Jumat, 22 April 2016

Istana Kardus


            Aku menatap pada tumpukan kardus di depanku. Mungkin sekitar satu setengah meter tingginya. Kalau aku jual mungkin bisa laku sepuluh ribuan. Lumayan, untuk menambal perutku yang sudah dua hari tidak bertemu nasi. Berarti ada dua kali kesempatan berkunjung ke warteg sederhana miliknya Mbok Ipah yang terletak di pojok jalan. Dengan menu nasi, sayur sop yang banyak airnya dengan tahu dan tempe sebagai menu istimewaku.
            Aku sudah tidak ingat lagi berapa tahun aku menggantungkan hidup pada kardus. Bagiku dialah harta paling mahal yang bisa aku kumpulkan. Bisa jadi aku akan stress kalau sehari saja tidak bertemu dengan hartaku itu, atau mungkin aku akan mati kedinginan. Dialah keramikku, genteng rumahku, tembok rumahku, bahkan emas yang bisa kapan saja aku jual pada Bang Rusydi, pengumpul barang rongsokan.
# # #
            Dulu ketika ayah dan ibuku masih hidup, aku masih tinggal di desa. Daerah yang cukup jauh untuk dijajah oleh polusi udara dan suara. Aku sangat menikmati masa kecilku, sebagaimana anak-anak lain menikmatinya. Hidup dari hasil keringat ayahku dari membajak sawah Juragan Marto, bagiku cukup untuk makan kenyang. 
            Tapi khayalanku sirna ketika aku ingat api yang menyantap semua yang aku miliki. Mainanku, rumah tempat tinggalku, bahkan kedua orang tuakupun tidak lepas disantap olehnya. Mungkin saja nasibku akan sama kalau malam itu aku tidak tidur di mushola bersama Rifki teman mengajiku. Karena kebiasaanku setiap malam minggu tidur di mushola sehabis mengaji. Hanya satu kata-kata ibuku yang selalu ku kenang ”Hidup hanya sekali, jangan pernah merepotkan orang lain”.
            Beruntung Mbok Minah tetangga sebelahku yang tinggal sendirian mengajakku untuk tinggal bersamanya. Hari-hari selanjutnya aku habiskan dengan membantu Mbok di Sawah. Ya, walaupun Mbok Minah terlihat senang menerima aku, tapi aku tetap tidak mau merepotkan dia. Maka kerja apa saja yang bisa meringankan bebannya, pasti aku lakukan. Aku bahkan sudah menganggap Mbok sebagai pengganti ibuku. Dan sepertinya Mbok juga sudah menganggapku sebagai anaknya.
            Tapi hari-hari yang aku lalui bersama Mbok Minah semakin berat, biaya hidup semakin mahal. Aku merasa kasihan melihat Mbok Minah yang semakin tua dan harus terus bekerja. Maka aku memutuskan berangkat ke kota mengadu nasib. Harapanku hanya satu, meringankan beban Mbok Minah. Ternyata Mbok Minah tidak menyetujui keinginanku dan memaksa aku untuk tetap tinggal bersamanya. Menurutnya rizki itu urusan Gusti Allah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan terus memaksa akhirnya Mbok membolehkan dengan syarat aku harus memberikan kabar setiap bulan. Untuk biaya perjalananku ke kota Mbok menjual cincin emasnya, barang berharga terakhir miliknya. Aku semakin terharu melihat ketulusan hati Mbok. Tak kuasa mataku sembab karena semalaman tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir. Dalam hati aku berjanji akan membalas setiap sen kebaikan yang sudah diberikan Mbok Minah.
# # #
            Sayang kehidupan di kota tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Aku terlalu lugu untuk mengetahui kerasnya hidup di kota. Beberapa kios dan warung makanan yang aku datangi dengan harapan ada yang memerlukan tenagaku, dijawab dengan gelengan kepala. Bahkan di beberapa tempat aku diusir karena menyangka aku sebagai peminta-minta.
            Pada akhirnya aku menjadi gelandangan. Tidur di pinggir jalan. Aku pernah punya keinginan untuk kembali ke desa, tapi aku tak punya ongkos lagi. Jangankan untuk ongkos pulang, untuk makan saja sudah tidak ada lagi. Sehingga terpaksa aku mengorek tempat sampah di beberapa tempat mencari sisa makanan yang sudah dibuang. Dan aku tak kuasa untuk berfikir tentang Mbok Minah, dia pasti menunggu kabar dariku yang sudah beberapa bulan tidak ada kabarnya.
            Kemudian langkahku membawaku pada tempat ini. Tempat yang memberikanku hidup. Sekaligus tempat yang mungkin dibenci orang karena selalu mengekspor bau tak sedap. Di sinilah aku kenal dengan teman-teman. Ada sekitar dua puluh orang yang tinggal di sini. Sebagian di antaranya adalah keluarga, hanya beberapa orang yang tinggal sendirian. Aku di antaranya. Di sinilah aku sekolah yang tidak memerlukan ijasah, tempat yang memberikan pendidikan teknik cepat mengumpulkan barang rongsokan, dan memisahkan barang menurut kriteria tertentu.
            Ada harapan baru muncul setiap hari, ketika deru mobil pengangkut sampah menumpahkan sisa barang yang sudah tidak terpakai lagi. Botol-botol aqua, kardus bekas dan mungkin besi-besi tua menjadi incaran bagi para pasukan keranjang.   
            Aku sempat sedih ketika kemarin puluhan orang menghalangi mobil pengangkut sampah memasuki wilayah tempatku tinggal. TPA ini sudah penuh dan tidak menampung lagi sampah yang datang dari kota, begitu kira-kira kata-kata orang-orang yang berteriak-teriak dengan mempergunakan sebuah alat pengeras suara. Aku tidak tahu apa namanya. Dan aku tidak tahu maksud perkataannya. Yang aku tahu hanya ladang usahaku terancam.
            Akibatnya beberapa mobil pengangkut sampah tidak bisa melanjutkan kendaraannya. Bahkan dua mobil terlihat berbalik arah sebelum menurunkan sampah yang dibawanya. Beruntung masih ada tiga mobil lain yang dengan sembunyi-sembunyi menurunkan sampahnya ketika sore hari sudah menjelang dan beberapa orang yang memblokade jalan sudah kembali ke rumahnya masing-masing yang berjarak sekitar lima ratus meter.
            Hari-hari berikutnya hanya tinggal dua mobil yang masih setia mengantarkan rejeki kepada kami. Itupun hanya sampah yang diangkut dari desa tersebut dan desa sebelah. Bisa ditebak penghasilan kami semakin berkurang. Mulailah aku dan teman-teman keluar dari rumah kami menuju jalan-jalan memungut setiap barang yang masih bisa dijual.
            Sudah beberapa kali kami dikejar-kejar pasukan penjaga ketertiban kota, bagaikan hewan yang mengganggu keindahan kota. Beberapa orang yang tertangkap dibawa ke suatu tempat. Aku tidak tahu ke mana.... Beruntung aku dan kawan-kawan masih bisa kembali ke istana kardusku setiap sore menjelang, dengan membawa barang-barang yang besok hari akan aku jual pada Bang Rusydi.
            Hari itu suhu badanku tinggi. Aku tidak mampu bangkit dari ranjang kardusku. Jaket lusuh yang selalu aku pakai waktu malam hari ketika udara dingin, malam itu tidak terasa hangat lagi. Aku menggigil, harusnya aku mengigau. Tapi ah aku tidak tahu, tidak ada yang mendengarnya. Aku hanya melongok keluar ketika terlihat Darno temanku keluar rumahnya sambil membawa keranjang. Hari ini aku libur kerja, gumamku pada mentari yang mulai menampakan cahayanya.
# # #
            Udara pagi ini masih sejuk. Angin yang semilir berhembus membawa aroma khas tempat tersebut. Aroma yang menjanjikan kehidupan bagi puluhan pasukan keranjang yang kalah bersaing untuk memperebutkan aroma lain yang mungkin bagi orang tertentu cukup berkelas. Itulah aroma kemewahan. Aroma yang hanya boleh dicium dari jarak puluhan kilometer oleh pasukan keranjang.
            Suhu badanku sudah mulai normal. Aku sudah rindu pada botol-botol aqua yang mungkin menungguku di tempat sana. Aku mempersiapkan keranjang dan besi panjang yang dibengkokan pada ujungnya. Tapi ah,.... kenapa sepi sekali. Kemana orang-orang itu?
            Dari depan rumahku aku tidak melihat kehidupan di beberapa rumah kardus lain tetanggaku. Aku hanya melihat satu... bukan ah hanya dua, ya betul ada dua orang terlihat membawa keranjangnya. Aku tidak melihat Darno yang bagiku merupakan teman sejatiku dalam mencari sisa-sisa buangan orang kaya. Hampir setiap hari aku keluar bersamanya, kecuali kemarin ketika aku terpaksa tidak ”diperkenankan” untuk meninggalkan rumah kardusku.
            ”Kemarin mereka diangkut dengan kendaraan, untung kami cepat lari menyelamatkan diri,” dua orang itu berkata. Aku teringat Darno, dia pasti juga dibawa ke tempat yang tidak pernah dia kenal. Juga bagiku. Mungkinkah tempat itu lebih menjanjikan. Ah... mudah-mudahan,  aku hanya bergumam. Hari ini ingin sekali aku melihat koran. Mungkin ada wajah Darno di sana. Wajah yang mungkin tidak akan aku lihat lagi setelahnya. Tapi ah aku takut untuk pergi ........., aku tidak bisa membayangkan kalau sampai mengalami nasib yang sama dengan Darno.  
            Tempat ini menjadi sepi, sesepi perasaan hatiku kehilangan saudara dan teman bercengkrama. Tidak ada lagi Darno yang sering pergi bersamaku. Tak ada lagi Mbok Rus yang dengan cerewet sering memarahi pemulung lainnya karena rebutan botol aqua. Tidak ada lagi puluhan pasukan membawa keranjang dipundak mereka. Bukan, bukan karena penduduknya sudah tidak betah, tapi ah aku tidak tahu....
            Kenapa mencari botol aqua saja mesti digaruk, kenapa duduk di perempatan saja harus dikejar-kejar. Ah memang hidup susah ditebak. Pernah aku bertanya pada Darno beberapa minggu yang lalu ketika ada penangkapan dan pembersihan jalan-jalan dari para gelandangan, ” Apa kesalahan utama mereka sehingga mereka ditangkap?” Mungkin karena mereka miskin sehingga tidak enak dipandang, itu jawaban yang masih terngiang di benakku sampai saat ini. Memang mungkin karena kita miskin maka tak layak hidup di kota.
            Aku mendengar suara kendaraan roda empat menurunkan beban di pundaknya. Semangatku biasanya langsung terpacu untuk bersaing dengan pasukan keranjang lain. Tapi ah itu masa lalu, sekarang aku hanya sendiri.


Bandung, 03 Oktober 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar