Jumat, 22 April 2016

NAMAKU AZRIL


            Hari masih pagi, ketika dari kejauhan aku melihat seorang ibu datang bersama seorang anak kecil yang masih berumur sekitar 4 tahun.
            ”Assalamu ’alaikum Bu Hera,” sapa ibu tersebut sambil membuka pintu pagar yang terbuat dari potongan bambu.
            ”Wa ’alaikum salam, eh Bu Marta, tumben pagi-pagi ada masalah yang sangat penting kelihatannya,” jawabku sambil mempersilahkan untuk masuk.
            ”Begini bu,” Bu Marta memulai obrolannya. Dia berhenti sebentar seperti sedang mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Sepertinya dia masih ragu dengan keinginannya untuk menyekolahkan anaknya di TK yang diajar olehku. Maklum batas waktu pendaftaran sebetulnya sudah lewat dua hari. “Saya mau memasukan anak saya Azril di TK Barokah, masih bolehkan bu?” keluar juga akhirnya kata-kata dari Bu Marta.
            Sementara di luar pagar, Azril sedang asyik dengan permainan barunya. Ada cicak sedang menempel di pagar bambu. Dengan berjingkat kaki Azril berusaha mendekat ke tempat Cicak berada. Tangannya diangkat siap untuk menangkap hewan kecil itu. Seakan mengajak Azril bermain, cicak itu berjalan dengan santainya. Berpindah-pindah dari potongan bambu ke potongan yang lain. Dan bagai dihipnotis, Azrilpun mengikuti dengan harapan bisa menangkap binatang itu hidup-hidup.
            “Ternyata kamu di sini, ayo salam dulu sama Bu Guru,” tiba-tiba Bu Marta sudah berada di dekatnya dan mengajak Azril menemui Bu Hera.
            “Gara-gara Ibu, Cicak itu pergi,” Azril mengerutu. Wajahnya cemberut marah bagaikan kehilangan coklat vanila dari negeri seberang.
            ”Kasihan, cicak itukan juga mau hidup, kita harus sayang sama binatang,” aku turut serta berkomentar melihat adegan ibu dan anak tersebut. Lucu juga anak itu ketika marah. Rambutnya yang tebal dan hitam, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih membuat aku terpana pada sosok mungil dihadapanku.
            Dengan muka masih menunduk yang menunjukan bahwa dia belum menerima kehilangan harta yang menurutnya sangat berharga, dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku. Dengan senyum gembira, akupun langsung  menyambutnya.
            Itulah awal perkenalanku dengan Azril. Seorang anak kecil yang lucu dan manis.
# # #
            Sekarang tanggal 16 Juli, berarti besok aku sudah mulai mengajar lagi di TK Barokah. Kerinduanku untuk bertemu dengan anak-anak sudah mencapai stadium empat, setelah libur selama sebulan. Dalam penerimaan siswa baru kemarin, tercatat ada tiga puluh anak yang mendaftar, sepuluh diantaranya anak perempuan.
            Aku menerawang ke masa lalu. Ternyata tak terasa sudah tiga tahun aku mengabdi di sini. Dulu setelah tamat kuliah aku nyaris dihantui dilema sebagai pengangguran. Banyak cemoohan menerpaku, baik dari keluarga juga masyarakat sekitar. Bahkan yang sangat menyakitkan adalah perkataan ayahku yang seakan menyalahkan aku ketika dulu tidak mengindahkan beliau untuk tidak usah masuk kuliah. Perempuan nantinya juga akan jadi pelayan suami, kuliah hanya buang-buang uang, begitu katanya. Tapi aku tidak mendendam dan ingin menunjukan pada semua orang bahwa perempuanpun bisa berkarya.
            Tahun 2003 dengan bantuan seorang teman aku mendirikan TK Barokah. Niatanku hanya ingin memajukan pendidikan di kampung. Aku ingin cara pandang masyarakat tentang pendidikan berubah, itu ambisi yang selalu menyiram aku dengan air semangat ketika kelesuan datang. Pendidikan sebagai bekal masa depan. Pendidikan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
            Tiga tahun tak terasa sudah terlewati. Ternyata walaupun aku bukan alumni sekolah yang khusus mencetak guru TK, aku bisa enjoy. Aku sudah merasa its my life. Dunia yang membuat aku merasa tetap awet muda. Pantas saja karena gaulnya dengan anak TK.
            Besok aku akan bertemu dengan Siska putrinya Bu Arman yang masih cadel ketika berbicara, Widi anak tukang bakso sebelah, Sholeh anak tunggal pak Haji, dan beberapa anak lain yang aku lupa namanya. Tapi ntar dulu, aku ingat sesuatu. Azril !!!
            Kembali aku di datangi sosok mungil tapi lincah, yang menurut ibunya sangat nakal. Anak kecil yang nakal itu biasa bu, namanya juga anak. Itulah proses pencarian. Keberadaannya ingin dihargai. Dia selalu ingin mencari perhatian dari orang dewasa. Sehingga kadang-kadang perbuatannya di luar perkiraan kita. Aku berusaha menjelaskan dengan panjang lebar tentang perilaku anak kepada Bu Marta ketika kemarin datang bersama Azril. 
# # #
            Jam 07.30 aku sudah berada di sekolah. Hari pertama semuanya harus sempurna, begitu pikirku. He....eh, koq Wati belum datang, padahal kemarin sudah aku bilang untuk datang lebih awal dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin sedang di jalan maklum kan rumahnya agak jauh dan ga ada transportasi alias harus pake ’jurus di kejar anjing’ biar cepat nyampe, aku berusaha menghibur diri. Sejak ada Wati pekerjaan mengajarku sangat terbantu. Terbayang ketika setahun pertama mengajar sendirian, capeknya minta ampun. Belum lagi kalau ada anak yang kencing di kelas.
            Walaupun semua peralatan yang ada dikelas sangat sederhana, karena produk yang ada seharusnya sudah harus dipensiunkan, tetapi aku memutar otak agar anak merasa senang dan tidak bosan ketika berada di kelas.
            Dengan gaya seorang desainer interior kawakan, aku mengotak atik letak barang-barang utama di kelas. Kursi belajar yang tadinya mengarah ke papan tulis, aku buat menjadi 4 kelompok lingkaran, jadi masing-masing lingkaran ada yang berjumlah 7 dan 8 kursi. Letak papan tulis yang berada di sebelah kanan kelas menghadap ke arah barat, aku buat menghadap ke selatan.
            Sementara cukup dululah untuk urusan interior.
            ”Assalau ’alaikum Bu Guru,” Wati datang dengan nafas masih ngos-ngosan.
            ”Waalaikum salam, wah kamu sangat beruntung Wat, semuanya sudah beres, tugasmu tinggal mijitin punggungku, he....he” jawabku dengan santai. Sengaja aku sering mengajak Wati bercanda biar dia tidak terlalu sungkan. Seperti biasa Wati hanya tersenyum sambil menyadari keterlambatannya.
            Sepuluh menit lagi jam sekolah dimulai. Semua sudah ku persiapkan, hari ini tidak ada belajar, hanya sebuah prosesi perkenalan. Ini adalah kebiasaan setiap hari pertama masuk sekolah, agar anak-anak saling mengenal teman-temannya.
            Dari kejauhan terlihat pasukan hijauku mulai berdatangan. Sebagian masih diantar oleh orang tuanya. Ada semangat yang meniup ke jiwaku melihat makhluk-makhluk mungil dengan ceria menuju ke sekolahnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan semangat mereka, aku berjanji dalam hati.
            ”Jangan berlari Azril, ” Bu Marta berlari-lari kecil mencoba mengejar Azril yang sudah mendahuluinya.
            Akhirnya sebelum bel berbunyi semua anak sudah datang.
# # #
            ”Sekarang waktunya istirahat, semua boleh bermain di luar !” aku mengakhiri belajar menggunting dan menempel. Dengan riang anak-anak berhamburan ke luar. Beberapa anak terlihat membuka bekal yang dipersiapkan dari rumah.
            Seperti biasa dengan bantuan Wati aku membersihkan kertas-kertas berserakan, bekas lem yang banyak menempel di lantai.
            Baru selesai aku minum, Wati berteriak memanggilku. Ada anak yang menangis katanya. Setelah ku dekati ternyata makanan Siska di rebut sama Azril.
            ” Kemarin Bu Guru bilang apa kalau kita ingin sesuatu,” walaupun sedikit kesal aku berusaha mengajak Azril berdialog. Aku tidak ingin menyalahkannya sebelum tahu duduk permasalahannnya.
            ”Tadi Azril sudah minta tapi cuma dikasih sedikit, jadi Azril rebut aja semua, Azril kan ga salah Bu Guru,” dia masih membela diri.
            ”Justru merebut milik orang lain itu ga boleh, sekarang Azril minta maaf yaa, ” Aku berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan ke Siska aku berusaha mengajarinya sifat kedermawanan Rosulullah yang rela memberikan pakaiannya ketika ada yang memuji.
            Aku harus lebih sering memberikan contoh-contoh kedermawanan para sahabat, begitu batinku bicara menanggapi kejadian yang baru saja terjadi.
# # #
            Semakin hari ternyata kenakalan Azril semakin menjadi. Sepertinya kesabaranku betul-betul sedang diuji.
            Sudah hampir semua anak perempuan terkena getah kenakalannya. Rini yang ditarik kepang kembarnya dari belakang.  Eli yang sepatunya disembunyikan di bawah ayunan. Riska yang mengaku dipukul ketika tidak mau memberikan jatah kuenya. Sampai ’ajudanku’ Watipun tak luput dari kejahilan anak didiku itu.
            Ceritanya ketika jam istirahat sudah habis, anak-anak kembali ke kelas. Secara diam-diam Azril memasukan bangkong ke dalam salah satu sepatu wati. Kejadian ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali ketika jam pulang sudah lewat. Wati terkejut bukan main ketika mendapati ada binatang aneh di dalam sepatunya. Seperti tidak sadar dia menjerit dengan keras yang mengagetkanku.
            Aku menduga bahwa ini kerjaannya Azril. Aku teringat ketika habis jam istirahat dia terlambat masuk ke kelas. Kata Shaleh yang terkenal pendiam, Azril tadi pergi ke pematang sawah sendirian. Dan ketika masuk ada percikan lumpur di celananya. Tak salah lagi, pasti dia yang melakukannya. Hari ini juga aku harus ke rumahnya sekalian untuk silaturahmi.
            Sampai di depan rumahnya yang mungil, aku menghirup nafas sebentar dan mencoba menenangkan perasaanku.
            ”Assalamu ’Alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara kaki mendekat ke arah pintu.
            ” Waalaikum salam, eh Bu Guru, silahkan masuk,” Bu Marta mempersilahkan aku untuk masuk.
            Setelah menanyakan kabar tentang keluarga dan menanyakan kondisi rumah, aku menjelaskan maksud kedatangannya.
            ”Maaf Bu Marta, kalau penyampaian saya tadi menyinggung perasaan ibu,” aku berusaha menjelaskan dengan detil dan sangat hati-hati. Aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu terulang. Ketika aku menjelaskan tentang kenakalan seorang anak di kelas kepada seorang ibu, di sikapi dengan tidak memperbolehkan anak untuk sekolah lagi.
            ”Tidak apa-apa bu, saya benar-benar minta maaf,” Bu Marta berkata dengan mata berkaca-kaca. ”Saya sendiripun sudah sangat kewalahan menghadapi kenakalan Azril di rumah, sekali lagi saya minta maaf,” dia melanjutkan.
            Setelah dirasa cukup dan tidak ada solusi akupun berpamitan pulang.
            Cacing diperutku sudah minta jatah. Waktunya menjalankan nasehat dokter dengan empat sehat lima sempurnanya.
# # #
            Aku sudah kewalahan menangani Azril. Ada saja tingkah yang membuat ubun-ubunku naik. Dalam keputus-asaanku sempat terlintas pikiran nakal, ’alangkah enak duniaku tanpa kehadirannya’. Namun pikiran gilaku langsung aku buang jauh-jauh. Aku ingat amanahku sebagai seorang guru TK. Sia-sia pekerjaanku membangun pendidikan ini dari awal kalau hanya dikalahkan oleh manusia kecil ini saja. Aku berusaha memompa semangat mengajarku.
            Tapi aku tidak bisa menutupi kesenanganku ketika satu hari Azril tidak masuk kelas. Aku tidak berusaha mencari informasi ke mana-mana.
            Aku merasa tenang mengajar. Semua persiapan yang sudah ku buat semalam bisa ku ajarkan dengan baik. Lain cerita ketika ada Azril di sana. Energiku seringkali terporsir hanya untuk menghadapi tingkahnya.
            Demikian juga anak-anak, tidak ada lagi cerita ada anak menangis karena dipukul, diambil kuenya, ataupun hanya sekedar diejek. Semua berjalan dengan tenang. Sepertinya anak-anak lainpun sangat menikmati ’peristiwa yang jarang terjadi’ ini. 
            Dua hari berlalu tanpa kehadiran Azril tidak mengganggu keasyikanku mengajar. Hanya sedikit tanya di batinku ’kemana Azril’. Pasti pindah sekolah, demikian pikirku. Atau tidak bolah sekolah lagi sama orang tuanya ya? Ah biarin, paling nanti juga masuk lagi kalau dia sudah agak lebih baik.
            Kesadaranku sebagai guru terusik ketika sudah seminggu tidak ada kabar tentang Azril. Aku merasakan kehilangan. Kehilangan semua kenakalannya yang sering membuatku lebih bersikap dewasa. Tak pernah lagi kudengar ada kejadian aneh yang terjadi. Aku semakin gelisah ketika Wati bilang rumahnya sepi. Kebetulan kemarin Wati lewat depan rumahnya, dan sepertinya rumahnya terkunci.
            Jangan-jangan, ............. ah aku ga mau menduga yang bukan-bukan.
            Aku harus mencari tahu!!
# # #
            Pulang sekolah sengaja aku berniat silaturahmi ke tempat Azril. Walaupun tidak ketemu manusia kecil itu, mudah-mudahan ada orang tuanya. Ataupun sekedar kabar tentang keberadaannya.
            Ternyata perkataan Wati benar. Rumahnya terkunci, berarti tidak ada penghuni satupun dirumah ini, begitu pikirku. Kalau begitu, mereka pergi kemana? Dalam keherananku, aku mendengar sebuah suara di belakangku.
            ”Bu Marta dan semua keluarga ada di rumah sakit.” Ternyata suara Pak RT  yang sudah sangat ku kenal.
            ”Siapa yang sakit?” aku bertanya dengan gelisah.
            ”Azril sakit gangguan pencernaan, tadi saya baru pulang menengoknya, sebetulnya sakitnya sudah agak lama tapi karena keterbatasan dana hal itu dibiarkan saja,” Pak RT menjelaskan. 
            Terbayang olehku keadaan ekonomi keluarga Bapak Marta yang hanya mengandalkan dari upah sebagai buruh di kebun.
            Aku merasa sangat bersalah karena tidak mencari tahu tentang ketidakhadirannya. Kalau saja sejak pertama tidak masuk sekolah aku langsung ke rumahnya mungkin ceritanya tidak seperti ini. Kepalaku terasa berat, tetes bening mengalir dari dua kelopak mataku.
            Maafkan aku Tuhan, karena sudah menyia-nyiakan dia. Aku merindukan dia, berilah dia kesembuhan. Allohumma isyfi antasyaafi laa syifaa a  illa syifaa  uka syifaaan laa yughodiru saqoma. Yaa Alloh berilah dia kesembuhan, Engkau zat yang menyembuhkan, kesembuhan yang tidak memberikan sakit lagi. Aamien.
Sore ini juga aku harus ke rumah sakit.

# # #





Tidak ada komentar:

Posting Komentar