di depanku. Mungkin sekitar satu setengah meter tingginya. Kalau aku
jual mungkin bisa laku sepuluh ribuan. Lumayan, untuk menambal perutku yang
sudah dua hari tidak bertemu nasi. Berarti ada dua kali kesempatan berkunjung
ke warteg sederhana miliknya Mbok Ipah yang terletak di pojok jalan. Dengan
menu nasi, sayur sop yang banyak airnya dengan tahu dan tempe sebagai menu
istimewaku.
Aku sudah tidak ingat lagi
berapa tahun aku menggantungkan hidup pada kardus. Bagiku dialah harta paling
mahal yang bisa aku kumpulkan. Bisa jadi aku akan stress kalau sehari saja
tidak bertemu dengan hartaku itu, atau mungkin aku akan mati kedinginan. Dialah
keramikku, genteng rumahku, tembok rumahku, bahkan emas yang bisa kapan saja
aku jual pada Bang Rusydi, pengumpul barang rongsokan.
# # #
Dulu ketika ayah dan ibuku
masih hidup, aku masih tinggal di desa. Daerah yang cukup jauh untuk dijajah
oleh polusi udara dan suara. Aku sangat menikmati masa kecilku, sebagaimana
anak-anak lain menikmatinya. Hidup dari hasil keringat ayahku dari membajak
sawah Juragan Marto, bagiku cukup untuk makan kenyang.
Tapi khayalanku sirna
ketika aku ingat api yang menyantap semua yang aku miliki. Mainanku, rumah
tempat tinggalku, bahkan kedua orang tuakupun tidak lepas disantap olehnya.
Mungkin saja nasibku akan sama kalau malam itu aku tidak tidur di mushola
bersama Rifki teman mengajiku. Karena kebiasaanku setiap malam minggu tidur di
mushola sehabis mengaji. Hanya satu kata-kata ibuku yang selalu ku kenang
”Hidup hanya sekali, jangan pernah merepotkan orang lain”.
Beruntung Mbok Minah
tetangga sebelahku yang tinggal sendirian mengajakku untuk tinggal bersamanya.
Hari-hari selanjutnya aku habiskan dengan membantu Mbok di Sawah. Ya, walaupun
Mbok Minah terlihat senang menerima aku, tapi aku tetap tidak mau merepotkan
dia. Maka kerja apa saja yang bisa meringankan bebannya, pasti aku lakukan. Aku
bahkan sudah menganggap Mbok sebagai pengganti ibuku. Dan sepertinya Mbok juga
sudah menganggapku sebagai anaknya.
Tapi hari-hari yang aku
lalui bersama Mbok Minah semakin berat, biaya hidup semakin mahal. Aku merasa
kasihan melihat Mbok Minah yang semakin tua dan harus terus bekerja. Maka aku
memutuskan berangkat ke kota mengadu nasib. Harapanku hanya satu, meringankan
beban Mbok Minah. Ternyata Mbok Minah tidak menyetujui keinginanku dan memaksa
aku untuk tetap tinggal bersamanya. Menurutnya rizki itu urusan Gusti Allah,
kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan terus memaksa akhirnya Mbok
membolehkan dengan syarat aku harus memberikan kabar setiap bulan. Untuk biaya
perjalananku ke kota Mbok menjual cincin emasnya, barang berharga terakhir
miliknya. Aku semakin terharu melihat ketulusan hati Mbok. Tak kuasa mataku
sembab karena semalaman tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir.
Dalam hati aku berjanji akan membalas setiap sen kebaikan yang sudah diberikan
Mbok Minah.
# # #
Sayang kehidupan di kota
tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Aku terlalu lugu untuk mengetahui
kerasnya hidup di kota. Beberapa kios dan warung makanan yang aku datangi
dengan harapan ada yang memerlukan tenagaku, dijawab dengan gelengan kepala.
Bahkan di beberapa tempat aku diusir karena menyangka aku sebagai
peminta-minta.
Pada akhirnya aku menjadi
gelandangan. Tidur di pinggir jalan. Aku pernah punya keinginan untuk kembali
ke desa, tapi aku tak punya ongkos lagi. Jangankan untuk ongkos pulang, untuk
makan saja sudah tidak ada lagi. Sehingga terpaksa aku mengorek tempat sampah
di beberapa tempat mencari sisa makanan yang sudah dibuang. Dan aku tak kuasa
untuk berfikir tentang Mbok Minah, dia pasti menunggu kabar dariku yang sudah
beberapa bulan tidak ada kabarnya.
Kemudian langkahku
membawaku pada tempat ini. Tempat yang memberikanku hidup. Sekaligus tempat
yang mungkin dibenci orang karena selalu mengekspor bau tak sedap. Di sinilah
aku kenal dengan teman-teman. Ada sekitar dua puluh orang yang tinggal di sini.
Sebagian di antaranya adalah keluarga, hanya beberapa orang yang tinggal sendirian.
Aku di antaranya. Di sinilah aku sekolah yang tidak memerlukan ijasah, tempat
yang memberikan pendidikan teknik cepat mengumpulkan barang rongsokan, dan
memisahkan barang menurut kriteria tertentu.
Ada harapan baru muncul
setiap hari, ketika deru mobil pengangkut sampah menumpahkan sisa barang yang
sudah tidak terpakai lagi. Botol-botol aqua, kardus bekas dan mungkin besi-besi
tua menjadi incaran bagi para pasukan keranjang.
Aku sempat sedih ketika
kemarin puluhan orang menghalangi mobil pengangkut sampah memasuki wilayah
tempatku tinggal. TPA ini sudah penuh dan tidak menampung lagi sampah yang
datang dari kota, begitu kira-kira kata-kata orang-orang yang berteriak-teriak
dengan mempergunakan sebuah alat pengeras suara. Aku tidak tahu apa namanya.
Dan aku tidak tahu maksud perkataannya. Yang aku tahu hanya ladang usahaku
terancam.
Akibatnya beberapa mobil
pengangkut sampah tidak bisa melanjutkan kendaraannya. Bahkan dua mobil
terlihat berbalik arah sebelum menurunkan sampah yang dibawanya. Beruntung
masih ada tiga mobil lain yang dengan sembunyi-sembunyi menurunkan sampahnya
ketika sore hari sudah menjelang dan beberapa orang yang memblokade jalan sudah
kembali ke rumahnya masing-masing yang berjarak sekitar lima ratus meter.
Hari-hari berikutnya hanya
tinggal dua mobil yang masih setia mengantarkan rejeki kepada kami. Itupun
hanya sampah yang diangkut dari desa tersebut dan desa sebelah. Bisa ditebak
penghasilan kami semakin berkurang. Mulailah aku dan teman-teman keluar dari
rumah kami menuju jalan-jalan memungut setiap barang yang masih bisa dijual.
Sudah beberapa kali kami
dikejar-kejar pasukan penjaga ketertiban kota, bagaikan hewan yang mengganggu
keindahan kota. Beberapa orang yang tertangkap dibawa ke suatu tempat. Aku
tidak tahu ke mana.... Beruntung aku dan kawan-kawan masih bisa kembali ke
istana kardusku setiap sore menjelang, dengan membawa barang-barang yang besok
hari akan aku jual pada Bang Rusydi.
Hari itu suhu badanku
tinggi. Aku tidak mampu bangkit dari ranjang kardusku. Jaket lusuh yang selalu
aku pakai waktu malam hari ketika udara dingin, malam itu tidak terasa hangat
lagi. Aku menggigil, harusnya aku mengigau. Tapi ah aku tidak tahu, tidak ada
yang mendengarnya. Aku hanya melongok keluar ketika terlihat Darno temanku keluar
rumahnya sambil membawa keranjang. Hari ini aku libur kerja, gumamku pada
mentari yang mulai menampakan cahayanya.
# # #
Udara pagi ini masih
sejuk. Angin yang semilir berhembus membawa aroma khas tempat tersebut. Aroma
yang menjanjikan kehidupan bagi puluhan pasukan keranjang yang kalah bersaing
untuk memperebutkan aroma lain yang mungkin bagi orang tertentu cukup berkelas.
Itulah aroma kemewahan. Aroma yang hanya boleh dicium dari jarak puluhan
kilometer oleh pasukan keranjang.
Suhu badanku sudah mulai
normal. Aku sudah rindu pada botol-botol aqua yang mungkin menungguku di tempat
sana. Aku mempersiapkan keranjang dan besi panjang yang dibengkokan pada
ujungnya. Tapi ah,.... kenapa sepi sekali. Kemana orang-orang itu?
Dari depan rumahku aku
tidak melihat kehidupan di beberapa rumah kardus lain tetanggaku. Aku hanya
melihat satu... bukan ah hanya dua, ya betul ada dua orang terlihat membawa
keranjangnya. Aku tidak melihat Darno yang bagiku merupakan teman sejatiku
dalam mencari sisa-sisa buangan orang kaya. Hampir setiap hari aku keluar
bersamanya, kecuali kemarin ketika aku terpaksa tidak ”diperkenankan” untuk
meninggalkan rumah kardusku.
”Kemarin mereka diangkut
dengan kendaraan, untung kami cepat lari menyelamatkan diri,” dua orang itu
berkata. Aku teringat Darno, dia pasti juga dibawa ke tempat yang tidak pernah
dia kenal. Juga bagiku. Mungkinkah tempat itu lebih menjanjikan. Ah...
mudah-mudahan, aku hanya bergumam. Hari
ini ingin sekali aku melihat koran. Mungkin ada wajah Darno di sana. Wajah yang
mungkin tidak akan aku lihat lagi setelahnya. Tapi ah aku takut untuk pergi
........., aku tidak bisa membayangkan kalau sampai mengalami nasib yang sama
dengan Darno.
Tempat ini menjadi sepi,
sesepi perasaan hatiku kehilangan saudara dan teman bercengkrama. Tidak ada
lagi Darno yang sering pergi bersamaku. Tak ada lagi Mbok Rus yang dengan
cerewet sering memarahi pemulung lainnya karena rebutan botol aqua. Tidak ada
lagi puluhan pasukan membawa keranjang dipundak mereka. Bukan, bukan karena penduduknya
sudah tidak betah, tapi ah aku tidak tahu....
Kenapa mencari botol aqua
saja mesti digaruk, kenapa duduk di perempatan saja harus dikejar-kejar. Ah
memang hidup susah ditebak. Pernah aku bertanya pada Darno beberapa minggu yang
lalu ketika ada penangkapan dan pembersihan jalan-jalan dari para gelandangan,
” Apa kesalahan utama mereka sehingga mereka ditangkap?” Mungkin karena mereka
miskin sehingga tidak enak dipandang, itu jawaban yang masih terngiang di
benakku sampai saat ini. Memang mungkin karena kita miskin maka tak layak hidup
di kota.
Aku mendengar suara
kendaraan roda empat menurunkan beban di pundaknya. Semangatku biasanya
langsung terpacu untuk bersaing dengan pasukan keranjang lain. Tapi ah itu masa
lalu, sekarang aku hanya sendiri.
Bandung, 03 Oktober 2006
KUCINGKU SAYANG
“
Heri, makan dulu sini,” aku berkata sambil menenteng bungkusan makanan. ”Meong”,
kucing itu mendekat dan mencium kakiku. Bagaikan sudah tahu jam makannya, Heri
kucing putih yang sudah aku pelihara selama 4 bulan mendekat. Seekor ikan bandeng
yang sengaja aku beli di pasar segera di tempatkan di atas piring dan diberikan
pada Heri. Dengan lahap dia makan hidangan yang sudah tersedia. Setelah
selesai dia menjilat-jilat kaki dan tubuhnya dengan lidahnya.
Aku memperhatikan tingkahnya sambil
posisi jongkok di depannya. ”Meong,” Heri menggelayut di kakiku, berputar dari
kaki kanan ke kaki kiri. Aku sangat
senang melihat perkembangannya. Teringat ketika empat bulan yang lalu ketika
dia ku temukan di pinggir jalan. Sebuah mobil pick up hampir saja menabraknya.
Dia sangat kotor, bulu-bulunya yang putih kelihatan berwarna kecoklatan
bercampur tanah. Tubuhnya yang kurus menandakan bahwa dia tidak mempunyai tuan
yang merawatnya. Insting keibuanku memaksaku untuk membawanya ke rumah. Aku memandikannya kemudian memberinya
makan.
Aku
memberinya nama Heri, bukan karena nama itu pernah berkesan tetapi nama itulah
yang ada dibenakku ketika aku akan menamainya. Hari-hari yang sepi selepas
pulang kantor, sekarang tidak ada lagi. Heri mampu menjadi teman curhatku.
Bagaikan mengerti bahasa yang aku ungkapkan, dia seringkali diam ketika aku menceritakan
sesuatu sambil wajahnya melihat ke arahku. Seperti waktu lalu ketika tiga
pemuda menggodaku dan mengataiku sebagai perawan tua. Aku menangis di
hadapannya. Anehnya aku merasa masalahku menjadi ringan ketika aku sudah menumpahkannya
pada Heri. Aku merasa kehampaanku tanpa pendamping mulai berangsur sirna.
# # #
Hari
ini aku pulang telat, karena ada lembur sehingga otomatis tidak sempat memberi
makan siang Heri. Hal itu memang bukan tidak sengaja. Biasanya kalau ada lembur
aku sering menitipkan Heri pada tetangga sebelah atau meletakan makanan dengan
jumlah banyak dipiring khususnya. Kebiasaan menitipkan dia memang bukan hal
yang wajar. Omongan bahwa aku orang yang aneh, sering terdengar dari beberapa
mulut yang usil dengan perbuatanku. Sehingga aku mulai malas untuk menitipkan
Heri pada siapapun.
Dengan
langkah yang seakan dipaksa, aku memasuki gerbang rumah.
”Heri,.........Heri.......,” aku berteriak dari
depan pintu. Tidak seperti biasanya Heri tidak langsung mendekat. Bahkan tidak
berusaha muncul menjemput tuannya datang. Dengan sedikit gelisah aku masuk dengan
terus mencoba memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban.
Rasa
gelisah dan rasa bersalah karena mengabaikan makan siangnya, membuatku takut
terjadi hal yang tidak diinginkan pada Heri. Aku terus mencari di setiap sudut
kamar dan di bawah kursi, tempat-tempat yang biasanya menjadi ajang bermain
Heri. Tapi nihil, Heri tidak ditemukan. Aku mulai cemas, keringat dingin mulai
keluar. Sudah tidak dirasakan lagi keletihan yang beberapa menit lalu menjamah
kebugaranku.
Tiba-tiba,
aku mendengar suara di atas genting rumah. Suara binatang berkejaran. Cricitt....cricit,
sepertinya suara tikus yang menjerit kesakitan. Mungkin dia kejepit ketika di
kejar temannya, atau ada binatang lain yang lebih besar yang merampas
kebebasannya. Kemudian, gedeblug... Heri muncul dengan membawa sesuatu di
mulutnya yang masih bercampur darah segar. Aku kemudian berteriak dan
menyumpahi Heri dengan kata-kata yang penuh caci yang tentu saja tidak akan
dipahami olehnya.
”Dasar
kucing tidak tahu diri, sudah di kasih makanan enak malah mencari binatang
kotor, awas kamu akan saya hukum!” Aku masih berteriak yang mengakibatkan Heri
melepaskan buruannya yang jatuh dilantai dengan percikan darah.
# # #
Matahari
masih berada di peraduannya, ketika kokok ayam sayup terdengar. Udara masih
terasa dingin menyebabkan orang lebih suka merapatkan selimutnya daripada
beranjak menuju tempat air.
Heri
yang sudah tiga hari mendekam di kerangkengnya menggeliat menggerakan tubuhnya.
Mungkin pegal karena sudah lama badannya tidak beraktivitas. Perbuatannya
memburu dan hampir memakan tikus membuatku sangat marah dan sengaja memberinya
pelajaran. Dia harus mendekam dalam penjara kucing selama seminggu. Penjara dari
triplek yang dibuat persegi dengan pintu yang selalu di kunci pakai gembok yang
khusus dibuat untuk membuat Heri jera dan tidak makan sembarangan.
Sementara
di kamar, tubuhku mulai menggigil, kemudian aku beranjak untuk mematikan AC, membetulkan
letak selimut dan kembali merebahkan badan. Maklum hari ini Minggu, hari yang
bisa khusus untuk istirahat dari seminggu aktivitas di kantor. Kalau bukan
Minggu, aku pasti sudah bangun dan
bersiap berangkat kerja, soalnya jarak antara kantor dengan rumah cukup
jauh. Kalau telat sedikit saja pasti terlambat, belum lagi antrian kendaraan
yang padat pada jam-jam berangkat ke kantor.
# # #
Hari
Senin siang, aku sudah berada di depan rumah. Pagi tadi di kantor aku hanya
mempersiapkan meeting dan membuat jadwal pertemuan dengan klien di kota lain.
Aku terkejut ketika melihat pintu rumah
sudah terbuka, padahal aku sangat ingat kalau pagi sebelum berangkat sudah
memastikan pintu terkunci.
Mungkin
ada pencuri masuk, begitu pikirku. Perasaanku mulai tidak enak. Rasa lelah yang
ada bercampur menjadi ketakutan dan cemas. Sambil mengendap-endap aku berjalan
masuk ke rumah. Tidak terdengar suara, berarti tidak ada orang dirumah.
Melewati ruang tamu tidak ada hal yang mencurigakan bahkan barang-barang pun
terlihat seperti sebelum ditinggalkan. Beberapa guci masih berdiri di
tempatnya, tv 29 incipun tidak berpindah tempat. Sekejap ketenangan meresap
dalam jiwaku. Sebelum melangkah lagi aku menarik nafas agar lebih tenang.
Ruang
tengah semuanya aku teliti dengan seksama, takut ada barang berharga yang
hilang. Tapi tetap tidak ditemukan kejanggalan, tidak ada sedikitpun perobahan.
Tidak ada benda yang bergeser walau sedikitpun. Semua terlihat wajar dan tidak terlihat
bekas orang yang masuk.
Tinggal
kamar yang belum dicek. Aku semakin cemas. Sambil mengumpulkan keberanian, aku
mengambil gunting dari laci untuk berjaga-jaga. Mungkin mereka masih ada di
kamar, atau mereka mencuri barang di kamarku.
Kaki
terasa sangat berat untuk digerakan. Korden dibuka, pintu terkuak. Tidak ada
kehidupan ataupun bekas kehidupan. Kamar masih rapih, bahkan selimut yang
selalu aku lipat sehabis bangun tidur masih rapi di atas ranjang. Almari yang
menjadi tempat menyimpan barang berharga masih terkunci rapat. Perlahan aku
membukanya dan memeriksa setiap perhiasan yang tersimpan. Cincin, kalung dan
beberapa perhiasan lain masih ada ditempatnya. Ah.... ternyata tidak ada
apa-apa. Mungkin saja aku tidak mengunci dengan benar waktu pagi tadi, sehingga
ketika ada angin sedikit saja pintu bisa terbuka.
Sesaat
aku merasakan ketenangan, bersyukur ternyata barang-barang berharga yang sudah
aku kumpulkan sedikit demi sedikit masih utuh. Aku bergegas ke dapur mengambil
air minum. Rasa haus yang tadi sempat terlupa, sekarang menyerang lagi. Aku
sangat senang sekali, kecemasanku berangsur sirna. Aku ingin berbagi
kebahagiaan, aku teringat Heri, ini hari ke empat dia disekap di kandangnya.
”Heri....
Heri,” aku memanggilnya sambil berjalan menuju ke kandangnya yang terkunci. Tak
lupa aku mengambil kunci yang selalu tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi
ternyata kunci itu tidak ada ditempatnya. Mungkin terjatuh, tapi tetap tidak ku
temukan. Aku kembali gelisah. Kasihan Heri, begitu ujarku berarti kandangnya
harus aku dobrak. Heri......Heri, kembali aku memanggilnya. Tapi tidak ada
suara sahutan. Mungkin Heri tidur kelelahan atau bahkan merasakan lapar. Ah
kasihan Heri.
Tepat
di depan kotak persegi empat tempat Heri menghabiskan hukumannya, aku terpana.
Kotak itu sudah terbuka. Dan Heri tidak ada di dalamnya. Aku linglung, penglihatanku
semakin kabur. Dan akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
# # #
H2O Au
“Kamu mau tidak jadi da’inya As-Shaffa?”
pertanyaan ini sangat mengagetkanku. Bukannya karena aku tidak bisa berdakwah,
itukan makanan keseharianku. Tapi diutus untuk menjadi da’i di wilayah yang
sama sekali belum aku ketahui, hmmm… kayaknya harus pikir-pikir lagi!
“Selama Ramadlan
kan libur,
paling kamu pulang kampung,” pertanyaan
kali ini semakin memojokanku. Aku tahu menolak berdakwah itu berdosa, coz
setiap orang wajib berdakwah, aku ingat salah satu Hadis Nabi ‘sampaikan apa yang datang dariku walaupun
hanya satu ayat’. Orang yang hanya hafal satu ayat saja wajib berdakwah
apalagi aku santri Ma’had Al-Irsyad Salatiga, yang sudah beberapa kali membaca bulughul maram, fathul majid, dan
beberapa kitab lain.
Kali ini aku ga
mungkin bisa mengelak, begitu pikirku. Aku ga tahu apakah ini sebuah rezeki
karena aku dapat amanah baru. Ataukah mimpi buruk, karena otomatis jadwal
liburku terpangkas selama sebulan.
Sepertinya
Ustadz Imran bisa membaca kegalauanku. Makanya beliau memberikan kesempatan
bagiku untuk berfikir. Ustadz Imran adalah pengurus Yayasan As-Saffa yang
selalu rutin mengirimkan da’i ke setiap lokasi yang dianggap ‘rawan’, khususnya
pada Bulan Ramadlan.
Aku masih diam
membisu, pikiranku berkecamuk. Aku sudah rindu kampung halaman. Ayah ibuku
pasti senang menyambut buah hatinya pulang. Bayangkan sudah satu tahun aku
tidak pulang, berarti setahun juga aku tidak bertemu dengan ibuku. Aku rindu
goreng mendoan* buatan ibuku. Bagiku
tidak ada makanan paling enak selain mendoan,
apalagi dimakan ketika masih hangat. Hmmmm… perutku jadi keroncongan.
“Begini saja,
saya yakin kamu di kampung juga berdakwah, tapi kalau kamu menjadi da’inya
As-Shafa, selain dapat amal shaleh, teman baru, dan kamu juga akan dapat honor
lho,” Ustadz Imran tahu aja kelemahanku. Aku jadi tersenyum malu. Hee…boleh
juga pikirku, itung-itung nambah jatah THR-ku.
# #
#
Sebetulnya hari
itu aku rencana mau pulang kampung ke Cilacap. Pakaian ganti selama sebulan
sudah aku siapkan di tas besarku. Malah beberapa kitab ‘kuning’ (karena sudah
lecek) tak terlewatkan. Tapi aku ingat pesan ibuku kalau aku mau pulang mampir
sebentar satu atau dua hari ke Yogya menengok mbahku. Pasti beliau sangat
senang sekali melihat salah seorang cucunya berkunjung. Aku jadi ingat pertanyaan
khasnya kalau aku datang, ‘sopo iki?
Betul sekali,
mbahku sangat senang melihat aku datang. ‘Sesajen’pun disiapkan. Ayam goreng
tambah gudeg khas yogya dan goreng krupuk emping. Lengkaplah sudah, dan tentu
saja aku tidak berniat menyia-nyiakan semua yang sudah terhidang. Aku takut
mbahku tersinggung kalau makanannya tidak aku habiskan, he…he..padahal
lapar.
Satu haripun
berlalu, dan aku harus segera meninggalkan singgasana mbahku. Langsung
pulang…..?
Ntar dulu deh,
aku mau ke Yayasan As-Shaffa minta beberapa buku gratisan. Lumayan untuk nambah
koleksi pustaka pribadiku. Kan
bukan hanya aku yang membaca, beberapa anggota keluargaku bahkan tetanggaku
sering meminjam bukuku. Sialnya kalau lagi hari baik, buku yang dipinjam
kembali dengan utuh. Kalau lagi apes, datang dengan kondisi sudah rusakpun
lumayan. Bahkan beberapa bukuku hilang ketika dipinjam.
Di sinilah aku
harus mendesain ulang rencana liburan ramadlanku, setelah bertemu Ustadz Imran.
# #
#
“Kamu saya utus
ke Banyumas,” Ustadz Imran memberikan keterangan ketika aku sudah tak kuasa
menolak beliau. Sempat aku bertanya kenapa harus aku yang menjadi da’i, yang
dijawabnya dengan santai ‘Kalau kamu mau kenapa cari yang lain’. Sebelum aku
menyatakan siap, aku mengajukan syarat tiga hari sebelum lebaran aku boleh
pulang, yang diamini oleh beliau. So, deal-lah kesepakatan.
“Di sana kamu akan bertemu
dengan Pak Rusydi, pengurus Mesjid At-Taqwa,” Ustadz Imran menambahkan.
Kemudian aku diberikan rute dan kendaraan yang harus aku tumpangi.
“Kapan aku harus
berangkat?” aku mencoba bertanya. Aku mulai mempelajari karakter Ustadz yang
satu ini. Karena otomatis kalau aku jadi ‘ajudan’nya, aku akan selalu banyak
berhubungan dengannya. Apalagi kalau ternyata ada problem di lokasi dakwah, dan
itu yang tidak aku harapkan.
Sepertinya
orangnya easy going, begitu
perkiraanku. Di sini aku menemukan
persamaan tipe denganku yang tidak terlalu suka dengan urusan yang formil.
Sampai penugasan akupun untuk menjadi da’i tidak dilengkapi surat pengantar dari Yayasan.
“Lebih cepat
lebih bagus,” Ustadz Imran menjawab. “Kira-kira kapan kamu siap diterjunkan,”
aku tersenyum mendengar kata-katanya. Emangnya terjun payung.
“Besok tanggal
satu Ramadlan, gimana kalau sekarang kamu berangkat, biar tidak kesorean,”
Ustadz Imran memberi usul. Menurutnya jarak tempuh ke lokasi dari Yogya sekitar
empat jam. Sedangkan sekarang jam sebelas lewat lima menit, berarti sampai lokasi sekitar jam
tiga.
Aku pikir boleh
juga. Kalau berangkat besok sudah puasa. Sedangkan bepergian jauh, ketika berpuasa
pasti melelahkan. Akupun mengiyakan dan berpamitan kepada Ustadz Imran dan
beberapa staff yang lain.
“Nanti aku
kontak Pak Rusydi, kamu tenang saja, kamu tinggal datang ke rumahnya dan bilang
bahwa kamu utusan Ustadz Imran dari Yayasan As-Shoffa,” beliau menambahkan
sambil menjabat erat tanganku.
Sebelum aku
pergi, Ustadz Imran memberikan beberapa lembar kertas bergambar mantan Presiden
Soeharto, aku hitung ada sepuluh. He…he.. aku bukan matre lho.
# #
#
“Bagaimana
perjalannya Fauzi,” Pak Rusydi menyambutku dengan ramah, bagaikan menyambut
kedatangan anak semata wayangnya yang sudah lama merantau. Aku senang sekali
ditanya langsung memakai namaku, berarti Ustadz Imran sudah meneleponnya dan
menjelaskan siapa aku sebenarnya.
“Alhamdulillah
menyenangkan,” aku menjawab dengan muka berseri. Bukan hanya karena sudah
menemukan tempat tinggal Pak Rusydi, tetapi juga keramahan yang sangat tulus
terpancar dari wajahnya. Ternyata mencari rumah di desa sangat mudah. Asal tahu
nama, semua orang tahu rumahnya. Itulah pengalamanku ketika menanyakan rumah
Pak Rusydi di sebuah warung nasi.
Pak Rusydi
tinggal bersama istri dan satu anak lelaki yang sebaya umurnya denganku. Beliau
mengajar di SMP Negeri tak jauh dari rumahnya. Sedangkan istrinya adalah ibu
rumah tangga biasa. Andi, nama anaknya droup out dari IPB, belum tahu persis
sebabnya. Dan itu bukan persoalan penting bagiku.
“Kamu pasti
lelah, sekarang minum dulu airnya mumpung masih hangat,” Pak Rusydi
mempersilahkan aku minum teh manis yang baru saja di sediakan oleh istrinya. Sambil minum teh manis dan makan Goreng
Ubi, Pak Rusydi menceritakan perjalan hidupnya sampai bisa tinggal di Banyumas.
“Sebetulnya saya asli Pekalongan, kebetulan
diangkat PNS di desa ini, sekaligus mendapatkan istri orang sini juga, jadi saya
tinggal disini.”
Yang menarik saya adalah cerita beliau tentang
adanya sebuah gua yang terletak di bukit desa sebelah yang sering dipakai untuk
prosesi ibadah agama tertentu. Kalau tidak salah namanya Gua Maria.
Sayang sekali mulutku tidak mau kompromi sehingga
aku menguap sampai beberapa kali. Secara otomatis ‘dongeng’ hari ini selesai,
dan aku didaulat masuk kamar untuk istirahat.
# # #
Malam ini tarawih pertama. Aku agak kikuk ketika
berangkat ke masjid. Aku takut jumlah rakaat shalatku berbeda dengan masyarakat
di sini. Kenapa tadi di rumah aku tidak mencari info terlebih dahulu pada Pak Rusydi, aku
mengumpat sendiri dalam hati. Untungnya aku tidak disuruh menjadi imam. Tidak
kebayang kalau aku menjadi imam shalat dan ternyata aku melakukan sesuatu yang
tidak biasa dilakukan oleh masyarakat, bisa-bisa saat itu juga aku dipulangkan
karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.
Masyarakat umum biasanya memandang masalah fikih
adalah nomor satu. Perbedaan di dalamnya bagaikan perbedaan aqidah. Maka aku
harus sangat hati-hati untuk urusan ini.
Seperti ramadlan sebelumnya, sehabis shalat
tarawih ada ceramah singkat yang sering disebut kultum. Pak Rusydi yang
kebetulan menjadi imam tarawih langsung mempersilahkan aku untuk menjadi
pembuka kultum di ramadlan ini. Dengan gaya kyai senior, aku mengawali kultum
dengan muqadimah yang sangat lengkap. Aku menjelaskan tentang puasa dan hal-hal
yang sunah untuk dilakukan. Surat Albaqarah ayat 183 tak lupa menjadi referensi
utama.
Usai ceramah aku dikelilingi oleh bapak-bapak yang
ingin sekedar berkenalan dan bertanya sesuatu. Suasana kekeluargaan seperti
inilah yang slalu ku rindukan. Suasana yang jauh dari sifat individualistis.
Ketika ada orang baru, apalagi da’i seperti aku, disambutnya dengan sangat
terbuka.
Perbincangan berlanjut pada aktivitas yang
biasanya dilakukan dalam rangka meramaikan Masjid At-Taqwa. Seorang jamaah
menjawab dengan sedikit keluhan bahwa aktivitasnya sangat kurang. Beliau
menginginkan adanya pengajian Bapak-bapak, pengajian Ibu-ibu dan pengajian
umum. Selama ini yang ada hanya pengajian anak-anak sore hari yang diajar oleh
Kanti.
Topik yang terakhir ini membuatku sangat tertarik
untuk mengoreknya.
“Siapa Kanti, Pak,” aku mencoba bertanya.
“Dia anaknya Pak Rustam, masih SMA kelas tiga,
tapi semangatnya luar biasa,” salah satu jamaah memberikan penjelasan.
“Kalau dia tidak ada otomatis anak-anakpun libur
mengaji, soalnya tidak ada pengganti,” jamaah yang lain menambahkan.
Aku mengambil nafas tertahan menyayangkan hal ini.
Ternyata masih ada daerah yang sangat memerlukan guru ngaji.
Malam semakin larut, satu dua orang jamah sudah
lebih dahulu pamit pulang.
# # #
Matahari masih menyisakan panasnya sore ini. Aku
sengaja pergi ke Masjid untuk melihat anak-anak mengaji, sekalian aku ingin
berkenalan dengan gurunya. Siapa ya….. aku coba mengingat-ingat. Kanti…, ya
itulah namanya. Akhirnya aku ingat juga, maklum seringkali aku tidak terlalu
menghapal nama, apalagi nama perempuan. Takut mengotori hati, cie…..
Alif, Ba…, dari luar sayup-sayup terdengar suara
anak-anak mengaji. Dan beberapa kali pengulangan karena pengucapan kata-katanya
kurang fasih. Ada sekitar dua puluh anak laki-laki dan perempuan yang ikut
mengaji. Dan memang benar ternyata hanya seorang guru yang mengajar.
‘Shadaqallahul Adziem’, suara anak-anak serempak
mengakhiri belajar Qurannya.
“Assalamu ‘Alaikum,” aku mencoba mendekati Kanti
dengan tetap menjaga jarak. Dia bukan muhrimku, batinku berkata.
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh, eh mas
Fauzi” Kanti menjawab salamku dengan lengkap. Sambil membereskan beberapa buku
iqra ke tempatnya, dia mengucapkan terimakasih kepadaku yang sudah mau mengajar
di kampungnya. Aku sangat tersanjung dengan ucapannya, apalagi yang mengucapkan
akhw…eh maksudnya cewek.
Saat itulah aku berusaha mencari informasi untuk
program dakwahku. Kanti sepertinya sangat senang sekali, dan bisa berbagi peran
dalam berdakwah denganku.
“Di sini ada juga LSM yang bergerak dalam bidang
anak, tapi kurang tahu namanya, aktivitas mereka biasanya hari minggu,” Kanti
menjelaskan dengan semangat. Menurut dia kegiatan LSM itu diantaranya
menggambar, membaca dan beberapa kali rekreasi keluar.
“Berarti di samping anak-anak mendapatkan ilmu
agama, mereka juga dapat ilmu lain ya,” aku salut juga ada LSM yang sampai ke
desa untuk mengajar anak-anak.
# # #
Seperti biasa sehabis shalat shubuh aku melakukan
olah raga sebentar. Lari pagi selama setengah jam agar jantungku sehat.
Suasana sangat sepi, hanya beberapa ibu-ibu yang
terlihat membawa sayuran. Mungkin mau dijual ke pasar, pikirku.
Di kejauhan aku melihat kerumunan anak-anak dengan
pakaian sudah rapi. Mungkin mereka akan rekreasi, atau lari pagi? Tak sabar
akhirnya aku mendekat ke kerumunan mereka. Ternyata anak-anak itu mengelilingi
seorang anak muda yang memakai kaos warna hijau kuning. Ada tulisan LSM
pemerhati anak. Oh berarti ini yang sering mengajari anak-anak. Beruntung
sekali aku bertemu dengan mereka. Ingin sekali rasanya bertukar pikiran dan
berbagi pengalaman selama mendampingi anak. Langkahku semakin mendekat ke
kerumunan anak-anak. Beberapa anak terlihat tertawa riang, seperti sedang
mendapatkan hadiah. Bahkan beberapa anak laki-laki berebut mengambil sesuatu
yang ada di tangan seorang anak muda itu. Aku tersenyum dengan tingkah mereka.
Ketika jarakku dengan mereka sudah tidak bersekat, hatiku kelu, mulutku tak
mampu bersuara, ternyata mereka memang sedang membagikan sesuatu. Permen….!!
# # #
Hari Minggu besok anak-anak akan diajak
rekreasi oleh mas-mas dari LSM, Mas Fauzi bisa ikut mendampingi ga? Maaf bukan
Kanti Suudzon, tapi Kanti curiga dengan LSM itu.
Sebuah surat tertanda Kanti H2O Au,
singgah ke tanganku melalui perantara Agus adik bungsunya. Sudah beberapa kali
dia menulis sesuatu kalau ada hal penting dan mendesak. Dan di akhir tulisannya
pasti tertulis H2O Au. Waktu pertama kali melihat tanda
itu wajahku mengerut mencari makna dari tanda itu. Aku tahu itu nama senyawa,
tapi apa maksudnya. H2O artinya air, sedangkan Au adalah
emas. Air emas, …. Apa maksudnya? Air itukan sinonimnya banyu jadi Banyu-emas,
eh…..Banyumas. Akhirnya aku dapat membaca teka teki itu.
Surat tersebut mengingatkan aku ketika salah
seorang pengurus LSM tersebut membagikan permen. Mungkin firasat Kanti benar,
aku ingin tahu aktivitas mereka di luar.
Tepat jam 7 pagi Hari Minggu, aku sudah mandi dan
bersiap untuk pergi. Aku mengajak Andi anaknya Pak Rusydi untuk ikut dalam
‘misi’ ini. Kebetulan aku ga terlalu pandai mengendarai sepeda motor, so…
Andilah yang jadi ojeknya.
Bus mini yang membawa rombongan anak-anak bergerak
ke arah selatan, ke daerah Buntu*, meninggalkan segudang tanya yang ada di
benakku. Dan dengan setia akupun mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak.
Aku tidak mau aksiku membuntuti mereka diketahui. Ternyata rombongan mengarah
ke Pantai Widara Payung. Sebuah pantai yang masih tergolong sepi dan cukup aman
untuk membawa anak-anak untuk berenang. Hmmm, …… ternyata kecurigaanku tidak
terbukti. Akupun merasa sedikit bersalah karena sudah mencurigai mereka.
Kurang lebih satu jam anak-anak dan tiga pengurus
LSM tersebut berpesta air. Aku tersadar ketika mobil mulai bergerak kembali ke
arah selatan, jalan pulang. Maafkan aku teman, aku sudah mencurigai kalian,
bisikku dalam hati dan mohon ampun kalau sudah menodai amaliah puasaku.
Bus mini melaju dengan kencang diselingi dengan
suara-suara mungil terdengar oleh telingaku. Ah senangnya jadi anak-anak !!!
Desa yang dituju sudah terlewat, tetapi ternyata
bus tetap berjalan pelan. Mungkin masih ada wisata yang lain, begitu ujarku
pada Andi di depanku.
Bus berbelok melewati jalan kecil tak beraspal,
dan kemudian berhenti ketika jalannya
tidak cukup dilewati mobil. Anak-anak keluar berhamburan diikuti tiga
pengurus LSM itu. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak, sambil
menyenandungkan lagu-lagu dan yel-yel penggugah semangat. Beberapa ilalang
tumbuh di sepanjang jalan itu. Mungkin ada acara out bond, pengenalan alam pada
anak-anak. Memang pendidikan alam seharusnya diberikan pada anak-anak. Agar
mereka merasa memiliki alam dan bisa menjaganya.
Akhirnya sampailah pada sebuah dataran yang cukup
luas. Mereka semua berhenti berjalan. Jantungku berdetak kencang…..
Di depanku
terlihat sebuah gua. Dan tepat di atas pintu gua ada sebuah tanda yang sangat
jelas terlihat dari jarak lima
belas meter, tempat aku bersembunyi. Palang kayu yang sudah cukup tua tapi
masih terlihat kuat. SALIB !!!!
# #
#
Mendoan : Tempe
pakai tepung terigu yang digoreng setengah matang
Buntu : Nama sebuah daerah
SAHUR BARENG
“Heeh……
pengumuman, minggu depan kita sahur bareng!!” Nety si cewek tomboy asistennya
sang kosma (ketua kelasnya mahasiswa) memberikan sebuah informasi penting hasil
sidang darurat yang dihadiri pemerintahan kelas dan genk of C-4 ( Cewek centil
caem dan culas), Nety, Nita, Rita dan Sinta. Walaupun semuanya berjilbab,
itupun tak lebih hanya karena kewajiban di kampus. Dan bisa ditebak, tentu saja
cara berjilbabnya yang tetap ngetat alias transparan. Biar berjilbab yang penting
gaul, begitu semboyan mereka.
“Ga salah tuh, bukan buka
puasa bareng!” seorang anak cowok mencoba klarifikasi.
“Buka puasa bareng dah basi, sekarang kita
buat trend baru sahur bareng!” Nety ngotot dengan info yang dibawanya.
Menurutnya kalau sahur bersama berarti juga buka puasa bersama. Tapi kalau cuma
buka puasa bersama belum tentu sahur bersama.
Kelasku, termasuk kelas yang
paling solid. Kalau ada kegiatan
semua wajib ikut, bahkan kalau perlu yang sedang sakit dirumahsakitpun diminta
cuti sementara. Sereeem ….!
Terkadang
aku yang agak gerah melihat tingkah mereka. Solid sih ok, kan Rosulullah juga
selalu menanamkan kekeluargaan. Tapi kan solid tidak hanya dinilai dari
kehadiran ketika acara bareng thok, apalagi kalau acaranya ga syar’i! Terkadang aku harus bolos acara
kelas kalau memang ternyata ada kegiatan yang lebih penting. Seperti dua minggu
kemarin ketika teman-teman mengadakan wisata ke Pangandaran. Aku terpaksa
absent karena harus mengisi halaqah
tarbiyah. Dan bisa ditebak, aku menjadi bulan-bulanan teman-teman.
“Susah ya jadi ustadz, terlalu banyak
umat, “ geli juga aku mendengar teman-teman mengatakan itu.
# # # #
Siang
hari sangat terik. Matahari membiarkan panasnya membakar kulit yang sengaja
menantang kuasanya di siang hari. Di kamar kost, aku merebahkan badan pada
kasur kapuk yang sudah sangat lapuk. Walaupun hampir setiap minggu sekali aku
tak pernah absent membiarkannya menghirup panas matahari, tetap saja tak banyak
berpengaruh. Tapi dia sangat berjasa menemani setiap malamku untuk menggapai
gelar sarjana agama. Sebuah gelar yang sangat didambakan oleh keluargaku di
kampung.
“Kalau kamu sudah sarjana, maka pesantren
Babussaadah ini biar kamu yang mengelola,” begitu perkataan ayahku.
Bayanganku kembali pada 2 jam
yang lalu, ketika suara cemprengnya Nety menggedor gendang telingaku. Buka
bersama yang dilanjutkan dengan sahur bersama yang diikuti tiga puluh orang
laki-laki dan perempuan. Oh …..my God, berarti harus nginep bareng dong !!
Aku menyangka acara ini pasti dipenuhi
dengan hal-hal yang berbau maksiat. Aku memutar otak, mencari celah
untuk menyelamatkan diri dari acara sialan ini.
Bukankah puasa dilakukan untuk mendekatkan
diri pada Yang Maha Kuasa. Memperbanyak dzikir, iktikaf di masjid,
bersedeqah, membaca quran dan seabreg kegiatan amaliah ramadlan lainnya. Kadang
aku merasa bahwa teman-temanku terlalu ‘kreatif’ membikin acara. Sampai acara
yang ga mungkinpun jadi mungkin untuk dilakukan. Ngomong ke ketua bahwa aku ga
bisa ikut acara tersebut percuma, jawabannya sudah bisa ditebak ‘kepentingan
pribadi tidak boleh menghalangi kepentingan kelompok’.
Kebayang kalau aku sampai ikut
acara itu, tidur bersama campur aduk antara ikhw eh… laki-laki dengan akhw…eh
perempuan. Pasti seru ceritanya, wajahku bisa nampang menjadi top of the month-nya mading. Kemudian
aku diwawancara koran suara kampus sebagai anak lembaga dakwah yang liberal.
# # #
Pagi
itu cuaca cerah. Matahari mengintip dari balik dedaunan yang tumbuh dihalaman
rumah Pak Ali, tempat aku kost. Aku bergegas menyiapkan peralatan mandi.
Sebagai anak kost, semboyan fastabiqul
khairat, berlomba-lomba mandi duluan sudah menjadi budaya. Terlambat
sedikit maka harus rela mengantri selama satu jam menunggu giliran. Tentu saja
aku sudah sangat berpengalaman dalam masalah ini. Sehingga aku berusaha
membiasakan untuk mandi pagi-pagi sekali, minimalnya setelah shalat shubuh dan qiraatul quran.
Sebetulnya
hari ini aku agak malas ke kampus. Aku tidak mau ketemu dengan makhluk yang
bernama Nety dan C-4 nya. Kemarin iuran untuk acara sahur bareng sudah dimulai.
Semua personel kelas ditodong satu persatu untuk menyerahkan uang lima puluh
ribu. Sebagai anak kost, uang segitu bukanlah sedikit. Perlu waktu beberapa
minggu bahkan sampai sebulan untuk mengumpulkan uang segitu banyaknya. Terpaksa
aku minta tempo untuk membayarnya. Dan ternyata masih ada sepuluh orang lagi
yang mengalami nasib sepertiku.
“Ok,
tapi besok hari terakhir pengumpulan iuran!” Nety mengatakan itu kemarin
didepan kelas yang diikuti suara riuh teman-teman yang lagi bokek. Dia memang
bertugas menarik iuran dan kemudian menyerahkannya pada Bela sang bendum.
Ternyata
hari inipun aku belum punya uang. Semalam aku berusaha mencari pinjaman kepada
Andi, teman sekamarku. Ternyata dia lebih parah dariku, weselnya macet sudah
tiga bulan yang lalu.
Perasaan
males untuk mengikuti acara tersebut, tidak menghalangi aku untuk tetap
membayar iuran, walau harus membobol sisa kas di atmku atau bahkan ngutang.
Terpaksa hari ini aku harus pinjam lagi sama Pak Ali yang sudah aku anggap
sebagai bapakku.
# # #
“Aku
mau ikut acara sahur bareng kalau acaranya di tempatku, dan aku yang
mendesainnya,” akhirnya aku ngomong juga ke sang ketua kelas. Aku mencoba
mencari jalan tengah diantara keinginan teman-temanku yang tetap ngotot dengan
acara sahur barengnya. Aku ingin menjadi bagian dari mereka, komunitas kelas
yang sangat heterogen. Ada Nety si
tomboy girl, Lisa si kutu buku, Armand si vokalis band kampus, sampai akupun
kecipratan gelar si ustadz.
Mungkin
aku bisa saja menghindar dari acara itu. Bisa saja aku pura-pura pulang kampung
karena ada acara keluarga. Adikku di sunat, atau kakekku nikah lagi (ga mungkin
ya…). Tapi ada yang mengganjalku, aktivitasku di Lembaga Dakwah memaksa aku
untuk berbuat sesuatu. Ya, aku ga mungkin membiarkan teman-teman menodai ibadah
puasanya dengan aktivitas yang menurutku konyol. Aku harus berbuat sesuatu.
Sehingga lahirlah ide melaksanakan acara itu di rumahku. Tepatnya di rumah
bibiku yang memang jarang ditempati. Alhamdulillah sang ketua menanggapi dengan
positif dan menyarankan membawa masalah itu ke dewan kelas, minggu depan.
# # #
“Aku
ga setuju banget, akukan sudah nyiapin acaranya di puncak, ya ga coy…!” Nety
ngotot tidak mau menerima usulku. Cara bicaranya yang bak orator memberi api
semangat pada tiga anggota C-4 yang lain untuk menganggukan kepala.
“Mungkin lebih baik kalau aku melaporkan
hasil pemasukan keuangan, totalnya ada satu juta lima ratus ribu rupiah. Anggaran
yang dibutuhkan untuk berangkat ke puncak sekitar satu juta tujuh ratusan. Itu
termasuk biaya transportasi sewa bus, buka puasa dan sahur bersama. Sedangkan
kalau di rumah si ustadz kita bisa menekan dari transportasi,” Bela menjelaskan
dengan panjang lebar.
“
Bendum sudah disogok sama si ustadz tuh, jadi kelihatan sekali pro dia,” Nety
dan C-4 masih mencoba mempertahankan argument mereka. Menurutnya acara itu bisa
menjadi ajang merekatkan persaudaraan kita, sekaligus ajang refreshing dari
kuliah.
“Ok,
semua sudah jelas, kalau teman-teman ikhlas menambah iuran kita, acara di puncak
its ok….., tapi kalau tidak
mau…….berarti kita tidak mungkin bisa menolak usul si Ustadz,” Sang Ketum mulai
mengarahkan pembicaraannya pada usulku. Alhamdulillah aku bersyukur, tidak
sia-sia kemarin aku habis-habisan menerangkan tentang pergaulan islami antara
laki-laki dan perempuan.
Sudah bisa ditebak, teman-teman bukannya
tidak mau pergi ke puncak, mereka hanya tidak mau nambah biaya lagi. So… acara
jadilah di rumahku.
# # #
Hari
ini udara sangat cerah. Awan biru berjalan beriringan ditemani suara nyaring
burung gereja di atap rumahku. Sementara di dalam rumah, aku mempersiapkan
semuanya, menyambut tamu-tamu istimewaku. Sore hari nanti mereka akan datang.
Aku sudah mendesain semua kegiatan sehati-hati mungkin. Aku tidak akan
membiarkan waktu luang sedikitpun untuk terjadinya khalwat. Lantai satu untuk anak cowok dan lantai dua untuk anak
cewek. Pertemuan hanya dilakukan di lantai satu ketika buka bersama yang
dilanjutkan dengan shalat jamaah tarawih kemudian kultum. Pertemuan kedua
ketika akan melaksanakan sahur yang kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh
bersama.
Aku sangat paham bahwa apa yang aku
lakukan sangat beresiko. Bukan hanya sebatas fitnah, bisa jadi aku
dijauhi aktivis dakwah yang lain. Tapi aku juga paham bahwa berdakwah
memerlukan tahapan. Tuhan, ampuni hambamu
yang lemah ini. Hanya ini yang bisa hamba lakukan, hamba hanya berharap apa
yang hamba lakukan adalah bagian dari dakwah menghindarkan teman-teman dari
kemungkinan terjerumus pada aktivitas yang terlarang. Aku sering berfikir, terkadang kita disibukan dengan dakwah kepada orang yang
sangat jauh dari kita, sedangkan teman di dekat kita tidak pernah
tersentuh.
Suara jam dinding berdetak berirama,
melantunkan nada-nada gelisah yang masih setia menemaniku. Aku
membiarkan lamunanku mengembara, mencoba merangkai tahap-tahap dakwah yang
mungkin bisa aku lakukan selanjutnya.
NAMAKU AZRIL
Hari masih pagi, ketika
dari kejauhan aku melihat seorang ibu datang bersama seorang anak kecil yang
masih berumur sekitar 4 tahun.
”Assalamu ’alaikum Bu
Hera,” sapa ibu tersebut sambil membuka pintu pagar yang terbuat dari potongan
bambu.
”Wa ’alaikum salam, eh Bu
Marta, tumben pagi-pagi ada masalah
yang sangat penting kelihatannya,” jawabku sambil mempersilahkan untuk masuk.
”Begini bu,” Bu Marta
memulai obrolannya. Dia berhenti sebentar seperti sedang mempersiapkan kata-kata
yang tepat untuk diucapkan. Sepertinya dia masih ragu dengan keinginannya untuk
menyekolahkan anaknya di TK yang diajar olehku. Maklum batas waktu pendaftaran
sebetulnya sudah lewat dua hari. “Saya mau memasukan anak saya Azril di TK
Barokah, masih bolehkan bu?” keluar juga akhirnya kata-kata dari Bu Marta.
Sementara di luar pagar,
Azril sedang asyik dengan permainan barunya. Ada cicak sedang menempel di pagar
bambu. Dengan berjingkat kaki Azril berusaha mendekat ke tempat Cicak berada.
Tangannya diangkat siap untuk menangkap hewan kecil itu. Seakan mengajak Azril
bermain, cicak itu berjalan dengan santainya. Berpindah-pindah dari potongan
bambu ke potongan yang lain. Dan bagai dihipnotis, Azrilpun mengikuti dengan
harapan bisa menangkap binatang itu hidup-hidup.
“Ternyata kamu di sini,
ayo salam dulu sama Bu Guru,” tiba-tiba Bu Marta sudah berada di dekatnya dan
mengajak Azril menemui Bu Hera.
“Gara-gara Ibu, Cicak itu
pergi,” Azril mengerutu. Wajahnya cemberut marah bagaikan kehilangan coklat
vanila dari negeri seberang.
”Kasihan, cicak itukan
juga mau hidup, kita harus sayang sama binatang,” aku turut serta berkomentar
melihat adegan ibu dan anak tersebut. Lucu juga anak itu ketika marah.
Rambutnya yang tebal dan hitam, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih
membuat aku terpana pada sosok mungil dihadapanku.
Dengan muka masih menunduk
yang menunjukan bahwa dia belum menerima kehilangan harta yang menurutnya
sangat berharga, dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku. Dengan senyum gembira,
akupun langsung menyambutnya.
Itulah awal perkenalanku
dengan Azril. Seorang anak kecil yang lucu dan manis.
# # #
Sekarang tanggal 16 Juli,
berarti besok aku sudah mulai mengajar lagi di TK Barokah. Kerinduanku untuk
bertemu dengan anak-anak sudah mencapai stadium empat, setelah libur selama
sebulan. Dalam penerimaan siswa baru kemarin, tercatat ada tiga puluh anak yang
mendaftar, sepuluh diantaranya anak perempuan.
Aku menerawang ke masa
lalu. Ternyata tak terasa sudah tiga tahun aku mengabdi di sini. Dulu setelah
tamat kuliah aku nyaris dihantui dilema sebagai pengangguran. Banyak cemoohan
menerpaku, baik dari keluarga juga masyarakat sekitar. Bahkan yang sangat
menyakitkan adalah perkataan ayahku yang seakan menyalahkan aku ketika dulu tidak
mengindahkan beliau untuk tidak usah masuk kuliah. Perempuan nantinya juga akan
jadi pelayan suami, kuliah hanya buang-buang uang, begitu katanya. Tapi aku
tidak mendendam dan ingin menunjukan pada semua orang bahwa perempuanpun bisa
berkarya.
Tahun 2003 dengan bantuan
seorang teman aku mendirikan TK Barokah. Niatanku hanya ingin memajukan
pendidikan di kampung. Aku ingin cara pandang masyarakat tentang pendidikan
berubah, itu ambisi yang selalu menyiram aku dengan air semangat ketika
kelesuan datang. Pendidikan sebagai bekal masa depan. Pendidikan yang bisa
dinikmati oleh semua kalangan.
Tiga tahun tak terasa
sudah terlewati. Ternyata walaupun aku bukan alumni sekolah yang khusus
mencetak guru TK, aku bisa enjoy. Aku sudah merasa its my life. Dunia yang membuat aku merasa tetap awet muda. Pantas
saja karena gaulnya dengan anak TK.
Besok aku akan bertemu
dengan Siska putrinya Bu Arman yang masih cadel ketika berbicara, Widi anak
tukang bakso sebelah, Sholeh anak tunggal pak Haji, dan beberapa anak lain yang
aku lupa namanya. Tapi ntar dulu, aku ingat sesuatu. Azril !!!
Kembali aku di datangi
sosok mungil tapi lincah, yang menurut ibunya sangat nakal. Anak kecil yang
nakal itu biasa bu, namanya juga anak. Itulah proses pencarian. Keberadaannya
ingin dihargai. Dia selalu ingin mencari perhatian dari orang dewasa. Sehingga
kadang-kadang perbuatannya di luar perkiraan kita. Aku berusaha menjelaskan
dengan panjang lebar tentang perilaku anak kepada Bu Marta ketika kemarin
datang bersama Azril.
# # #
Jam 07.30 aku sudah berada
di sekolah. Hari pertama semuanya harus sempurna, begitu pikirku. He....eh, koq
Wati belum datang, padahal kemarin sudah aku bilang untuk datang lebih awal
dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin sedang di jalan maklum kan rumahnya agak
jauh dan ga ada transportasi alias harus pake ’jurus di kejar anjing’ biar
cepat nyampe, aku berusaha menghibur diri. Sejak ada Wati pekerjaan mengajarku
sangat terbantu. Terbayang ketika setahun pertama mengajar sendirian, capeknya
minta ampun. Belum lagi kalau ada anak yang kencing di kelas.
Walaupun semua peralatan
yang ada dikelas sangat sederhana, karena produk yang ada seharusnya sudah
harus dipensiunkan, tetapi aku memutar otak agar anak merasa senang dan tidak
bosan ketika berada di kelas.
Dengan gaya seorang
desainer interior kawakan, aku mengotak atik letak barang-barang utama di
kelas. Kursi belajar yang tadinya mengarah ke papan tulis, aku buat menjadi 4
kelompok lingkaran, jadi masing-masing lingkaran ada yang berjumlah 7 dan 8
kursi. Letak papan tulis yang berada di sebelah kanan kelas menghadap ke arah
barat, aku buat menghadap ke selatan.
Sementara cukup dululah
untuk urusan interior.
”Assalau ’alaikum Bu
Guru,” Wati datang dengan nafas masih ngos-ngosan.
”Waalaikum salam, wah kamu
sangat beruntung Wat, semuanya sudah beres, tugasmu tinggal mijitin punggungku,
he....he” jawabku dengan santai. Sengaja aku sering mengajak Wati bercanda biar
dia tidak terlalu sungkan. Seperti biasa Wati hanya tersenyum sambil menyadari
keterlambatannya.
Sepuluh menit lagi jam
sekolah dimulai. Semua sudah ku persiapkan, hari ini tidak ada belajar, hanya
sebuah prosesi perkenalan. Ini adalah kebiasaan setiap hari pertama masuk
sekolah, agar anak-anak saling mengenal teman-temannya.
Dari kejauhan terlihat
pasukan hijauku mulai berdatangan. Sebagian masih diantar oleh orang tuanya.
Ada semangat yang meniup ke jiwaku melihat makhluk-makhluk mungil dengan ceria
menuju ke sekolahnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan semangat mereka, aku
berjanji dalam hati.
”Jangan berlari Azril, ”
Bu Marta berlari-lari kecil mencoba mengejar Azril yang sudah mendahuluinya.
Akhirnya sebelum bel
berbunyi semua anak sudah datang.
# # #
”Sekarang waktunya
istirahat, semua boleh bermain di luar !” aku mengakhiri belajar menggunting
dan menempel. Dengan riang anak-anak berhamburan ke luar. Beberapa anak
terlihat membuka bekal yang dipersiapkan dari rumah.
Seperti biasa dengan
bantuan Wati aku membersihkan kertas-kertas berserakan, bekas lem yang banyak
menempel di lantai.
Baru
selesai aku minum, Wati berteriak memanggilku. Ada anak yang menangis katanya. Setelah ku dekati
ternyata makanan Siska di rebut sama Azril.
” Kemarin Bu Guru bilang
apa kalau kita ingin sesuatu,” walaupun sedikit kesal aku berusaha mengajak
Azril berdialog. Aku tidak ingin menyalahkannya sebelum tahu duduk
permasalahannnya.
”Tadi Azril sudah minta
tapi cuma dikasih sedikit, jadi Azril rebut aja semua, Azril kan ga salah Bu
Guru,” dia masih membela diri.
”Justru merebut milik
orang lain itu ga boleh, sekarang Azril minta maaf yaa, ” Aku berusaha
menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan ke Siska aku berusaha mengajarinya
sifat kedermawanan Rosulullah yang rela memberikan pakaiannya ketika ada yang
memuji.
Aku harus lebih sering
memberikan contoh-contoh kedermawanan para sahabat, begitu batinku bicara
menanggapi kejadian yang baru saja terjadi.
# # #
Semakin hari ternyata
kenakalan Azril semakin menjadi. Sepertinya kesabaranku betul-betul sedang
diuji.
Sudah hampir semua anak
perempuan terkena getah kenakalannya. Rini yang ditarik kepang kembarnya dari
belakang. Eli yang sepatunya
disembunyikan di bawah ayunan. Riska yang mengaku dipukul ketika tidak mau
memberikan jatah kuenya. Sampai ’ajudanku’ Watipun tak luput dari kejahilan
anak didiku itu.
Ceritanya ketika jam
istirahat sudah habis, anak-anak kembali ke kelas. Secara diam-diam Azril
memasukan bangkong ke dalam salah satu sepatu wati. Kejadian ini tidak
diketahui oleh siapapun kecuali ketika jam pulang sudah lewat. Wati terkejut
bukan main ketika mendapati ada binatang aneh di dalam sepatunya. Seperti tidak
sadar dia menjerit dengan keras yang mengagetkanku.
Aku menduga bahwa ini
kerjaannya Azril. Aku teringat ketika habis jam istirahat dia terlambat masuk
ke kelas. Kata Shaleh yang terkenal pendiam, Azril tadi pergi ke pematang sawah
sendirian. Dan ketika masuk ada percikan lumpur di celananya. Tak salah lagi,
pasti dia yang melakukannya. Hari ini juga aku harus ke rumahnya sekalian untuk
silaturahmi.
Sampai di depan rumahnya
yang mungil, aku menghirup nafas sebentar dan mencoba menenangkan perasaanku.
”Assalamu ’Alaikum,”
ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara kaki mendekat ke arah pintu.
” Waalaikum salam, eh Bu
Guru, silahkan masuk,” Bu Marta mempersilahkan aku untuk masuk.
Setelah menanyakan kabar
tentang keluarga dan menanyakan kondisi rumah, aku menjelaskan maksud
kedatangannya.
”Maaf Bu Marta, kalau
penyampaian saya tadi menyinggung perasaan ibu,” aku berusaha menjelaskan
dengan detil dan sangat hati-hati. Aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang
lalu terulang. Ketika aku menjelaskan tentang kenakalan seorang anak di kelas
kepada seorang ibu, di sikapi dengan tidak memperbolehkan anak untuk sekolah
lagi.
”Tidak apa-apa bu, saya
benar-benar minta maaf,” Bu Marta berkata dengan mata berkaca-kaca. ”Saya
sendiripun sudah sangat kewalahan menghadapi kenakalan Azril di rumah, sekali
lagi saya minta maaf,” dia melanjutkan.
Setelah dirasa cukup dan
tidak ada solusi akupun berpamitan pulang.
Cacing diperutku sudah
minta jatah. Waktunya menjalankan nasehat dokter dengan empat sehat lima
sempurnanya.
# # #
Aku sudah kewalahan
menangani Azril. Ada saja tingkah yang membuat ubun-ubunku naik. Dalam
keputus-asaanku sempat terlintas pikiran nakal, ’alangkah enak duniaku tanpa
kehadirannya’. Namun pikiran gilaku langsung aku buang jauh-jauh. Aku ingat
amanahku sebagai seorang guru TK. Sia-sia pekerjaanku membangun pendidikan ini
dari awal kalau hanya dikalahkan oleh manusia kecil ini saja. Aku berusaha
memompa semangat mengajarku.
Tapi aku tidak bisa
menutupi kesenanganku ketika satu hari Azril tidak masuk kelas. Aku tidak
berusaha mencari informasi ke mana-mana.
Aku merasa tenang
mengajar. Semua persiapan yang sudah ku buat semalam bisa ku ajarkan dengan
baik. Lain cerita ketika ada Azril di sana. Energiku seringkali terporsir hanya
untuk menghadapi tingkahnya.
Demikian juga anak-anak,
tidak ada lagi cerita ada anak menangis karena dipukul, diambil kuenya, ataupun
hanya sekedar diejek. Semua berjalan dengan tenang. Sepertinya anak-anak
lainpun sangat menikmati ’peristiwa yang jarang terjadi’ ini.
Dua hari berlalu tanpa
kehadiran Azril tidak mengganggu keasyikanku mengajar. Hanya sedikit tanya di
batinku ’kemana Azril’. Pasti pindah sekolah, demikian pikirku. Atau tidak
bolah sekolah lagi sama orang tuanya ya? Ah biarin, paling nanti juga masuk
lagi kalau dia sudah agak lebih baik.
Kesadaranku sebagai guru
terusik ketika sudah seminggu tidak ada kabar tentang Azril. Aku merasakan
kehilangan. Kehilangan semua kenakalannya yang sering membuatku lebih bersikap
dewasa. Tak pernah lagi kudengar ada kejadian aneh yang terjadi. Aku semakin
gelisah ketika Wati bilang rumahnya sepi. Kebetulan kemarin Wati lewat depan
rumahnya, dan sepertinya rumahnya terkunci.
Jangan-jangan,
............. ah aku ga mau menduga yang bukan-bukan.
Aku harus mencari tahu!!
# # #
Pulang sekolah sengaja aku
berniat silaturahmi ke tempat Azril. Walaupun tidak ketemu manusia kecil itu,
mudah-mudahan ada orang tuanya. Ataupun sekedar kabar tentang keberadaannya.
Ternyata perkataan Wati
benar. Rumahnya terkunci, berarti tidak ada penghuni satupun dirumah ini,
begitu pikirku. Kalau begitu, mereka pergi kemana? Dalam keherananku, aku
mendengar sebuah suara di belakangku.
”Bu Marta dan semua
keluarga ada di rumah sakit.” Ternyata suara Pak RT yang sudah sangat ku kenal.
”Siapa yang sakit?” aku
bertanya dengan gelisah.
”Azril sakit gangguan
pencernaan, tadi saya baru pulang menengoknya, sebetulnya sakitnya sudah agak
lama tapi karena keterbatasan dana hal itu dibiarkan saja,” Pak RT
menjelaskan.
Terbayang olehku keadaan
ekonomi keluarga Bapak Marta yang hanya mengandalkan dari upah sebagai buruh di
kebun.
Aku merasa sangat bersalah
karena tidak mencari tahu tentang ketidakhadirannya. Kalau saja sejak pertama
tidak masuk sekolah aku langsung ke rumahnya mungkin ceritanya tidak seperti
ini. Kepalaku terasa berat, tetes bening mengalir dari dua kelopak mataku.
Maafkan aku Tuhan, karena
sudah menyia-nyiakan dia. Aku merindukan dia, berilah dia kesembuhan. Allohumma isyfi antasyaafi laa syifaa a illa syifaa
uka syifaaan laa yughodiru saqoma. Yaa Alloh berilah dia kesembuhan,
Engkau zat yang menyembuhkan, kesembuhan yang tidak memberikan sakit lagi.
Aamien.
Sore ini juga aku harus ke rumah sakit.
# # #
Langganan:
Komentar (Atom)