Aku menatap pada tumpukan
kardus di depanku. Mungkin sekitar satu setengah meter tingginya. Kalau aku
jual mungkin bisa laku sepuluh ribuan. Lumayan, untuk menambal perutku yang
sudah dua hari tidak bertemu nasi. Berarti ada dua kali kesempatan berkunjung
ke warteg sederhana miliknya Mbok Ipah yang terletak di pojok jalan. Dengan
menu nasi, sayur sop yang banyak airnya dengan tahu dan tempe sebagai menu
istimewaku.
Aku sudah tidak ingat lagi
berapa tahun aku menggantungkan hidup pada kardus. Bagiku dialah harta paling
mahal yang bisa aku kumpulkan. Bisa jadi aku akan stress kalau sehari saja
tidak bertemu dengan hartaku itu, atau mungkin aku akan mati kedinginan. Dialah
keramikku, genteng rumahku, tembok rumahku, bahkan emas yang bisa kapan saja
aku jual pada Bang Rusydi, pengumpul barang rongsokan.
# # #
Dulu ketika ayah dan ibuku
masih hidup, aku masih tinggal di desa. Daerah yang cukup jauh untuk dijajah
oleh polusi udara dan suara. Aku sangat menikmati masa kecilku, sebagaimana
anak-anak lain menikmatinya. Hidup dari hasil keringat ayahku dari membajak
sawah Juragan Marto, bagiku cukup untuk makan kenyang.
Tapi khayalanku sirna
ketika aku ingat api yang menyantap semua yang aku miliki. Mainanku, rumah
tempat tinggalku, bahkan kedua orang tuakupun tidak lepas disantap olehnya.
Mungkin saja nasibku akan sama kalau malam itu aku tidak tidur di mushola
bersama Rifki teman mengajiku. Karena kebiasaanku setiap malam minggu tidur di
mushola sehabis mengaji. Hanya satu kata-kata ibuku yang selalu ku kenang
”Hidup hanya sekali, jangan pernah merepotkan orang lain”.
Beruntung Mbok Minah
tetangga sebelahku yang tinggal sendirian mengajakku untuk tinggal bersamanya.
Hari-hari selanjutnya aku habiskan dengan membantu Mbok di Sawah. Ya, walaupun
Mbok Minah terlihat senang menerima aku, tapi aku tetap tidak mau merepotkan
dia. Maka kerja apa saja yang bisa meringankan bebannya, pasti aku lakukan. Aku
bahkan sudah menganggap Mbok sebagai pengganti ibuku. Dan sepertinya Mbok juga
sudah menganggapku sebagai anaknya.
Tapi hari-hari yang aku
lalui bersama Mbok Minah semakin berat, biaya hidup semakin mahal. Aku merasa
kasihan melihat Mbok Minah yang semakin tua dan harus terus bekerja. Maka aku
memutuskan berangkat ke kota mengadu nasib. Harapanku hanya satu, meringankan
beban Mbok Minah. Ternyata Mbok Minah tidak menyetujui keinginanku dan memaksa
aku untuk tetap tinggal bersamanya. Menurutnya rizki itu urusan Gusti Allah,
kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan terus memaksa akhirnya Mbok
membolehkan dengan syarat aku harus memberikan kabar setiap bulan. Untuk biaya
perjalananku ke kota Mbok menjual cincin emasnya, barang berharga terakhir
miliknya. Aku semakin terharu melihat ketulusan hati Mbok. Tak kuasa mataku
sembab karena semalaman tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir.
Dalam hati aku berjanji akan membalas setiap sen kebaikan yang sudah diberikan
Mbok Minah.
# # #
Sayang kehidupan di kota
tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Aku terlalu lugu untuk mengetahui
kerasnya hidup di kota. Beberapa kios dan warung makanan yang aku datangi
dengan harapan ada yang memerlukan tenagaku, dijawab dengan gelengan kepala.
Bahkan di beberapa tempat aku diusir karena menyangka aku sebagai
peminta-minta.
Pada akhirnya aku menjadi
gelandangan. Tidur di pinggir jalan. Aku pernah punya keinginan untuk kembali
ke desa, tapi aku tak punya ongkos lagi. Jangankan untuk ongkos pulang, untuk
makan saja sudah tidak ada lagi. Sehingga terpaksa aku mengorek tempat sampah
di beberapa tempat mencari sisa makanan yang sudah dibuang. Dan aku tak kuasa
untuk berfikir tentang Mbok Minah, dia pasti menunggu kabar dariku yang sudah
beberapa bulan tidak ada kabarnya.
Kemudian langkahku
membawaku pada tempat ini. Tempat yang memberikanku hidup. Sekaligus tempat
yang mungkin dibenci orang karena selalu mengekspor bau tak sedap. Di sinilah
aku kenal dengan teman-teman. Ada sekitar dua puluh orang yang tinggal di sini.
Sebagian di antaranya adalah keluarga, hanya beberapa orang yang tinggal sendirian.
Aku di antaranya. Di sinilah aku sekolah yang tidak memerlukan ijasah, tempat
yang memberikan pendidikan teknik cepat mengumpulkan barang rongsokan, dan
memisahkan barang menurut kriteria tertentu.
Ada harapan baru muncul
setiap hari, ketika deru mobil pengangkut sampah menumpahkan sisa barang yang
sudah tidak terpakai lagi. Botol-botol aqua, kardus bekas dan mungkin besi-besi
tua menjadi incaran bagi para pasukan keranjang.
Aku sempat sedih ketika
kemarin puluhan orang menghalangi mobil pengangkut sampah memasuki wilayah
tempatku tinggal. TPA ini sudah penuh dan tidak menampung lagi sampah yang
datang dari kota, begitu kira-kira kata-kata orang-orang yang berteriak-teriak
dengan mempergunakan sebuah alat pengeras suara. Aku tidak tahu apa namanya.
Dan aku tidak tahu maksud perkataannya. Yang aku tahu hanya ladang usahaku
terancam.
Akibatnya beberapa mobil
pengangkut sampah tidak bisa melanjutkan kendaraannya. Bahkan dua mobil
terlihat berbalik arah sebelum menurunkan sampah yang dibawanya. Beruntung
masih ada tiga mobil lain yang dengan sembunyi-sembunyi menurunkan sampahnya
ketika sore hari sudah menjelang dan beberapa orang yang memblokade jalan sudah
kembali ke rumahnya masing-masing yang berjarak sekitar lima ratus meter.
Hari-hari berikutnya hanya
tinggal dua mobil yang masih setia mengantarkan rejeki kepada kami. Itupun
hanya sampah yang diangkut dari desa tersebut dan desa sebelah. Bisa ditebak
penghasilan kami semakin berkurang. Mulailah aku dan teman-teman keluar dari
rumah kami menuju jalan-jalan memungut setiap barang yang masih bisa dijual.
Sudah beberapa kali kami
dikejar-kejar pasukan penjaga ketertiban kota, bagaikan hewan yang mengganggu
keindahan kota. Beberapa orang yang tertangkap dibawa ke suatu tempat. Aku
tidak tahu ke mana.... Beruntung aku dan kawan-kawan masih bisa kembali ke
istana kardusku setiap sore menjelang, dengan membawa barang-barang yang besok
hari akan aku jual pada Bang Rusydi.
Hari itu suhu badanku
tinggi. Aku tidak mampu bangkit dari ranjang kardusku. Jaket lusuh yang selalu
aku pakai waktu malam hari ketika udara dingin, malam itu tidak terasa hangat
lagi. Aku menggigil, harusnya aku mengigau. Tapi ah aku tidak tahu, tidak ada
yang mendengarnya. Aku hanya melongok keluar ketika terlihat Darno temanku keluar
rumahnya sambil membawa keranjang. Hari ini aku libur kerja, gumamku pada
mentari yang mulai menampakan cahayanya.
# # #
Udara pagi ini masih
sejuk. Angin yang semilir berhembus membawa aroma khas tempat tersebut. Aroma
yang menjanjikan kehidupan bagi puluhan pasukan keranjang yang kalah bersaing
untuk memperebutkan aroma lain yang mungkin bagi orang tertentu cukup berkelas.
Itulah aroma kemewahan. Aroma yang hanya boleh dicium dari jarak puluhan
kilometer oleh pasukan keranjang.
Suhu badanku sudah mulai
normal. Aku sudah rindu pada botol-botol aqua yang mungkin menungguku di tempat
sana. Aku mempersiapkan keranjang dan besi panjang yang dibengkokan pada
ujungnya. Tapi ah,.... kenapa sepi sekali. Kemana orang-orang itu?
Dari depan rumahku aku
tidak melihat kehidupan di beberapa rumah kardus lain tetanggaku. Aku hanya
melihat satu... bukan ah hanya dua, ya betul ada dua orang terlihat membawa
keranjangnya. Aku tidak melihat Darno yang bagiku merupakan teman sejatiku
dalam mencari sisa-sisa buangan orang kaya. Hampir setiap hari aku keluar
bersamanya, kecuali kemarin ketika aku terpaksa tidak ”diperkenankan” untuk
meninggalkan rumah kardusku.
”Kemarin mereka diangkut
dengan kendaraan, untung kami cepat lari menyelamatkan diri,” dua orang itu
berkata. Aku teringat Darno, dia pasti juga dibawa ke tempat yang tidak pernah
dia kenal. Juga bagiku. Mungkinkah tempat itu lebih menjanjikan. Ah...
mudah-mudahan, aku hanya bergumam. Hari
ini ingin sekali aku melihat koran. Mungkin ada wajah Darno di sana. Wajah yang
mungkin tidak akan aku lihat lagi setelahnya. Tapi ah aku takut untuk pergi
........., aku tidak bisa membayangkan kalau sampai mengalami nasib yang sama
dengan Darno.
Tempat ini menjadi sepi,
sesepi perasaan hatiku kehilangan saudara dan teman bercengkrama. Tidak ada
lagi Darno yang sering pergi bersamaku. Tak ada lagi Mbok Rus yang dengan
cerewet sering memarahi pemulung lainnya karena rebutan botol aqua. Tidak ada
lagi puluhan pasukan membawa keranjang dipundak mereka. Bukan, bukan karena penduduknya
sudah tidak betah, tapi ah aku tidak tahu....
Kenapa mencari botol aqua
saja mesti digaruk, kenapa duduk di perempatan saja harus dikejar-kejar. Ah
memang hidup susah ditebak. Pernah aku bertanya pada Darno beberapa minggu yang
lalu ketika ada penangkapan dan pembersihan jalan-jalan dari para gelandangan,
” Apa kesalahan utama mereka sehingga mereka ditangkap?” Mungkin karena mereka
miskin sehingga tidak enak dipandang, itu jawaban yang masih terngiang di
benakku sampai saat ini. Memang mungkin karena kita miskin maka tak layak hidup
di kota.
Aku mendengar suara
kendaraan roda empat menurunkan beban di pundaknya. Semangatku biasanya
langsung terpacu untuk bersaing dengan pasukan keranjang lain. Tapi ah itu masa
lalu, sekarang aku hanya sendiri.
Bandung, 03 Oktober 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar