Hari masih pagi, ketika
dari kejauhan aku melihat seorang ibu datang bersama seorang anak kecil yang
masih berumur sekitar 4 tahun.
”Assalamu ’alaikum Bu
Hera,” sapa ibu tersebut sambil membuka pintu pagar yang terbuat dari potongan
bambu.
”Wa ’alaikum salam, eh Bu
Marta, tumben pagi-pagi ada masalah
yang sangat penting kelihatannya,” jawabku sambil mempersilahkan untuk masuk.
”Begini bu,” Bu Marta
memulai obrolannya. Dia berhenti sebentar seperti sedang mempersiapkan kata-kata
yang tepat untuk diucapkan. Sepertinya dia masih ragu dengan keinginannya untuk
menyekolahkan anaknya di TK yang diajar olehku. Maklum batas waktu pendaftaran
sebetulnya sudah lewat dua hari. “Saya mau memasukan anak saya Azril di TK
Barokah, masih bolehkan bu?” keluar juga akhirnya kata-kata dari Bu Marta.
Sementara di luar pagar,
Azril sedang asyik dengan permainan barunya. Ada cicak sedang menempel di pagar
bambu. Dengan berjingkat kaki Azril berusaha mendekat ke tempat Cicak berada.
Tangannya diangkat siap untuk menangkap hewan kecil itu. Seakan mengajak Azril
bermain, cicak itu berjalan dengan santainya. Berpindah-pindah dari potongan
bambu ke potongan yang lain. Dan bagai dihipnotis, Azrilpun mengikuti dengan
harapan bisa menangkap binatang itu hidup-hidup.
“Ternyata kamu di sini,
ayo salam dulu sama Bu Guru,” tiba-tiba Bu Marta sudah berada di dekatnya dan
mengajak Azril menemui Bu Hera.
“Gara-gara Ibu, Cicak itu
pergi,” Azril mengerutu. Wajahnya cemberut marah bagaikan kehilangan coklat
vanila dari negeri seberang.
”Kasihan, cicak itukan
juga mau hidup, kita harus sayang sama binatang,” aku turut serta berkomentar
melihat adegan ibu dan anak tersebut. Lucu juga anak itu ketika marah.
Rambutnya yang tebal dan hitam, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih
membuat aku terpana pada sosok mungil dihadapanku.
Dengan muka masih menunduk
yang menunjukan bahwa dia belum menerima kehilangan harta yang menurutnya
sangat berharga, dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku. Dengan senyum gembira,
akupun langsung menyambutnya.
Itulah awal perkenalanku
dengan Azril. Seorang anak kecil yang lucu dan manis.
# # #
Sekarang tanggal 16 Juli,
berarti besok aku sudah mulai mengajar lagi di TK Barokah. Kerinduanku untuk
bertemu dengan anak-anak sudah mencapai stadium empat, setelah libur selama
sebulan. Dalam penerimaan siswa baru kemarin, tercatat ada tiga puluh anak yang
mendaftar, sepuluh diantaranya anak perempuan.
Aku menerawang ke masa
lalu. Ternyata tak terasa sudah tiga tahun aku mengabdi di sini. Dulu setelah
tamat kuliah aku nyaris dihantui dilema sebagai pengangguran. Banyak cemoohan
menerpaku, baik dari keluarga juga masyarakat sekitar. Bahkan yang sangat
menyakitkan adalah perkataan ayahku yang seakan menyalahkan aku ketika dulu tidak
mengindahkan beliau untuk tidak usah masuk kuliah. Perempuan nantinya juga akan
jadi pelayan suami, kuliah hanya buang-buang uang, begitu katanya. Tapi aku
tidak mendendam dan ingin menunjukan pada semua orang bahwa perempuanpun bisa
berkarya.
Tahun 2003 dengan bantuan
seorang teman aku mendirikan TK Barokah. Niatanku hanya ingin memajukan
pendidikan di kampung. Aku ingin cara pandang masyarakat tentang pendidikan
berubah, itu ambisi yang selalu menyiram aku dengan air semangat ketika
kelesuan datang. Pendidikan sebagai bekal masa depan. Pendidikan yang bisa
dinikmati oleh semua kalangan.
Tiga tahun tak terasa
sudah terlewati. Ternyata walaupun aku bukan alumni sekolah yang khusus
mencetak guru TK, aku bisa enjoy. Aku sudah merasa its my life. Dunia yang membuat aku merasa tetap awet muda. Pantas
saja karena gaulnya dengan anak TK.
Besok aku akan bertemu
dengan Siska putrinya Bu Arman yang masih cadel ketika berbicara, Widi anak
tukang bakso sebelah, Sholeh anak tunggal pak Haji, dan beberapa anak lain yang
aku lupa namanya. Tapi ntar dulu, aku ingat sesuatu. Azril !!!
Kembali aku di datangi
sosok mungil tapi lincah, yang menurut ibunya sangat nakal. Anak kecil yang
nakal itu biasa bu, namanya juga anak. Itulah proses pencarian. Keberadaannya
ingin dihargai. Dia selalu ingin mencari perhatian dari orang dewasa. Sehingga
kadang-kadang perbuatannya di luar perkiraan kita. Aku berusaha menjelaskan
dengan panjang lebar tentang perilaku anak kepada Bu Marta ketika kemarin
datang bersama Azril.
# # #
Jam 07.30 aku sudah berada
di sekolah. Hari pertama semuanya harus sempurna, begitu pikirku. He....eh, koq
Wati belum datang, padahal kemarin sudah aku bilang untuk datang lebih awal
dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin sedang di jalan maklum kan rumahnya agak
jauh dan ga ada transportasi alias harus pake ’jurus di kejar anjing’ biar
cepat nyampe, aku berusaha menghibur diri. Sejak ada Wati pekerjaan mengajarku
sangat terbantu. Terbayang ketika setahun pertama mengajar sendirian, capeknya
minta ampun. Belum lagi kalau ada anak yang kencing di kelas.
Walaupun semua peralatan
yang ada dikelas sangat sederhana, karena produk yang ada seharusnya sudah
harus dipensiunkan, tetapi aku memutar otak agar anak merasa senang dan tidak
bosan ketika berada di kelas.
Dengan gaya seorang
desainer interior kawakan, aku mengotak atik letak barang-barang utama di
kelas. Kursi belajar yang tadinya mengarah ke papan tulis, aku buat menjadi 4
kelompok lingkaran, jadi masing-masing lingkaran ada yang berjumlah 7 dan 8
kursi. Letak papan tulis yang berada di sebelah kanan kelas menghadap ke arah
barat, aku buat menghadap ke selatan.
Sementara cukup dululah
untuk urusan interior.
”Assalau ’alaikum Bu
Guru,” Wati datang dengan nafas masih ngos-ngosan.
”Waalaikum salam, wah kamu
sangat beruntung Wat, semuanya sudah beres, tugasmu tinggal mijitin punggungku,
he....he” jawabku dengan santai. Sengaja aku sering mengajak Wati bercanda biar
dia tidak terlalu sungkan. Seperti biasa Wati hanya tersenyum sambil menyadari
keterlambatannya.
Sepuluh menit lagi jam
sekolah dimulai. Semua sudah ku persiapkan, hari ini tidak ada belajar, hanya
sebuah prosesi perkenalan. Ini adalah kebiasaan setiap hari pertama masuk
sekolah, agar anak-anak saling mengenal teman-temannya.
Dari kejauhan terlihat
pasukan hijauku mulai berdatangan. Sebagian masih diantar oleh orang tuanya.
Ada semangat yang meniup ke jiwaku melihat makhluk-makhluk mungil dengan ceria
menuju ke sekolahnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan semangat mereka, aku
berjanji dalam hati.
”Jangan berlari Azril, ”
Bu Marta berlari-lari kecil mencoba mengejar Azril yang sudah mendahuluinya.
Akhirnya sebelum bel
berbunyi semua anak sudah datang.
# # #
”Sekarang waktunya
istirahat, semua boleh bermain di luar !” aku mengakhiri belajar menggunting
dan menempel. Dengan riang anak-anak berhamburan ke luar. Beberapa anak
terlihat membuka bekal yang dipersiapkan dari rumah.
Seperti biasa dengan
bantuan Wati aku membersihkan kertas-kertas berserakan, bekas lem yang banyak
menempel di lantai.
Baru
selesai aku minum, Wati berteriak memanggilku. Ada anak yang menangis katanya. Setelah ku dekati
ternyata makanan Siska di rebut sama Azril.
” Kemarin Bu Guru bilang
apa kalau kita ingin sesuatu,” walaupun sedikit kesal aku berusaha mengajak
Azril berdialog. Aku tidak ingin menyalahkannya sebelum tahu duduk
permasalahannnya.
”Tadi Azril sudah minta
tapi cuma dikasih sedikit, jadi Azril rebut aja semua, Azril kan ga salah Bu
Guru,” dia masih membela diri.
”Justru merebut milik
orang lain itu ga boleh, sekarang Azril minta maaf yaa, ” Aku berusaha
menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan ke Siska aku berusaha mengajarinya
sifat kedermawanan Rosulullah yang rela memberikan pakaiannya ketika ada yang
memuji.
Aku harus lebih sering
memberikan contoh-contoh kedermawanan para sahabat, begitu batinku bicara
menanggapi kejadian yang baru saja terjadi.
# # #
Semakin hari ternyata
kenakalan Azril semakin menjadi. Sepertinya kesabaranku betul-betul sedang
diuji.
Sudah hampir semua anak
perempuan terkena getah kenakalannya. Rini yang ditarik kepang kembarnya dari
belakang. Eli yang sepatunya
disembunyikan di bawah ayunan. Riska yang mengaku dipukul ketika tidak mau
memberikan jatah kuenya. Sampai ’ajudanku’ Watipun tak luput dari kejahilan
anak didiku itu.
Ceritanya ketika jam
istirahat sudah habis, anak-anak kembali ke kelas. Secara diam-diam Azril
memasukan bangkong ke dalam salah satu sepatu wati. Kejadian ini tidak
diketahui oleh siapapun kecuali ketika jam pulang sudah lewat. Wati terkejut
bukan main ketika mendapati ada binatang aneh di dalam sepatunya. Seperti tidak
sadar dia menjerit dengan keras yang mengagetkanku.
Aku menduga bahwa ini
kerjaannya Azril. Aku teringat ketika habis jam istirahat dia terlambat masuk
ke kelas. Kata Shaleh yang terkenal pendiam, Azril tadi pergi ke pematang sawah
sendirian. Dan ketika masuk ada percikan lumpur di celananya. Tak salah lagi,
pasti dia yang melakukannya. Hari ini juga aku harus ke rumahnya sekalian untuk
silaturahmi.
Sampai di depan rumahnya
yang mungil, aku menghirup nafas sebentar dan mencoba menenangkan perasaanku.
”Assalamu ’Alaikum,”
ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara kaki mendekat ke arah pintu.
” Waalaikum salam, eh Bu
Guru, silahkan masuk,” Bu Marta mempersilahkan aku untuk masuk.
Setelah menanyakan kabar
tentang keluarga dan menanyakan kondisi rumah, aku menjelaskan maksud
kedatangannya.
”Maaf Bu Marta, kalau
penyampaian saya tadi menyinggung perasaan ibu,” aku berusaha menjelaskan
dengan detil dan sangat hati-hati. Aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang
lalu terulang. Ketika aku menjelaskan tentang kenakalan seorang anak di kelas
kepada seorang ibu, di sikapi dengan tidak memperbolehkan anak untuk sekolah
lagi.
”Tidak apa-apa bu, saya
benar-benar minta maaf,” Bu Marta berkata dengan mata berkaca-kaca. ”Saya
sendiripun sudah sangat kewalahan menghadapi kenakalan Azril di rumah, sekali
lagi saya minta maaf,” dia melanjutkan.
Setelah dirasa cukup dan
tidak ada solusi akupun berpamitan pulang.
Cacing diperutku sudah
minta jatah. Waktunya menjalankan nasehat dokter dengan empat sehat lima
sempurnanya.
# # #
Aku sudah kewalahan
menangani Azril. Ada saja tingkah yang membuat ubun-ubunku naik. Dalam
keputus-asaanku sempat terlintas pikiran nakal, ’alangkah enak duniaku tanpa
kehadirannya’. Namun pikiran gilaku langsung aku buang jauh-jauh. Aku ingat
amanahku sebagai seorang guru TK. Sia-sia pekerjaanku membangun pendidikan ini
dari awal kalau hanya dikalahkan oleh manusia kecil ini saja. Aku berusaha
memompa semangat mengajarku.
Tapi aku tidak bisa
menutupi kesenanganku ketika satu hari Azril tidak masuk kelas. Aku tidak
berusaha mencari informasi ke mana-mana.
Aku merasa tenang
mengajar. Semua persiapan yang sudah ku buat semalam bisa ku ajarkan dengan
baik. Lain cerita ketika ada Azril di sana. Energiku seringkali terporsir hanya
untuk menghadapi tingkahnya.
Demikian juga anak-anak,
tidak ada lagi cerita ada anak menangis karena dipukul, diambil kuenya, ataupun
hanya sekedar diejek. Semua berjalan dengan tenang. Sepertinya anak-anak
lainpun sangat menikmati ’peristiwa yang jarang terjadi’ ini.
Dua hari berlalu tanpa
kehadiran Azril tidak mengganggu keasyikanku mengajar. Hanya sedikit tanya di
batinku ’kemana Azril’. Pasti pindah sekolah, demikian pikirku. Atau tidak
bolah sekolah lagi sama orang tuanya ya? Ah biarin, paling nanti juga masuk
lagi kalau dia sudah agak lebih baik.
Kesadaranku sebagai guru
terusik ketika sudah seminggu tidak ada kabar tentang Azril. Aku merasakan
kehilangan. Kehilangan semua kenakalannya yang sering membuatku lebih bersikap
dewasa. Tak pernah lagi kudengar ada kejadian aneh yang terjadi. Aku semakin
gelisah ketika Wati bilang rumahnya sepi. Kebetulan kemarin Wati lewat depan
rumahnya, dan sepertinya rumahnya terkunci.
Jangan-jangan,
............. ah aku ga mau menduga yang bukan-bukan.
Aku harus mencari tahu!!
# # #
Pulang sekolah sengaja aku
berniat silaturahmi ke tempat Azril. Walaupun tidak ketemu manusia kecil itu,
mudah-mudahan ada orang tuanya. Ataupun sekedar kabar tentang keberadaannya.
Ternyata perkataan Wati
benar. Rumahnya terkunci, berarti tidak ada penghuni satupun dirumah ini,
begitu pikirku. Kalau begitu, mereka pergi kemana? Dalam keherananku, aku
mendengar sebuah suara di belakangku.
”Bu Marta dan semua
keluarga ada di rumah sakit.” Ternyata suara Pak RT yang sudah sangat ku kenal.
”Siapa yang sakit?” aku
bertanya dengan gelisah.
”Azril sakit gangguan
pencernaan, tadi saya baru pulang menengoknya, sebetulnya sakitnya sudah agak
lama tapi karena keterbatasan dana hal itu dibiarkan saja,” Pak RT
menjelaskan.
Terbayang olehku keadaan
ekonomi keluarga Bapak Marta yang hanya mengandalkan dari upah sebagai buruh di
kebun.
Aku merasa sangat bersalah
karena tidak mencari tahu tentang ketidakhadirannya. Kalau saja sejak pertama
tidak masuk sekolah aku langsung ke rumahnya mungkin ceritanya tidak seperti
ini. Kepalaku terasa berat, tetes bening mengalir dari dua kelopak mataku.
Maafkan aku Tuhan, karena
sudah menyia-nyiakan dia. Aku merindukan dia, berilah dia kesembuhan. Allohumma isyfi antasyaafi laa syifaa a illa syifaa
uka syifaaan laa yughodiru saqoma. Yaa Alloh berilah dia kesembuhan,
Engkau zat yang menyembuhkan, kesembuhan yang tidak memberikan sakit lagi.
Aamien.
Sore ini juga aku harus ke rumah sakit.
# # #
Tidak ada komentar:
Posting Komentar