Kamis, 28 April 2016

Jumat, 22 April 2016

Lelaki Kumal


            Pagi itu gerimis menyapa kampungku. Peluh bercampur dengan titik-titik air. Pasar tetap ramai. Semua aktivitas berjalan seperti biasa. Penjual sayuran menawarkan dagangannya. Di sebuah kedai kopi tak jauh dari pasar, aku menikmati segelas kopi susu hangat. Cukup untuk menghangatkan badanku yang mulai terasa dingin. Aku mengambil pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
            Tukang sampah lewat dengan gerobaknya. Aku menutup kedua lubang hidung. Bau sampah tumpah menyebar ke mana-mana. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun yang menutup hidung. Aku menurunkan jariku kembali menikmati kopi susuku. Masih terasa panas. Sebuah pisang goreng kembali mendarat di mulutku. Dingin-dingin seperti ini enaknya memang menikmati goreng pisang panas ditemani kopi susu.
            Seorang berpakaian lusuh dengan rambut panjang tak beraturan berdiri di simpang kedai. Tak banyak yang dia lakukan. Hanya berjalan mondar-mandir. Aku sempat berpikir. Mungkinkah dia merasa kedinginan seperti aku? Jangan-jangan dia sengaja berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa dingin.
            ”Lihat apa kang?” Mbok Minah penjaga kedai bertanya. Aku sampai tidak sadar ternyata menurutnya dia sudah bertanya beberapa kali. Mungkin aku terlalu asyik memperhatikan orang di seberang. Sampai gendang telingaku tidak sensitif lagi.
            ”Apa tiap pagi dia ada di tempat itu?” aku balik bertanya.
            ”Sebentar aku mau membungkus pisang goreng dan kopi pahit,” Mbok Minah memasukan empat potong pisang goreng dan kopi di plastik putih ke dalam kresek hitam dan kemudian meninggalkanku.
            Pandanganku tetap tidak bergeming. Tak lama seorang perempuan mendekatinya dengan sebuah kresek hitam. Laki-laki di ujung jalan itu menerima kresek itu dan kemudian berlalu. Tanpa kata, aku tidak melihat bibirnya bergerak.
            ”Siapa dia Mbok?” kataku pada Mbok Minah ketika dia sudah kembali ke kedai.
            ”Aku tidak pernah bertanya tentang nama dan asal-usul, aku juga tidak menganggap hal itu penting, aku hanya kasihan melihat dia kedinginan. Kalau saja aku tidak berjualan, aku ingin mengajaknya berteduh di kedaiku. Tapi aku takut langgananku jadi tidak mau singgah. Dulu dia selalu mendekat ke kedaiku, tapi diusir oleh suamiku karena baunya. Akhirnya aku menyuruh dia berdiri agak jauh dari kedaiku, dan aku yang akan mengantarkan kopi dan pisang goreng. Aku tidak tahu apakah dia mengerti kata-kataku ketika itu. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi mendekat ke kedaiku. Dia tidak akan pergi sebelum aku membawakan kopi dan pisang goreng.”
            Aku hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Aku membiarkan bibir mbok minah bergerak merangkai kata demi kata. Sepertinya dia tidak peduli apakah aku mendengarkan kata-katanya atau tidak. Mungkin itu juga tidak penting baginya. Yang terpenting ketika kenikmatan berbicara tidak terganggu oleh kekuatan apapun. Atau mungkin jarang ada waktu buatnya membicarakan sesuatu yang menurutnya penting. Bisa jadi dia terlalu bosan dengan kata-kata yang keluar dari banyak mulut. Hanya telinganya yang selama ini selalu bekerja.
* * *
            Mentari belum menampakan sinarnya. Suara jangkrik masih sesekali terdengar. Bacaan alquran melangit dari beberapa menara mesjid. Sejenak aku mendengarkan lantunan ayat-ayat Tuhan membelah kesunyian. Sepertinya dari suara kaset. Karena hampir tiap pagi suara itu yang terdengar. Mungkin suara itu hanya untuk membangunkan orang. Aku hanya tersenyum memikirkan itu.
            Aktivitas pasar sudah ramai. Bahkan dari pertengahan malam beberapa pedagang sudah berada di tempat itu, sambil menunggu barang dari luar kota. Ketika barang datang, mereka segera menggelar dagangannya. Sangat gesit dan rapi. Rutinitas yang tidak pernah berhenti.
            Sambil menunggu pagi, aku mencari koran. Pagi-pagi biasanya penjaja koran mempersiapkan korannya dan menumpuk di pinggir jalan sebelum dijual. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Hampir tidak ada berita yang positif dari negeri ini. Banjir melanda ibu kota, pengungsi lapindo demonstrasi ke Dewan, Demam berdarah kembali merenggut nyawa. Biasanya aku hanya membeli koran setiap Hari Sabtu. Informasi lowongan kerja selalu penuh pada hari itu, hampir tiga halaman biasanya.
            Belum sempat aku melipat halaman terakhir koran yang masih di tanganku. Pandanganku tertuju pada beberapa tulisan mencolok yang membuat darahku mendesir. Keningku berkerut. Relokasi pasar lama ke tempat baru akan dilaksanakan minggu depan. Kemacetan di sekitar pasar lama sudah terlalu parah, sehingga perlu di benahi. Itu alasan yang disebutkan di sana. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Alasan itu memang benar. Pasar yang berada di dekat jalan itu menjadi tempat berkumpulnya manusia. Ada penjual dan pembeli. Ada juga barang-barang yang ditawarkan. Semua itu membutuhkan alat transportasi. Aku hanya berharap di tempat baru, para penghuni pasar lama mendapat tempat yang lebih baik.
            Pikiranku melayang pada Mbok Minah, ”Kemana dia akan pergi berjualan?” akankah dia menempati tempat baru.
            Keinginan untuk mengunjungi kedai kopi Mbok Minah muncul secara tiba-tiba. Belum sempat aku berpikir jauh, dua kakiku sudah mulai berjalan.
            ”Kopi susu satu Mbok,” kataku ketika sampai di depan kedai.
            Tidak ada kata yang keluar dari mulut Mbok Minah. Tangan terampilnya segera mengambil gelas kosong yang baru saja dicucinya. Pandanganku menyapu pada seisi kedai. Aku tidak melihat foto-foto yang kemarin di pajang. Kalenderpun sudah tidak berada lagi di tempatnya. Belum sempat keherananku bertambah, Mbok datang membawakan kopi susu.
            ”Ini kopi susu spesial, khusus untuk Mas Paijo” suara Mbok Minah terdengar berat. Senyumnya mengembang seperti terpaksa. Ada beban berat yang sedang menghimpit dadanya. Ingin rasanya aku menghapus kesedihan itu. Aku jadi teringat ibuku di kampung. Mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Mbok Minah. Hanya penampilannya yang berbeda. Kerut-kerut kulit Mbok Minah terlihat nyata. Mungkin kesedihan dan beban hidup menambah usianya terlihat senja.
            ”Besok Mbok tidak lagi berjualan, Mbok akan pulang kampung saja,” suara itu terdengar lagi, suara yang menambah suasana hatiku bertambah sedih. ”Kemarin anak Mbok yang sulung menyuruh Mbok pulang, dia ingin Mbok merawat anaknya yang masih kecil karena dia dan istrinya sibuk bekerja.” Aku hanya tersenyum mencoba menahan kesedihan.
            ”Mudah-mudahan Mbok bisa lebih senang hidup di tengah-tengah anak sendiri,” kataku mencoba menghibur.
            Beberapa kardus terlihat di balik pintu ketika angin sepoi-sepoi membukanya perlahan.
            Hari ini tidak ada lagi pisang goreng. Hanya kopi susu yang sudah mulai dingin.
* * *
            Pagi ini pasar lama menjadi sepi laksana kuburan. Hilir mudik becak yang membawa barang dan sayuran hampir tidak terlihat lagi. Beberapa kios lain disekitar pasarpun tak luput dari pembersihan. Aku merasakan kesepian yang belum pernah ku rasakan. Aku kehilangan teman bicara. Mbok Minah, mungkin hanya aku yang merasakan ketiadaannya. Dia lebih senang ’mengabdi’ pada anaknya. Meninggalkan beberapa langganan yang selalu menunggu pisang gorengnya matang.
            Aku menyusuri sisa-sisa pasar. Sebuah batu di depanku, aku tendang dan mengenai kaleng susu. Prang ... dia mengeluarkan suara.
            Aku berhenti ketika melihat seorang berwajah kumal berjalan mondar-mandir. Pakaiannya robek di beberapa tempat. Rambutnya memanjang tidak terawat. Aku seperti diingatkan dengan sesuatu. Aku bergegas membeli sebuah roti kering di sebuah toko yang agak jauh dari pasar. Kemudian aku kembali ke tempat laki-laki kumal itu berada. Aku memberikan bungkusan roti itu dan diapun berlalu.
            Ada rasa senang ketika aku telah membantu orang. Aku tidak perduli apakah dia memahami kebaikanku. Pandanganku masih menyusuri langkah laki-laki kumal yang mulai tidak terlihat. Perlahan senyum Mbok Minah tergambar di benakku.
* * *
            Aktivitas pagiku bertambah satu mulai hari ini. Membawakan sebuah roti untuk ’teman’ baruku. Mungkin pada awalnya dia kaget ketika bukan Mbok Minah yang membawakan makanan. Demikian juga makanannyapun berbeda, tidak lagi pisang goreng dan kopi, tetapi roti kering dan aqua gelas.
            Aku menikmati rutinitas itu. Setiap kali aku menyodorkan roti dan aqua gelas, hidungku seakan mencium aroma pisang gorengnya Mbok Minah. Bisa jadi bukan hanya aku yang merasakan itu, tetapi laki-laki itu?
            Hampir satu minggu aku melakukan aktivitas baruku.
            Hari ini dengan wajah berseri aku membawakan dua bungkus roti dan dua aqua gelas. Aku ingin memberikan lebih dari pada biasanya. Karena hari ini memang istimewa bagiku. Dan aku ingin diapun memgetahuinya. Aku tidak mau dianggap durhaka karena melupakan detik-detik menegangkan bagi ibu dan ayahku dua puluh lima tahun yang lalu.
            Laki-laki itu tidak berada di tempat biasa. Aneh, tidak seperti biasa.
Aku berkeliling di sekitar bekas pasar, berharap bertemu dengan dia. Pikiran jelek mulai bermain di otakku.
            ”Sreeet....,” air yang menggenang muncrat mengenai pakaianku, bersamaan dengan angkutan kota yang melaju kencang. Sopir gila! Aku mengumpat dalam hati.
Kakiku mulai menjauh dari tempat itu.
            Di pinggir jalan seorang penjual koran memajang barangnya. Terlihat tulisan-tulisan mencolok di muka untuk menarik minat orang untuk membeli. Pandanganku tertuju pada deretan koran itu, tapi pikiranku mengembara entah ke mana. PENGEMIS DAN GELANDANGAN DI RAZIA, menjadi judul salah satu dari koran itu. Rasa penasaran mulai muncul. Berharap ada berita yang sedang aku cari. Ya berita tentang keberadaan laki-laki kumal itu.
            Empat orang gelandangan dan pengemis di razia oleh petugas ketertiban, sementara seorang lagi melarikan diri dan ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah sungai. Diduga mayat laki-laki kumal itu terjun dari atas jembatan dan mengenai batu-batuan. 
            Deretan kata itu bagaikan kilat yang menyambar. Aku lemas, mungkinkah laki-laki itu.....? Aku tidak berani meneruskan.

     

Istana Kardus


            Aku menatap pada tumpukan kardus di depanku. Mungkin sekitar satu setengah meter tingginya. Kalau aku jual mungkin bisa laku sepuluh ribuan. Lumayan, untuk menambal perutku yang sudah dua hari tidak bertemu nasi. Berarti ada dua kali kesempatan berkunjung ke warteg sederhana miliknya Mbok Ipah yang terletak di pojok jalan. Dengan menu nasi, sayur sop yang banyak airnya dengan tahu dan tempe sebagai menu istimewaku.
            Aku sudah tidak ingat lagi berapa tahun aku menggantungkan hidup pada kardus. Bagiku dialah harta paling mahal yang bisa aku kumpulkan. Bisa jadi aku akan stress kalau sehari saja tidak bertemu dengan hartaku itu, atau mungkin aku akan mati kedinginan. Dialah keramikku, genteng rumahku, tembok rumahku, bahkan emas yang bisa kapan saja aku jual pada Bang Rusydi, pengumpul barang rongsokan.
# # #
            Dulu ketika ayah dan ibuku masih hidup, aku masih tinggal di desa. Daerah yang cukup jauh untuk dijajah oleh polusi udara dan suara. Aku sangat menikmati masa kecilku, sebagaimana anak-anak lain menikmatinya. Hidup dari hasil keringat ayahku dari membajak sawah Juragan Marto, bagiku cukup untuk makan kenyang. 
            Tapi khayalanku sirna ketika aku ingat api yang menyantap semua yang aku miliki. Mainanku, rumah tempat tinggalku, bahkan kedua orang tuakupun tidak lepas disantap olehnya. Mungkin saja nasibku akan sama kalau malam itu aku tidak tidur di mushola bersama Rifki teman mengajiku. Karena kebiasaanku setiap malam minggu tidur di mushola sehabis mengaji. Hanya satu kata-kata ibuku yang selalu ku kenang ”Hidup hanya sekali, jangan pernah merepotkan orang lain”.
            Beruntung Mbok Minah tetangga sebelahku yang tinggal sendirian mengajakku untuk tinggal bersamanya. Hari-hari selanjutnya aku habiskan dengan membantu Mbok di Sawah. Ya, walaupun Mbok Minah terlihat senang menerima aku, tapi aku tetap tidak mau merepotkan dia. Maka kerja apa saja yang bisa meringankan bebannya, pasti aku lakukan. Aku bahkan sudah menganggap Mbok sebagai pengganti ibuku. Dan sepertinya Mbok juga sudah menganggapku sebagai anaknya.
            Tapi hari-hari yang aku lalui bersama Mbok Minah semakin berat, biaya hidup semakin mahal. Aku merasa kasihan melihat Mbok Minah yang semakin tua dan harus terus bekerja. Maka aku memutuskan berangkat ke kota mengadu nasib. Harapanku hanya satu, meringankan beban Mbok Minah. Ternyata Mbok Minah tidak menyetujui keinginanku dan memaksa aku untuk tetap tinggal bersamanya. Menurutnya rizki itu urusan Gusti Allah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan terus memaksa akhirnya Mbok membolehkan dengan syarat aku harus memberikan kabar setiap bulan. Untuk biaya perjalananku ke kota Mbok menjual cincin emasnya, barang berharga terakhir miliknya. Aku semakin terharu melihat ketulusan hati Mbok. Tak kuasa mataku sembab karena semalaman tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir. Dalam hati aku berjanji akan membalas setiap sen kebaikan yang sudah diberikan Mbok Minah.
# # #
            Sayang kehidupan di kota tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Aku terlalu lugu untuk mengetahui kerasnya hidup di kota. Beberapa kios dan warung makanan yang aku datangi dengan harapan ada yang memerlukan tenagaku, dijawab dengan gelengan kepala. Bahkan di beberapa tempat aku diusir karena menyangka aku sebagai peminta-minta.
            Pada akhirnya aku menjadi gelandangan. Tidur di pinggir jalan. Aku pernah punya keinginan untuk kembali ke desa, tapi aku tak punya ongkos lagi. Jangankan untuk ongkos pulang, untuk makan saja sudah tidak ada lagi. Sehingga terpaksa aku mengorek tempat sampah di beberapa tempat mencari sisa makanan yang sudah dibuang. Dan aku tak kuasa untuk berfikir tentang Mbok Minah, dia pasti menunggu kabar dariku yang sudah beberapa bulan tidak ada kabarnya.
            Kemudian langkahku membawaku pada tempat ini. Tempat yang memberikanku hidup. Sekaligus tempat yang mungkin dibenci orang karena selalu mengekspor bau tak sedap. Di sinilah aku kenal dengan teman-teman. Ada sekitar dua puluh orang yang tinggal di sini. Sebagian di antaranya adalah keluarga, hanya beberapa orang yang tinggal sendirian. Aku di antaranya. Di sinilah aku sekolah yang tidak memerlukan ijasah, tempat yang memberikan pendidikan teknik cepat mengumpulkan barang rongsokan, dan memisahkan barang menurut kriteria tertentu.
            Ada harapan baru muncul setiap hari, ketika deru mobil pengangkut sampah menumpahkan sisa barang yang sudah tidak terpakai lagi. Botol-botol aqua, kardus bekas dan mungkin besi-besi tua menjadi incaran bagi para pasukan keranjang.   
            Aku sempat sedih ketika kemarin puluhan orang menghalangi mobil pengangkut sampah memasuki wilayah tempatku tinggal. TPA ini sudah penuh dan tidak menampung lagi sampah yang datang dari kota, begitu kira-kira kata-kata orang-orang yang berteriak-teriak dengan mempergunakan sebuah alat pengeras suara. Aku tidak tahu apa namanya. Dan aku tidak tahu maksud perkataannya. Yang aku tahu hanya ladang usahaku terancam.
            Akibatnya beberapa mobil pengangkut sampah tidak bisa melanjutkan kendaraannya. Bahkan dua mobil terlihat berbalik arah sebelum menurunkan sampah yang dibawanya. Beruntung masih ada tiga mobil lain yang dengan sembunyi-sembunyi menurunkan sampahnya ketika sore hari sudah menjelang dan beberapa orang yang memblokade jalan sudah kembali ke rumahnya masing-masing yang berjarak sekitar lima ratus meter.
            Hari-hari berikutnya hanya tinggal dua mobil yang masih setia mengantarkan rejeki kepada kami. Itupun hanya sampah yang diangkut dari desa tersebut dan desa sebelah. Bisa ditebak penghasilan kami semakin berkurang. Mulailah aku dan teman-teman keluar dari rumah kami menuju jalan-jalan memungut setiap barang yang masih bisa dijual.
            Sudah beberapa kali kami dikejar-kejar pasukan penjaga ketertiban kota, bagaikan hewan yang mengganggu keindahan kota. Beberapa orang yang tertangkap dibawa ke suatu tempat. Aku tidak tahu ke mana.... Beruntung aku dan kawan-kawan masih bisa kembali ke istana kardusku setiap sore menjelang, dengan membawa barang-barang yang besok hari akan aku jual pada Bang Rusydi.
            Hari itu suhu badanku tinggi. Aku tidak mampu bangkit dari ranjang kardusku. Jaket lusuh yang selalu aku pakai waktu malam hari ketika udara dingin, malam itu tidak terasa hangat lagi. Aku menggigil, harusnya aku mengigau. Tapi ah aku tidak tahu, tidak ada yang mendengarnya. Aku hanya melongok keluar ketika terlihat Darno temanku keluar rumahnya sambil membawa keranjang. Hari ini aku libur kerja, gumamku pada mentari yang mulai menampakan cahayanya.
# # #
            Udara pagi ini masih sejuk. Angin yang semilir berhembus membawa aroma khas tempat tersebut. Aroma yang menjanjikan kehidupan bagi puluhan pasukan keranjang yang kalah bersaing untuk memperebutkan aroma lain yang mungkin bagi orang tertentu cukup berkelas. Itulah aroma kemewahan. Aroma yang hanya boleh dicium dari jarak puluhan kilometer oleh pasukan keranjang.
            Suhu badanku sudah mulai normal. Aku sudah rindu pada botol-botol aqua yang mungkin menungguku di tempat sana. Aku mempersiapkan keranjang dan besi panjang yang dibengkokan pada ujungnya. Tapi ah,.... kenapa sepi sekali. Kemana orang-orang itu?
            Dari depan rumahku aku tidak melihat kehidupan di beberapa rumah kardus lain tetanggaku. Aku hanya melihat satu... bukan ah hanya dua, ya betul ada dua orang terlihat membawa keranjangnya. Aku tidak melihat Darno yang bagiku merupakan teman sejatiku dalam mencari sisa-sisa buangan orang kaya. Hampir setiap hari aku keluar bersamanya, kecuali kemarin ketika aku terpaksa tidak ”diperkenankan” untuk meninggalkan rumah kardusku.
            ”Kemarin mereka diangkut dengan kendaraan, untung kami cepat lari menyelamatkan diri,” dua orang itu berkata. Aku teringat Darno, dia pasti juga dibawa ke tempat yang tidak pernah dia kenal. Juga bagiku. Mungkinkah tempat itu lebih menjanjikan. Ah... mudah-mudahan,  aku hanya bergumam. Hari ini ingin sekali aku melihat koran. Mungkin ada wajah Darno di sana. Wajah yang mungkin tidak akan aku lihat lagi setelahnya. Tapi ah aku takut untuk pergi ........., aku tidak bisa membayangkan kalau sampai mengalami nasib yang sama dengan Darno.  
            Tempat ini menjadi sepi, sesepi perasaan hatiku kehilangan saudara dan teman bercengkrama. Tidak ada lagi Darno yang sering pergi bersamaku. Tak ada lagi Mbok Rus yang dengan cerewet sering memarahi pemulung lainnya karena rebutan botol aqua. Tidak ada lagi puluhan pasukan membawa keranjang dipundak mereka. Bukan, bukan karena penduduknya sudah tidak betah, tapi ah aku tidak tahu....
            Kenapa mencari botol aqua saja mesti digaruk, kenapa duduk di perempatan saja harus dikejar-kejar. Ah memang hidup susah ditebak. Pernah aku bertanya pada Darno beberapa minggu yang lalu ketika ada penangkapan dan pembersihan jalan-jalan dari para gelandangan, ” Apa kesalahan utama mereka sehingga mereka ditangkap?” Mungkin karena mereka miskin sehingga tidak enak dipandang, itu jawaban yang masih terngiang di benakku sampai saat ini. Memang mungkin karena kita miskin maka tak layak hidup di kota.
            Aku mendengar suara kendaraan roda empat menurunkan beban di pundaknya. Semangatku biasanya langsung terpacu untuk bersaing dengan pasukan keranjang lain. Tapi ah itu masa lalu, sekarang aku hanya sendiri.


Bandung, 03 Oktober 2006

KUCINGKU SAYANG


            “ Heri, makan dulu sini,” aku berkata sambil menenteng bungkusan makanan. ”Meong”, kucing itu mendekat dan mencium kakiku. Bagaikan sudah tahu jam makannya, Heri kucing putih yang sudah aku pelihara selama 4 bulan mendekat. Seekor ikan bandeng yang sengaja aku beli di pasar segera di tempatkan di atas piring dan diberikan pada Heri. Dengan lahap dia makan hidangan yang sudah tersedia. Setelah selesai dia menjilat-jilat kaki dan tubuhnya dengan lidahnya.
            Aku memperhatikan tingkahnya sambil posisi jongkok di depannya. ”Meong,” Heri menggelayut di kakiku, berputar dari kaki kanan ke kaki kiri. Aku sangat senang melihat perkembangannya. Teringat ketika empat bulan yang lalu ketika dia ku temukan di pinggir jalan. Sebuah mobil pick up hampir saja menabraknya. Dia sangat kotor, bulu-bulunya yang putih kelihatan berwarna kecoklatan bercampur tanah. Tubuhnya yang kurus menandakan bahwa dia tidak mempunyai tuan yang merawatnya. Insting keibuanku memaksaku untuk membawanya ke  rumah. Aku memandikannya kemudian memberinya makan.
            Aku memberinya nama Heri, bukan karena nama itu pernah berkesan tetapi nama itulah yang ada dibenakku ketika aku akan menamainya. Hari-hari yang sepi selepas pulang kantor, sekarang tidak ada lagi. Heri mampu menjadi teman curhatku. Bagaikan mengerti bahasa yang aku ungkapkan, dia seringkali diam ketika aku menceritakan sesuatu sambil wajahnya melihat ke arahku. Seperti waktu lalu ketika tiga pemuda menggodaku dan mengataiku sebagai perawan tua. Aku menangis di hadapannya. Anehnya aku merasa masalahku menjadi ringan ketika aku sudah menumpahkannya pada Heri. Aku merasa kehampaanku tanpa pendamping mulai berangsur sirna.  
# # #
            Hari ini aku pulang telat, karena ada lembur sehingga otomatis tidak sempat memberi makan siang Heri. Hal itu memang bukan tidak sengaja. Biasanya kalau ada lembur aku sering menitipkan Heri pada tetangga sebelah atau meletakan makanan dengan jumlah banyak dipiring khususnya. Kebiasaan menitipkan dia memang bukan hal yang wajar. Omongan bahwa aku orang yang aneh, sering terdengar dari beberapa mulut yang usil dengan perbuatanku. Sehingga aku mulai malas untuk menitipkan Heri pada siapapun.  
            Dengan langkah yang seakan dipaksa, aku memasuki gerbang rumah.
”Heri,.........Heri.......,” aku berteriak dari depan pintu. Tidak seperti biasanya Heri tidak langsung mendekat. Bahkan tidak berusaha muncul menjemput tuannya datang. Dengan sedikit gelisah aku masuk dengan terus mencoba memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban.
            Rasa gelisah dan rasa bersalah karena mengabaikan makan siangnya, membuatku takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Heri. Aku terus mencari di setiap sudut kamar dan di bawah kursi, tempat-tempat yang biasanya menjadi ajang bermain Heri. Tapi nihil, Heri tidak ditemukan. Aku mulai cemas, keringat dingin mulai keluar. Sudah tidak dirasakan lagi keletihan yang beberapa menit lalu menjamah kebugaranku.
            Tiba-tiba, aku mendengar suara di atas genting rumah. Suara binatang berkejaran. Cricitt....cricit, sepertinya suara tikus yang menjerit kesakitan. Mungkin dia kejepit ketika di kejar temannya, atau ada binatang lain yang lebih besar yang merampas kebebasannya. Kemudian, gedeblug... Heri muncul dengan membawa sesuatu di mulutnya yang masih bercampur darah segar. Aku kemudian berteriak dan menyumpahi Heri dengan kata-kata yang penuh caci yang tentu saja tidak akan dipahami olehnya.
            ”Dasar kucing tidak tahu diri, sudah di kasih makanan enak malah mencari binatang kotor, awas kamu akan saya hukum!” Aku masih berteriak yang mengakibatkan Heri melepaskan buruannya yang jatuh dilantai dengan percikan darah.
# # #
            Matahari masih berada di peraduannya, ketika kokok ayam sayup terdengar. Udara masih terasa dingin menyebabkan orang lebih suka merapatkan selimutnya daripada beranjak menuju tempat air.  
            Heri yang sudah tiga hari mendekam di kerangkengnya menggeliat menggerakan tubuhnya. Mungkin pegal karena sudah lama badannya tidak beraktivitas. Perbuatannya memburu dan hampir memakan tikus membuatku sangat marah dan sengaja memberinya pelajaran. Dia harus mendekam dalam penjara kucing selama seminggu. Penjara dari triplek yang dibuat persegi dengan pintu yang selalu di kunci pakai gembok yang khusus dibuat untuk membuat Heri jera dan tidak makan sembarangan.
            Sementara di kamar, tubuhku mulai menggigil, kemudian aku beranjak untuk mematikan AC, membetulkan letak selimut dan kembali merebahkan badan. Maklum hari ini Minggu, hari yang bisa khusus untuk istirahat dari seminggu aktivitas di kantor. Kalau bukan Minggu, aku pasti sudah bangun dan  bersiap berangkat kerja, soalnya jarak antara kantor dengan rumah cukup jauh. Kalau telat sedikit saja pasti terlambat, belum lagi antrian kendaraan yang padat pada jam-jam berangkat ke kantor.
# # #
            Hari Senin siang, aku sudah berada di depan rumah. Pagi tadi di kantor aku hanya mempersiapkan meeting dan membuat jadwal pertemuan dengan klien di kota lain. Aku  terkejut ketika melihat pintu rumah sudah terbuka, padahal aku sangat ingat kalau pagi sebelum berangkat sudah memastikan pintu terkunci.
            Mungkin ada pencuri masuk, begitu pikirku. Perasaanku mulai tidak enak. Rasa lelah yang ada bercampur menjadi ketakutan dan cemas. Sambil mengendap-endap aku berjalan masuk ke rumah. Tidak terdengar suara, berarti tidak ada orang dirumah. Melewati ruang tamu tidak ada hal yang mencurigakan bahkan barang-barang pun terlihat seperti sebelum ditinggalkan. Beberapa guci masih berdiri di tempatnya, tv 29 incipun tidak berpindah tempat. Sekejap ketenangan meresap dalam jiwaku. Sebelum melangkah lagi aku menarik nafas agar lebih tenang.
            Ruang tengah semuanya aku teliti dengan seksama, takut ada barang berharga yang hilang. Tapi tetap tidak ditemukan kejanggalan, tidak ada sedikitpun perobahan. Tidak ada benda yang bergeser walau sedikitpun. Semua terlihat wajar dan tidak terlihat bekas orang yang masuk.
            Tinggal kamar yang belum dicek. Aku semakin cemas. Sambil mengumpulkan keberanian, aku mengambil gunting dari laci untuk berjaga-jaga. Mungkin mereka masih ada di kamar, atau mereka mencuri barang di kamarku.
            Kaki terasa sangat berat untuk digerakan. Korden dibuka, pintu terkuak. Tidak ada kehidupan ataupun bekas kehidupan. Kamar masih rapih, bahkan selimut yang selalu aku lipat sehabis bangun tidur masih rapi di atas ranjang. Almari yang menjadi tempat menyimpan barang berharga masih terkunci rapat. Perlahan aku membukanya dan memeriksa setiap perhiasan yang tersimpan. Cincin, kalung dan beberapa perhiasan lain masih ada ditempatnya. Ah.... ternyata tidak ada apa-apa. Mungkin saja aku tidak mengunci dengan benar waktu pagi tadi, sehingga ketika ada angin sedikit saja pintu bisa terbuka.
            Sesaat aku merasakan ketenangan, bersyukur ternyata barang-barang berharga yang sudah aku kumpulkan sedikit demi sedikit masih utuh. Aku bergegas ke dapur mengambil air minum. Rasa haus yang tadi sempat terlupa, sekarang menyerang lagi. Aku sangat senang sekali, kecemasanku berangsur sirna. Aku ingin berbagi kebahagiaan, aku teringat Heri, ini hari ke empat dia disekap di kandangnya.
            ”Heri.... Heri,” aku memanggilnya sambil berjalan menuju ke kandangnya yang terkunci. Tak lupa aku mengambil kunci yang selalu tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi ternyata kunci itu tidak ada ditempatnya. Mungkin terjatuh, tapi tetap tidak ku temukan. Aku kembali gelisah. Kasihan Heri, begitu ujarku berarti kandangnya harus aku dobrak. Heri......Heri, kembali aku memanggilnya. Tapi tidak ada suara sahutan. Mungkin Heri tidur kelelahan atau bahkan merasakan lapar. Ah kasihan Heri.
            Tepat di depan kotak persegi empat tempat Heri menghabiskan hukumannya, aku terpana. Kotak itu sudah terbuka. Dan Heri tidak ada di dalamnya. Aku linglung, penglihatanku semakin kabur. Dan akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.   

# # #

H2O Au


“Kamu mau tidak jadi da’inya As-Shaffa?” pertanyaan ini sangat mengagetkanku. Bukannya karena aku tidak bisa berdakwah, itukan makanan keseharianku. Tapi diutus untuk menjadi da’i di wilayah yang sama sekali belum aku ketahui, hmmm… kayaknya harus pikir-pikir lagi!
“Selama Ramadlan kan libur, paling kamu pulang kampung,”  pertanyaan kali ini semakin memojokanku. Aku tahu menolak berdakwah itu berdosa, coz setiap orang wajib berdakwah, aku ingat salah satu Hadis Nabi ‘sampaikan apa yang datang dariku walaupun hanya satu ayat’. Orang yang hanya hafal satu ayat saja wajib berdakwah apalagi aku santri Ma’had Al-Irsyad Salatiga, yang sudah beberapa kali membaca bulughul maram, fathul majid, dan beberapa kitab lain.
Kali ini aku ga mungkin bisa mengelak, begitu pikirku. Aku ga tahu apakah ini sebuah rezeki karena aku dapat amanah baru. Ataukah mimpi buruk, karena otomatis jadwal liburku terpangkas selama sebulan.
Sepertinya Ustadz Imran bisa membaca kegalauanku. Makanya beliau memberikan kesempatan bagiku untuk berfikir. Ustadz Imran adalah pengurus Yayasan As-Saffa yang selalu rutin mengirimkan da’i ke setiap lokasi yang dianggap ‘rawan’, khususnya pada Bulan Ramadlan.
Aku masih diam membisu, pikiranku berkecamuk. Aku sudah rindu kampung halaman. Ayah ibuku pasti senang menyambut buah hatinya pulang. Bayangkan sudah satu tahun aku tidak pulang, berarti setahun juga aku tidak bertemu dengan ibuku. Aku rindu goreng mendoan* buatan ibuku. Bagiku tidak ada makanan paling enak selain mendoan, apalagi dimakan ketika masih hangat. Hmmmm… perutku jadi keroncongan.
“Begini saja, saya yakin kamu di kampung juga berdakwah, tapi kalau kamu menjadi da’inya As-Shafa, selain dapat amal shaleh, teman baru, dan kamu juga akan dapat honor lho,” Ustadz Imran tahu aja kelemahanku. Aku jadi tersenyum malu. Hee…boleh juga pikirku, itung-itung nambah jatah THR-ku. 
# # #
Sebetulnya hari itu aku rencana mau pulang kampung ke Cilacap. Pakaian ganti selama sebulan sudah aku siapkan di tas besarku. Malah beberapa kitab ‘kuning’ (karena sudah lecek) tak terlewatkan. Tapi aku ingat pesan ibuku kalau aku mau pulang mampir sebentar satu atau dua hari ke Yogya menengok mbahku. Pasti beliau sangat senang sekali melihat salah seorang cucunya berkunjung. Aku jadi ingat pertanyaan khasnya kalau aku datang, ‘sopo iki? 
Betul sekali, mbahku sangat senang melihat aku datang. ‘Sesajen’pun disiapkan. Ayam goreng tambah gudeg khas yogya dan goreng krupuk emping. Lengkaplah sudah, dan tentu saja aku tidak berniat menyia-nyiakan semua yang sudah terhidang. Aku takut mbahku tersinggung kalau makanannya tidak aku habiskan, he…he..padahal lapar.  
Satu haripun berlalu, dan aku harus segera meninggalkan singgasana mbahku. Langsung pulang…..?
Ntar dulu deh, aku mau ke Yayasan As-Shaffa minta beberapa buku gratisan. Lumayan untuk nambah koleksi pustaka pribadiku. Kan bukan hanya aku yang membaca, beberapa anggota keluargaku bahkan tetanggaku sering meminjam bukuku. Sialnya kalau lagi hari baik, buku yang dipinjam kembali dengan utuh. Kalau lagi apes, datang dengan kondisi sudah rusakpun lumayan. Bahkan beberapa bukuku hilang ketika dipinjam.
Di sinilah aku harus mendesain ulang rencana liburan ramadlanku, setelah bertemu Ustadz Imran.
# # #
“Kamu saya utus ke Banyumas,” Ustadz Imran memberikan keterangan ketika aku sudah tak kuasa menolak beliau. Sempat aku bertanya kenapa harus aku yang menjadi da’i, yang dijawabnya dengan santai ‘Kalau kamu mau kenapa cari yang lain’. Sebelum aku menyatakan siap, aku mengajukan syarat tiga hari sebelum lebaran aku boleh pulang, yang diamini oleh beliau. So, deal-lah kesepakatan.
“Di sana kamu akan bertemu dengan Pak Rusydi, pengurus Mesjid At-Taqwa,” Ustadz Imran menambahkan. Kemudian aku diberikan rute dan kendaraan yang harus aku tumpangi.
“Kapan aku harus berangkat?” aku mencoba bertanya. Aku mulai mempelajari karakter Ustadz yang satu ini. Karena otomatis kalau aku jadi ‘ajudan’nya, aku akan selalu banyak berhubungan dengannya. Apalagi kalau ternyata ada problem di lokasi dakwah, dan itu yang tidak aku harapkan.
Sepertinya orangnya easy going, begitu perkiraanku. Di sini aku menemukan persamaan tipe denganku yang tidak terlalu suka dengan urusan yang formil. Sampai penugasan akupun untuk menjadi da’i tidak dilengkapi surat pengantar dari Yayasan.
“Lebih cepat lebih bagus,” Ustadz Imran menjawab. “Kira-kira kapan kamu siap diterjunkan,” aku tersenyum mendengar kata-katanya. Emangnya terjun payung.
“Besok tanggal satu Ramadlan, gimana kalau sekarang kamu berangkat, biar tidak kesorean,” Ustadz Imran memberi usul. Menurutnya jarak tempuh ke lokasi dari Yogya sekitar empat jam. Sedangkan sekarang jam sebelas lewat lima menit, berarti sampai lokasi sekitar jam tiga.
Aku pikir boleh juga. Kalau berangkat besok sudah puasa. Sedangkan bepergian jauh, ketika berpuasa pasti melelahkan. Akupun mengiyakan dan berpamitan kepada Ustadz Imran dan beberapa staff yang lain.
“Nanti aku kontak Pak Rusydi, kamu tenang saja, kamu tinggal datang ke rumahnya dan bilang bahwa kamu utusan Ustadz Imran dari Yayasan As-Shoffa,” beliau menambahkan sambil menjabat erat tanganku.
Sebelum aku pergi, Ustadz Imran memberikan beberapa lembar kertas bergambar mantan Presiden Soeharto, aku hitung ada sepuluh. He…he.. aku bukan matre lho.
# # #
“Bagaimana perjalannya Fauzi,” Pak Rusydi menyambutku dengan ramah, bagaikan menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang sudah lama merantau. Aku senang sekali ditanya langsung memakai namaku, berarti Ustadz Imran sudah meneleponnya dan menjelaskan siapa aku sebenarnya.
“Alhamdulillah menyenangkan,” aku menjawab dengan muka berseri. Bukan hanya karena sudah menemukan tempat tinggal Pak Rusydi, tetapi juga keramahan yang sangat tulus terpancar dari wajahnya. Ternyata mencari rumah di desa sangat mudah. Asal tahu nama, semua orang tahu rumahnya. Itulah pengalamanku ketika menanyakan rumah Pak Rusydi di sebuah warung nasi.
Pak Rusydi tinggal bersama istri dan satu anak lelaki yang sebaya umurnya denganku. Beliau mengajar di SMP Negeri tak jauh dari rumahnya. Sedangkan istrinya adalah ibu rumah tangga biasa. Andi, nama anaknya droup out dari IPB, belum tahu persis sebabnya. Dan itu bukan persoalan penting bagiku.
“Kamu pasti lelah, sekarang minum dulu airnya mumpung masih hangat,” Pak Rusydi mempersilahkan aku minum teh manis yang baru saja di sediakan oleh istrinya. Sambil minum teh manis dan makan Goreng Ubi, Pak Rusydi menceritakan perjalan hidupnya sampai bisa tinggal di Banyumas.
“Sebetulnya saya asli Pekalongan, kebetulan diangkat PNS di desa ini, sekaligus mendapatkan istri orang sini juga, jadi saya tinggal disini.”
Yang menarik saya adalah cerita beliau tentang adanya sebuah gua yang terletak di bukit desa sebelah yang sering dipakai untuk prosesi ibadah agama tertentu. Kalau tidak salah namanya Gua Maria.
Sayang sekali mulutku tidak mau kompromi sehingga aku menguap sampai beberapa kali. Secara otomatis ‘dongeng’ hari ini selesai, dan aku didaulat masuk kamar untuk istirahat.
# # #
Malam ini tarawih pertama. Aku agak kikuk ketika berangkat ke masjid. Aku takut jumlah rakaat shalatku berbeda dengan masyarakat di sini. Kenapa tadi di rumah aku tidak mencari info  terlebih dahulu pada Pak Rusydi, aku mengumpat sendiri dalam hati. Untungnya aku tidak disuruh menjadi imam. Tidak kebayang kalau aku menjadi imam shalat dan ternyata aku melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh masyarakat, bisa-bisa saat itu juga aku dipulangkan karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.
Masyarakat umum biasanya memandang masalah fikih adalah nomor satu. Perbedaan di dalamnya bagaikan perbedaan aqidah. Maka aku harus sangat hati-hati untuk urusan ini.
Seperti ramadlan sebelumnya, sehabis shalat tarawih ada ceramah singkat yang sering disebut kultum. Pak Rusydi yang kebetulan menjadi imam tarawih langsung mempersilahkan aku untuk menjadi pembuka kultum di ramadlan ini. Dengan gaya kyai senior, aku mengawali kultum dengan muqadimah yang sangat lengkap. Aku menjelaskan tentang puasa dan hal-hal yang sunah untuk dilakukan. Surat Albaqarah ayat 183 tak lupa menjadi referensi utama.
Usai ceramah aku dikelilingi oleh bapak-bapak yang ingin sekedar berkenalan dan bertanya sesuatu. Suasana kekeluargaan seperti inilah yang slalu ku rindukan. Suasana yang jauh dari sifat individualistis. Ketika ada orang baru, apalagi da’i seperti aku, disambutnya dengan sangat terbuka.
Perbincangan berlanjut pada aktivitas yang biasanya dilakukan dalam rangka meramaikan Masjid At-Taqwa. Seorang jamaah menjawab dengan sedikit keluhan bahwa aktivitasnya sangat kurang. Beliau menginginkan adanya pengajian Bapak-bapak, pengajian Ibu-ibu dan pengajian umum. Selama ini yang ada hanya pengajian anak-anak sore hari yang diajar oleh Kanti.
Topik yang terakhir ini membuatku sangat tertarik untuk mengoreknya.
“Siapa Kanti, Pak,” aku mencoba bertanya.
“Dia anaknya Pak Rustam, masih SMA kelas tiga, tapi semangatnya luar biasa,” salah satu jamaah memberikan penjelasan.
“Kalau dia tidak ada otomatis anak-anakpun libur mengaji, soalnya tidak ada pengganti,” jamaah yang lain menambahkan.
Aku mengambil nafas tertahan menyayangkan hal ini. Ternyata masih ada daerah yang sangat memerlukan guru ngaji. 
Malam semakin larut, satu dua orang jamah sudah lebih dahulu pamit pulang.
# # #
Matahari masih menyisakan panasnya sore ini. Aku sengaja pergi ke Masjid untuk melihat anak-anak mengaji, sekalian aku ingin berkenalan dengan gurunya. Siapa ya….. aku coba mengingat-ingat. Kanti…, ya itulah namanya. Akhirnya aku ingat juga, maklum seringkali aku tidak terlalu menghapal nama, apalagi nama perempuan. Takut mengotori hati, cie…..
Alif, Ba…, dari luar sayup-sayup terdengar suara anak-anak mengaji. Dan beberapa kali pengulangan karena pengucapan kata-katanya kurang fasih. Ada sekitar dua puluh anak laki-laki dan perempuan yang ikut mengaji. Dan memang benar ternyata hanya seorang guru yang mengajar.
‘Shadaqallahul Adziem’, suara anak-anak serempak mengakhiri belajar Qurannya.
“Assalamu ‘Alaikum,” aku mencoba mendekati Kanti dengan tetap menjaga jarak. Dia bukan muhrimku, batinku berkata.
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh, eh mas Fauzi” Kanti menjawab salamku dengan lengkap. Sambil membereskan beberapa buku iqra ke tempatnya, dia mengucapkan terimakasih kepadaku yang sudah mau mengajar di kampungnya. Aku sangat tersanjung dengan ucapannya, apalagi yang mengucapkan akhw…eh maksudnya cewek.
Saat itulah aku berusaha mencari informasi untuk program dakwahku. Kanti sepertinya sangat senang sekali, dan bisa berbagi peran dalam berdakwah denganku.
“Di sini ada juga LSM yang bergerak dalam bidang anak, tapi kurang tahu namanya, aktivitas mereka biasanya hari minggu,” Kanti menjelaskan dengan semangat. Menurut dia kegiatan LSM itu diantaranya menggambar, membaca dan beberapa kali rekreasi keluar.
“Berarti di samping anak-anak mendapatkan ilmu agama, mereka juga dapat ilmu lain ya,” aku salut juga ada LSM yang sampai ke desa untuk mengajar anak-anak.
# # #
Seperti biasa sehabis shalat shubuh aku melakukan olah raga sebentar. Lari pagi selama setengah jam agar jantungku sehat.
Suasana sangat sepi, hanya beberapa ibu-ibu yang terlihat membawa sayuran. Mungkin mau dijual ke pasar, pikirku.
Di kejauhan aku melihat kerumunan anak-anak dengan pakaian sudah rapi. Mungkin mereka akan rekreasi, atau lari pagi? Tak sabar akhirnya aku mendekat ke kerumunan mereka. Ternyata anak-anak itu mengelilingi seorang anak muda yang memakai kaos warna hijau kuning. Ada tulisan LSM pemerhati anak. Oh berarti ini yang sering mengajari anak-anak. Beruntung sekali aku bertemu dengan mereka. Ingin sekali rasanya bertukar pikiran dan berbagi pengalaman selama mendampingi anak. Langkahku semakin mendekat ke kerumunan anak-anak. Beberapa anak terlihat tertawa riang, seperti sedang mendapatkan hadiah. Bahkan beberapa anak laki-laki berebut mengambil sesuatu yang ada di tangan seorang anak muda itu. Aku tersenyum dengan tingkah mereka. Ketika jarakku dengan mereka sudah tidak bersekat, hatiku kelu, mulutku tak mampu bersuara, ternyata mereka memang sedang membagikan sesuatu. Permen….!!
# # #
Hari Minggu besok anak-anak akan diajak rekreasi oleh mas-mas dari LSM, Mas Fauzi bisa ikut mendampingi ga? Maaf bukan Kanti Suudzon, tapi Kanti curiga dengan LSM itu.
Sebuah surat tertanda Kanti H2O Au, singgah ke tanganku melalui perantara Agus adik bungsunya. Sudah beberapa kali dia menulis sesuatu kalau ada hal penting dan mendesak. Dan di akhir tulisannya pasti tertulis H2O Au. Waktu pertama kali melihat tanda itu wajahku mengerut mencari makna dari tanda itu. Aku tahu itu nama senyawa, tapi apa maksudnya. H2O artinya air, sedangkan Au adalah emas. Air emas, …. Apa maksudnya? Air itukan sinonimnya banyu jadi Banyu-emas, eh…..Banyumas. Akhirnya aku dapat membaca teka teki itu.
Surat tersebut mengingatkan aku ketika salah seorang pengurus LSM tersebut membagikan permen. Mungkin firasat Kanti benar, aku ingin tahu aktivitas mereka di luar.
Tepat jam 7 pagi Hari Minggu, aku sudah mandi dan bersiap untuk pergi. Aku mengajak Andi anaknya Pak Rusydi untuk ikut dalam ‘misi’ ini. Kebetulan aku ga terlalu pandai mengendarai sepeda motor, so… Andilah yang jadi ojeknya.
Bus mini yang membawa rombongan anak-anak bergerak ke arah selatan, ke daerah Buntu*, meninggalkan segudang tanya yang ada di benakku. Dan dengan setia akupun mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak. Aku tidak mau aksiku membuntuti mereka diketahui. Ternyata rombongan mengarah ke Pantai Widara Payung. Sebuah pantai yang masih tergolong sepi dan cukup aman untuk membawa anak-anak untuk berenang. Hmmm, …… ternyata kecurigaanku tidak terbukti. Akupun merasa sedikit bersalah karena sudah mencurigai mereka.
Kurang lebih satu jam anak-anak dan tiga pengurus LSM tersebut berpesta air. Aku tersadar ketika mobil mulai bergerak kembali ke arah selatan, jalan pulang. Maafkan aku teman, aku sudah mencurigai kalian, bisikku dalam hati dan mohon ampun kalau sudah menodai amaliah puasaku.
Bus mini melaju dengan kencang diselingi dengan suara-suara mungil terdengar oleh telingaku. Ah senangnya jadi anak-anak !!!
Desa yang dituju sudah terlewat, tetapi ternyata bus tetap berjalan pelan. Mungkin masih ada wisata yang lain, begitu ujarku pada Andi di depanku.
Bus berbelok melewati jalan kecil tak beraspal, dan kemudian berhenti ketika jalannya  tidak cukup dilewati mobil. Anak-anak keluar berhamburan diikuti tiga pengurus LSM itu. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak, sambil menyenandungkan lagu-lagu dan yel-yel penggugah semangat. Beberapa ilalang tumbuh di sepanjang jalan itu. Mungkin ada acara out bond, pengenalan alam pada anak-anak. Memang pendidikan alam seharusnya diberikan pada anak-anak. Agar mereka merasa memiliki alam dan bisa menjaganya.
Akhirnya sampailah pada sebuah dataran yang cukup luas. Mereka semua berhenti berjalan. Jantungku berdetak kencang…..
Di depanku terlihat sebuah gua. Dan tepat di atas pintu gua ada sebuah tanda yang sangat jelas terlihat dari jarak lima belas meter, tempat aku bersembunyi. Palang kayu yang sudah cukup tua tapi masih terlihat kuat. SALIB !!!!    
# # #
Mendoan         : Tempe pakai tepung terigu yang digoreng setengah matang
Buntu              : Nama sebuah daerah


SAHUR BARENG


            “Heeh…… pengumuman, minggu depan kita sahur bareng!!” Nety si cewek tomboy asistennya sang kosma (ketua kelasnya mahasiswa) memberikan sebuah informasi penting hasil sidang darurat yang dihadiri pemerintahan kelas dan genk of C-4 ( Cewek centil caem dan culas), Nety, Nita, Rita dan Sinta. Walaupun semuanya berjilbab, itupun tak lebih hanya karena kewajiban di kampus. Dan bisa ditebak, tentu saja cara berjilbabnya yang tetap ngetat alias transparan. Biar berjilbab yang penting gaul, begitu semboyan mereka.
            “Ga salah tuh, bukan buka puasa bareng!” seorang anak cowok mencoba klarifikasi.
            “Buka puasa bareng dah basi, sekarang kita buat trend baru sahur bareng!” Nety ngotot dengan info yang dibawanya. Menurutnya kalau sahur bersama berarti juga buka puasa bersama. Tapi kalau cuma buka puasa bersama belum tentu sahur bersama.
Kelasku, termasuk kelas yang paling solid. Kalau ada kegiatan semua wajib ikut, bahkan kalau perlu yang sedang sakit dirumahsakitpun diminta cuti sementara. Sereeem ….!
            Terkadang aku yang agak gerah melihat tingkah mereka. Solid sih ok, kan Rosulullah juga selalu menanamkan kekeluargaan. Tapi kan solid tidak hanya dinilai dari kehadiran ketika acara bareng thok, apalagi kalau acaranya ga syar’i! Terkadang aku harus bolos acara kelas kalau memang ternyata ada kegiatan yang lebih penting. Seperti dua minggu kemarin ketika teman-teman mengadakan wisata ke Pangandaran. Aku terpaksa absent karena harus mengisi halaqah tarbiyah. Dan bisa ditebak, aku menjadi bulan-bulanan teman-teman.
            “Susah ya jadi ustadz, terlalu banyak umat, “ geli juga aku mendengar teman-teman mengatakan itu.
# # # #
            Siang hari sangat terik. Matahari membiarkan panasnya membakar kulit yang sengaja menantang kuasanya di siang hari. Di kamar kost, aku merebahkan badan pada kasur kapuk yang sudah sangat lapuk. Walaupun hampir setiap minggu sekali aku tak pernah absent membiarkannya menghirup panas matahari, tetap saja tak banyak berpengaruh. Tapi dia sangat berjasa menemani setiap malamku untuk menggapai gelar sarjana agama. Sebuah gelar yang sangat didambakan oleh keluargaku di kampung.
            “Kalau kamu sudah sarjana, maka pesantren Babussaadah ini biar kamu yang mengelola,” begitu perkataan ayahku.
Bayanganku kembali pada 2 jam yang lalu, ketika suara cemprengnya Nety menggedor gendang telingaku. Buka bersama yang dilanjutkan dengan sahur bersama yang diikuti tiga puluh orang laki-laki dan perempuan. Oh …..my God, berarti harus nginep bareng dong !!
            Aku menyangka acara ini pasti dipenuhi dengan hal-hal yang berbau maksiat. Aku memutar otak, mencari celah untuk menyelamatkan diri dari acara sialan ini.
            Bukankah puasa dilakukan untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Memperbanyak dzikir, iktikaf di masjid, bersedeqah, membaca quran dan seabreg kegiatan amaliah ramadlan lainnya. Kadang aku merasa bahwa teman-temanku terlalu ‘kreatif’ membikin acara. Sampai acara yang ga mungkinpun jadi mungkin untuk dilakukan. Ngomong ke ketua bahwa aku ga bisa ikut acara tersebut percuma, jawabannya sudah bisa ditebak ‘kepentingan pribadi tidak boleh menghalangi kepentingan kelompok’.
Kebayang kalau aku sampai ikut acara itu, tidur bersama campur aduk antara ikhw eh… laki-laki dengan akhw…eh perempuan. Pasti seru ceritanya, wajahku bisa nampang menjadi top of the month-nya mading. Kemudian aku diwawancara koran suara kampus sebagai anak lembaga dakwah yang liberal.
#  # #
            Pagi itu cuaca cerah. Matahari mengintip dari balik dedaunan yang tumbuh dihalaman rumah Pak Ali, tempat aku kost. Aku bergegas menyiapkan peralatan mandi. Sebagai anak kost, semboyan fastabiqul khairat, berlomba-lomba mandi duluan sudah menjadi budaya. Terlambat sedikit maka harus rela mengantri selama satu jam menunggu giliran. Tentu saja aku sudah sangat berpengalaman dalam masalah ini. Sehingga aku berusaha membiasakan untuk mandi pagi-pagi sekali, minimalnya setelah shalat shubuh dan qiraatul quran.
            Sebetulnya hari ini aku agak malas ke kampus. Aku tidak mau ketemu dengan makhluk yang bernama Nety dan C-4 nya. Kemarin iuran untuk acara sahur bareng sudah dimulai. Semua personel kelas ditodong satu persatu untuk menyerahkan uang lima puluh ribu. Sebagai anak kost, uang segitu bukanlah sedikit. Perlu waktu beberapa minggu bahkan sampai sebulan untuk mengumpulkan uang segitu banyaknya. Terpaksa aku minta tempo untuk membayarnya. Dan ternyata masih ada sepuluh orang lagi yang mengalami nasib sepertiku.
            “Ok, tapi besok hari terakhir pengumpulan iuran!” Nety mengatakan itu kemarin didepan kelas yang diikuti suara riuh teman-teman yang lagi bokek. Dia memang bertugas menarik iuran dan kemudian menyerahkannya pada Bela sang bendum.
            Ternyata hari inipun aku belum punya uang. Semalam aku berusaha mencari pinjaman kepada Andi, teman sekamarku. Ternyata dia lebih parah dariku, weselnya macet sudah tiga bulan yang lalu.
            Perasaan males untuk mengikuti acara tersebut, tidak menghalangi aku untuk tetap membayar iuran, walau harus membobol sisa kas di atmku atau bahkan ngutang. Terpaksa hari ini aku harus pinjam lagi sama Pak Ali yang sudah aku anggap sebagai bapakku.
# # #
            “Aku mau ikut acara sahur bareng kalau acaranya di tempatku, dan aku yang mendesainnya,” akhirnya aku ngomong juga ke sang ketua kelas. Aku mencoba mencari jalan tengah diantara keinginan teman-temanku yang tetap ngotot dengan acara sahur barengnya. Aku ingin menjadi bagian dari mereka, komunitas kelas yang sangat heterogen.  Ada Nety si tomboy girl, Lisa si kutu buku, Armand si vokalis band kampus, sampai akupun kecipratan gelar si ustadz.
            Mungkin aku bisa saja menghindar dari acara itu. Bisa saja aku pura-pura pulang kampung karena ada acara keluarga. Adikku di sunat, atau kakekku nikah lagi (ga mungkin ya…). Tapi ada yang mengganjalku, aktivitasku di Lembaga Dakwah memaksa aku untuk berbuat sesuatu. Ya, aku ga mungkin membiarkan teman-teman menodai ibadah puasanya dengan aktivitas yang menurutku konyol. Aku harus berbuat sesuatu. Sehingga lahirlah ide melaksanakan acara itu di rumahku. Tepatnya di rumah bibiku yang memang jarang ditempati. Alhamdulillah sang ketua menanggapi dengan positif dan menyarankan membawa masalah itu ke dewan kelas, minggu depan.
# # #
            “Aku ga setuju banget, akukan sudah nyiapin acaranya di puncak, ya ga coy…!” Nety ngotot tidak mau menerima usulku. Cara bicaranya yang bak orator memberi api semangat pada tiga anggota C-4 yang lain untuk menganggukan kepala.
            “Mungkin lebih baik kalau aku melaporkan hasil pemasukan keuangan, totalnya ada satu juta lima ratus ribu rupiah. Anggaran yang dibutuhkan untuk berangkat ke puncak sekitar satu juta tujuh ratusan. Itu termasuk biaya transportasi sewa bus, buka puasa dan sahur bersama. Sedangkan kalau di rumah si ustadz kita bisa menekan dari transportasi,” Bela menjelaskan dengan panjang lebar. 
            “ Bendum sudah disogok sama si ustadz tuh, jadi kelihatan sekali pro dia,” Nety dan C-4 masih mencoba mempertahankan argument mereka. Menurutnya acara itu bisa menjadi ajang merekatkan persaudaraan kita, sekaligus ajang refreshing dari kuliah.
            “Ok, semua sudah jelas, kalau teman-teman ikhlas menambah iuran kita, acara di puncak its ok….., tapi kalau tidak mau…….berarti kita tidak mungkin bisa menolak usul si Ustadz,” Sang Ketum mulai mengarahkan pembicaraannya pada usulku. Alhamdulillah aku bersyukur, tidak sia-sia kemarin aku habis-habisan menerangkan tentang pergaulan islami antara laki-laki dan perempuan.
            Sudah bisa ditebak, teman-teman bukannya tidak mau pergi ke puncak, mereka hanya tidak mau nambah biaya lagi. So… acara jadilah di rumahku.
# # #
            Hari ini udara sangat cerah. Awan biru berjalan beriringan ditemani suara nyaring burung gereja di atap rumahku. Sementara di dalam rumah, aku mempersiapkan semuanya, menyambut tamu-tamu istimewaku. Sore hari nanti mereka akan datang. Aku sudah mendesain semua kegiatan sehati-hati mungkin. Aku tidak akan membiarkan waktu luang sedikitpun untuk terjadinya khalwat. Lantai satu untuk anak cowok dan lantai dua untuk anak cewek. Pertemuan hanya dilakukan di lantai satu ketika buka bersama yang dilanjutkan dengan shalat jamaah tarawih kemudian kultum. Pertemuan kedua ketika akan melaksanakan sahur yang kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh bersama.
            Aku sangat paham bahwa apa yang aku lakukan sangat beresiko. Bukan hanya sebatas fitnah, bisa jadi aku dijauhi aktivis dakwah yang lain. Tapi aku juga paham bahwa berdakwah memerlukan tahapan. Tuhan, ampuni hambamu yang lemah ini. Hanya ini yang bisa hamba lakukan, hamba hanya berharap apa yang hamba lakukan adalah bagian dari dakwah menghindarkan teman-teman dari kemungkinan terjerumus pada aktivitas yang terlarang. Aku sering berfikir, terkadang kita disibukan dengan dakwah kepada orang yang sangat jauh dari kita, sedangkan teman di dekat kita tidak pernah tersentuh. 
            Suara jam dinding berdetak berirama, melantunkan nada-nada gelisah yang masih setia menemaniku. Aku membiarkan lamunanku mengembara, mencoba merangkai tahap-tahap dakwah yang mungkin bisa aku lakukan selanjutnya.




NAMAKU AZRIL


            Hari masih pagi, ketika dari kejauhan aku melihat seorang ibu datang bersama seorang anak kecil yang masih berumur sekitar 4 tahun.
            ”Assalamu ’alaikum Bu Hera,” sapa ibu tersebut sambil membuka pintu pagar yang terbuat dari potongan bambu.
            ”Wa ’alaikum salam, eh Bu Marta, tumben pagi-pagi ada masalah yang sangat penting kelihatannya,” jawabku sambil mempersilahkan untuk masuk.
            ”Begini bu,” Bu Marta memulai obrolannya. Dia berhenti sebentar seperti sedang mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Sepertinya dia masih ragu dengan keinginannya untuk menyekolahkan anaknya di TK yang diajar olehku. Maklum batas waktu pendaftaran sebetulnya sudah lewat dua hari. “Saya mau memasukan anak saya Azril di TK Barokah, masih bolehkan bu?” keluar juga akhirnya kata-kata dari Bu Marta.
            Sementara di luar pagar, Azril sedang asyik dengan permainan barunya. Ada cicak sedang menempel di pagar bambu. Dengan berjingkat kaki Azril berusaha mendekat ke tempat Cicak berada. Tangannya diangkat siap untuk menangkap hewan kecil itu. Seakan mengajak Azril bermain, cicak itu berjalan dengan santainya. Berpindah-pindah dari potongan bambu ke potongan yang lain. Dan bagai dihipnotis, Azrilpun mengikuti dengan harapan bisa menangkap binatang itu hidup-hidup.
            “Ternyata kamu di sini, ayo salam dulu sama Bu Guru,” tiba-tiba Bu Marta sudah berada di dekatnya dan mengajak Azril menemui Bu Hera.
            “Gara-gara Ibu, Cicak itu pergi,” Azril mengerutu. Wajahnya cemberut marah bagaikan kehilangan coklat vanila dari negeri seberang.
            ”Kasihan, cicak itukan juga mau hidup, kita harus sayang sama binatang,” aku turut serta berkomentar melihat adegan ibu dan anak tersebut. Lucu juga anak itu ketika marah. Rambutnya yang tebal dan hitam, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih membuat aku terpana pada sosok mungil dihadapanku.
            Dengan muka masih menunduk yang menunjukan bahwa dia belum menerima kehilangan harta yang menurutnya sangat berharga, dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku. Dengan senyum gembira, akupun langsung  menyambutnya.
            Itulah awal perkenalanku dengan Azril. Seorang anak kecil yang lucu dan manis.
# # #
            Sekarang tanggal 16 Juli, berarti besok aku sudah mulai mengajar lagi di TK Barokah. Kerinduanku untuk bertemu dengan anak-anak sudah mencapai stadium empat, setelah libur selama sebulan. Dalam penerimaan siswa baru kemarin, tercatat ada tiga puluh anak yang mendaftar, sepuluh diantaranya anak perempuan.
            Aku menerawang ke masa lalu. Ternyata tak terasa sudah tiga tahun aku mengabdi di sini. Dulu setelah tamat kuliah aku nyaris dihantui dilema sebagai pengangguran. Banyak cemoohan menerpaku, baik dari keluarga juga masyarakat sekitar. Bahkan yang sangat menyakitkan adalah perkataan ayahku yang seakan menyalahkan aku ketika dulu tidak mengindahkan beliau untuk tidak usah masuk kuliah. Perempuan nantinya juga akan jadi pelayan suami, kuliah hanya buang-buang uang, begitu katanya. Tapi aku tidak mendendam dan ingin menunjukan pada semua orang bahwa perempuanpun bisa berkarya.
            Tahun 2003 dengan bantuan seorang teman aku mendirikan TK Barokah. Niatanku hanya ingin memajukan pendidikan di kampung. Aku ingin cara pandang masyarakat tentang pendidikan berubah, itu ambisi yang selalu menyiram aku dengan air semangat ketika kelesuan datang. Pendidikan sebagai bekal masa depan. Pendidikan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
            Tiga tahun tak terasa sudah terlewati. Ternyata walaupun aku bukan alumni sekolah yang khusus mencetak guru TK, aku bisa enjoy. Aku sudah merasa its my life. Dunia yang membuat aku merasa tetap awet muda. Pantas saja karena gaulnya dengan anak TK.
            Besok aku akan bertemu dengan Siska putrinya Bu Arman yang masih cadel ketika berbicara, Widi anak tukang bakso sebelah, Sholeh anak tunggal pak Haji, dan beberapa anak lain yang aku lupa namanya. Tapi ntar dulu, aku ingat sesuatu. Azril !!!
            Kembali aku di datangi sosok mungil tapi lincah, yang menurut ibunya sangat nakal. Anak kecil yang nakal itu biasa bu, namanya juga anak. Itulah proses pencarian. Keberadaannya ingin dihargai. Dia selalu ingin mencari perhatian dari orang dewasa. Sehingga kadang-kadang perbuatannya di luar perkiraan kita. Aku berusaha menjelaskan dengan panjang lebar tentang perilaku anak kepada Bu Marta ketika kemarin datang bersama Azril. 
# # #
            Jam 07.30 aku sudah berada di sekolah. Hari pertama semuanya harus sempurna, begitu pikirku. He....eh, koq Wati belum datang, padahal kemarin sudah aku bilang untuk datang lebih awal dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin sedang di jalan maklum kan rumahnya agak jauh dan ga ada transportasi alias harus pake ’jurus di kejar anjing’ biar cepat nyampe, aku berusaha menghibur diri. Sejak ada Wati pekerjaan mengajarku sangat terbantu. Terbayang ketika setahun pertama mengajar sendirian, capeknya minta ampun. Belum lagi kalau ada anak yang kencing di kelas.
            Walaupun semua peralatan yang ada dikelas sangat sederhana, karena produk yang ada seharusnya sudah harus dipensiunkan, tetapi aku memutar otak agar anak merasa senang dan tidak bosan ketika berada di kelas.
            Dengan gaya seorang desainer interior kawakan, aku mengotak atik letak barang-barang utama di kelas. Kursi belajar yang tadinya mengarah ke papan tulis, aku buat menjadi 4 kelompok lingkaran, jadi masing-masing lingkaran ada yang berjumlah 7 dan 8 kursi. Letak papan tulis yang berada di sebelah kanan kelas menghadap ke arah barat, aku buat menghadap ke selatan.
            Sementara cukup dululah untuk urusan interior.
            ”Assalau ’alaikum Bu Guru,” Wati datang dengan nafas masih ngos-ngosan.
            ”Waalaikum salam, wah kamu sangat beruntung Wat, semuanya sudah beres, tugasmu tinggal mijitin punggungku, he....he” jawabku dengan santai. Sengaja aku sering mengajak Wati bercanda biar dia tidak terlalu sungkan. Seperti biasa Wati hanya tersenyum sambil menyadari keterlambatannya.
            Sepuluh menit lagi jam sekolah dimulai. Semua sudah ku persiapkan, hari ini tidak ada belajar, hanya sebuah prosesi perkenalan. Ini adalah kebiasaan setiap hari pertama masuk sekolah, agar anak-anak saling mengenal teman-temannya.
            Dari kejauhan terlihat pasukan hijauku mulai berdatangan. Sebagian masih diantar oleh orang tuanya. Ada semangat yang meniup ke jiwaku melihat makhluk-makhluk mungil dengan ceria menuju ke sekolahnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan semangat mereka, aku berjanji dalam hati.
            ”Jangan berlari Azril, ” Bu Marta berlari-lari kecil mencoba mengejar Azril yang sudah mendahuluinya.
            Akhirnya sebelum bel berbunyi semua anak sudah datang.
# # #
            ”Sekarang waktunya istirahat, semua boleh bermain di luar !” aku mengakhiri belajar menggunting dan menempel. Dengan riang anak-anak berhamburan ke luar. Beberapa anak terlihat membuka bekal yang dipersiapkan dari rumah.
            Seperti biasa dengan bantuan Wati aku membersihkan kertas-kertas berserakan, bekas lem yang banyak menempel di lantai.
            Baru selesai aku minum, Wati berteriak memanggilku. Ada anak yang menangis katanya. Setelah ku dekati ternyata makanan Siska di rebut sama Azril.
            ” Kemarin Bu Guru bilang apa kalau kita ingin sesuatu,” walaupun sedikit kesal aku berusaha mengajak Azril berdialog. Aku tidak ingin menyalahkannya sebelum tahu duduk permasalahannnya.
            ”Tadi Azril sudah minta tapi cuma dikasih sedikit, jadi Azril rebut aja semua, Azril kan ga salah Bu Guru,” dia masih membela diri.
            ”Justru merebut milik orang lain itu ga boleh, sekarang Azril minta maaf yaa, ” Aku berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan ke Siska aku berusaha mengajarinya sifat kedermawanan Rosulullah yang rela memberikan pakaiannya ketika ada yang memuji.
            Aku harus lebih sering memberikan contoh-contoh kedermawanan para sahabat, begitu batinku bicara menanggapi kejadian yang baru saja terjadi.
# # #
            Semakin hari ternyata kenakalan Azril semakin menjadi. Sepertinya kesabaranku betul-betul sedang diuji.
            Sudah hampir semua anak perempuan terkena getah kenakalannya. Rini yang ditarik kepang kembarnya dari belakang.  Eli yang sepatunya disembunyikan di bawah ayunan. Riska yang mengaku dipukul ketika tidak mau memberikan jatah kuenya. Sampai ’ajudanku’ Watipun tak luput dari kejahilan anak didiku itu.
            Ceritanya ketika jam istirahat sudah habis, anak-anak kembali ke kelas. Secara diam-diam Azril memasukan bangkong ke dalam salah satu sepatu wati. Kejadian ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali ketika jam pulang sudah lewat. Wati terkejut bukan main ketika mendapati ada binatang aneh di dalam sepatunya. Seperti tidak sadar dia menjerit dengan keras yang mengagetkanku.
            Aku menduga bahwa ini kerjaannya Azril. Aku teringat ketika habis jam istirahat dia terlambat masuk ke kelas. Kata Shaleh yang terkenal pendiam, Azril tadi pergi ke pematang sawah sendirian. Dan ketika masuk ada percikan lumpur di celananya. Tak salah lagi, pasti dia yang melakukannya. Hari ini juga aku harus ke rumahnya sekalian untuk silaturahmi.
            Sampai di depan rumahnya yang mungil, aku menghirup nafas sebentar dan mencoba menenangkan perasaanku.
            ”Assalamu ’Alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara kaki mendekat ke arah pintu.
            ” Waalaikum salam, eh Bu Guru, silahkan masuk,” Bu Marta mempersilahkan aku untuk masuk.
            Setelah menanyakan kabar tentang keluarga dan menanyakan kondisi rumah, aku menjelaskan maksud kedatangannya.
            ”Maaf Bu Marta, kalau penyampaian saya tadi menyinggung perasaan ibu,” aku berusaha menjelaskan dengan detil dan sangat hati-hati. Aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu terulang. Ketika aku menjelaskan tentang kenakalan seorang anak di kelas kepada seorang ibu, di sikapi dengan tidak memperbolehkan anak untuk sekolah lagi.
            ”Tidak apa-apa bu, saya benar-benar minta maaf,” Bu Marta berkata dengan mata berkaca-kaca. ”Saya sendiripun sudah sangat kewalahan menghadapi kenakalan Azril di rumah, sekali lagi saya minta maaf,” dia melanjutkan.
            Setelah dirasa cukup dan tidak ada solusi akupun berpamitan pulang.
            Cacing diperutku sudah minta jatah. Waktunya menjalankan nasehat dokter dengan empat sehat lima sempurnanya.
# # #
            Aku sudah kewalahan menangani Azril. Ada saja tingkah yang membuat ubun-ubunku naik. Dalam keputus-asaanku sempat terlintas pikiran nakal, ’alangkah enak duniaku tanpa kehadirannya’. Namun pikiran gilaku langsung aku buang jauh-jauh. Aku ingat amanahku sebagai seorang guru TK. Sia-sia pekerjaanku membangun pendidikan ini dari awal kalau hanya dikalahkan oleh manusia kecil ini saja. Aku berusaha memompa semangat mengajarku.
            Tapi aku tidak bisa menutupi kesenanganku ketika satu hari Azril tidak masuk kelas. Aku tidak berusaha mencari informasi ke mana-mana.
            Aku merasa tenang mengajar. Semua persiapan yang sudah ku buat semalam bisa ku ajarkan dengan baik. Lain cerita ketika ada Azril di sana. Energiku seringkali terporsir hanya untuk menghadapi tingkahnya.
            Demikian juga anak-anak, tidak ada lagi cerita ada anak menangis karena dipukul, diambil kuenya, ataupun hanya sekedar diejek. Semua berjalan dengan tenang. Sepertinya anak-anak lainpun sangat menikmati ’peristiwa yang jarang terjadi’ ini. 
            Dua hari berlalu tanpa kehadiran Azril tidak mengganggu keasyikanku mengajar. Hanya sedikit tanya di batinku ’kemana Azril’. Pasti pindah sekolah, demikian pikirku. Atau tidak bolah sekolah lagi sama orang tuanya ya? Ah biarin, paling nanti juga masuk lagi kalau dia sudah agak lebih baik.
            Kesadaranku sebagai guru terusik ketika sudah seminggu tidak ada kabar tentang Azril. Aku merasakan kehilangan. Kehilangan semua kenakalannya yang sering membuatku lebih bersikap dewasa. Tak pernah lagi kudengar ada kejadian aneh yang terjadi. Aku semakin gelisah ketika Wati bilang rumahnya sepi. Kebetulan kemarin Wati lewat depan rumahnya, dan sepertinya rumahnya terkunci.
            Jangan-jangan, ............. ah aku ga mau menduga yang bukan-bukan.
            Aku harus mencari tahu!!
# # #
            Pulang sekolah sengaja aku berniat silaturahmi ke tempat Azril. Walaupun tidak ketemu manusia kecil itu, mudah-mudahan ada orang tuanya. Ataupun sekedar kabar tentang keberadaannya.
            Ternyata perkataan Wati benar. Rumahnya terkunci, berarti tidak ada penghuni satupun dirumah ini, begitu pikirku. Kalau begitu, mereka pergi kemana? Dalam keherananku, aku mendengar sebuah suara di belakangku.
            ”Bu Marta dan semua keluarga ada di rumah sakit.” Ternyata suara Pak RT  yang sudah sangat ku kenal.
            ”Siapa yang sakit?” aku bertanya dengan gelisah.
            ”Azril sakit gangguan pencernaan, tadi saya baru pulang menengoknya, sebetulnya sakitnya sudah agak lama tapi karena keterbatasan dana hal itu dibiarkan saja,” Pak RT menjelaskan. 
            Terbayang olehku keadaan ekonomi keluarga Bapak Marta yang hanya mengandalkan dari upah sebagai buruh di kebun.
            Aku merasa sangat bersalah karena tidak mencari tahu tentang ketidakhadirannya. Kalau saja sejak pertama tidak masuk sekolah aku langsung ke rumahnya mungkin ceritanya tidak seperti ini. Kepalaku terasa berat, tetes bening mengalir dari dua kelopak mataku.
            Maafkan aku Tuhan, karena sudah menyia-nyiakan dia. Aku merindukan dia, berilah dia kesembuhan. Allohumma isyfi antasyaafi laa syifaa a  illa syifaa  uka syifaaan laa yughodiru saqoma. Yaa Alloh berilah dia kesembuhan, Engkau zat yang menyembuhkan, kesembuhan yang tidak memberikan sakit lagi. Aamien.
Sore ini juga aku harus ke rumah sakit.

# # #