Pagi itu gerimis menyapa
kampungku. Peluh bercampur dengan titik-titik air. Pasar tetap ramai. Semua
aktivitas berjalan seperti biasa. Penjual sayuran menawarkan dagangannya. Di
sebuah kedai kopi tak jauh dari pasar, aku menikmati segelas kopi susu hangat.
Cukup untuk menghangatkan badanku yang mulai terasa dingin. Aku mengambil
pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
Tukang sampah lewat dengan
gerobaknya. Aku menutup kedua lubang hidung. Bau sampah tumpah menyebar ke
mana-mana. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun yang menutup
hidung. Aku menurunkan jariku kembali menikmati kopi susuku. Masih terasa
panas. Sebuah pisang goreng kembali mendarat di mulutku. Dingin-dingin seperti
ini enaknya memang menikmati goreng pisang panas ditemani kopi susu.
Seorang berpakaian lusuh
dengan rambut panjang tak beraturan berdiri di simpang kedai. Tak banyak yang
dia lakukan. Hanya berjalan mondar-mandir. Aku sempat berpikir. Mungkinkah dia
merasa kedinginan seperti aku? Jangan-jangan dia sengaja berjalan mondar-mandir
untuk menghilangkan rasa dingin.
”Lihat apa kang?” Mbok
Minah penjaga kedai bertanya. Aku sampai tidak sadar ternyata menurutnya dia
sudah bertanya beberapa kali. Mungkin aku terlalu asyik memperhatikan orang di
seberang. Sampai gendang telingaku tidak sensitif lagi.
”Apa tiap pagi dia ada di
tempat itu?” aku balik bertanya.
”Sebentar aku mau
membungkus pisang goreng dan kopi pahit,” Mbok Minah memasukan empat potong
pisang goreng dan kopi di plastik putih ke dalam kresek hitam dan kemudian
meninggalkanku.
Pandanganku tetap tidak
bergeming. Tak lama seorang perempuan mendekatinya dengan sebuah kresek hitam.
Laki-laki di ujung jalan itu menerima kresek itu dan kemudian berlalu. Tanpa
kata, aku tidak melihat bibirnya bergerak.
”Siapa dia Mbok?” kataku
pada Mbok Minah ketika dia sudah kembali ke kedai.
”Aku tidak pernah bertanya
tentang nama dan asal-usul, aku juga tidak menganggap hal itu penting, aku
hanya kasihan melihat dia kedinginan. Kalau saja aku tidak berjualan, aku ingin
mengajaknya berteduh di kedaiku. Tapi aku takut langgananku jadi tidak mau
singgah. Dulu dia selalu mendekat ke kedaiku, tapi diusir oleh suamiku karena
baunya. Akhirnya aku menyuruh dia berdiri agak jauh dari kedaiku, dan aku yang
akan mengantarkan kopi dan pisang goreng. Aku tidak tahu apakah dia mengerti
kata-kataku ketika itu. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi mendekat ke
kedaiku. Dia tidak akan pergi sebelum aku membawakan kopi dan pisang goreng.”
Aku hanya mendengarkan
tanpa berkomentar. Aku membiarkan bibir mbok minah bergerak merangkai kata demi
kata. Sepertinya dia tidak peduli apakah aku mendengarkan kata-katanya atau
tidak. Mungkin itu juga tidak penting baginya. Yang terpenting ketika
kenikmatan berbicara tidak terganggu oleh kekuatan apapun. Atau mungkin jarang
ada waktu buatnya membicarakan sesuatu yang menurutnya penting. Bisa jadi dia
terlalu bosan dengan kata-kata yang keluar dari banyak mulut. Hanya telinganya
yang selama ini selalu bekerja.
* * *
Mentari belum menampakan
sinarnya. Suara jangkrik masih sesekali terdengar. Bacaan alquran melangit dari
beberapa menara mesjid. Sejenak aku mendengarkan lantunan ayat-ayat Tuhan
membelah kesunyian. Sepertinya dari suara kaset. Karena hampir tiap pagi suara
itu yang terdengar. Mungkin suara itu hanya untuk membangunkan orang. Aku hanya
tersenyum memikirkan itu.
Aktivitas pasar sudah
ramai. Bahkan dari pertengahan malam beberapa pedagang sudah berada di tempat
itu, sambil menunggu barang dari luar kota. Ketika barang datang, mereka segera
menggelar dagangannya. Sangat gesit dan rapi. Rutinitas yang tidak pernah
berhenti.
Sambil menunggu pagi, aku
mencari koran. Pagi-pagi biasanya penjaja koran mempersiapkan korannya dan
menumpuk di pinggir jalan sebelum dijual. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan.
Hampir tidak ada berita yang positif dari negeri ini. Banjir melanda ibu kota,
pengungsi lapindo demonstrasi ke Dewan, Demam berdarah kembali merenggut nyawa.
Biasanya aku hanya membeli koran setiap Hari Sabtu. Informasi lowongan kerja
selalu penuh pada hari itu, hampir tiga halaman biasanya.
Belum sempat aku melipat
halaman terakhir koran yang masih di tanganku. Pandanganku tertuju pada
beberapa tulisan mencolok yang membuat darahku mendesir. Keningku berkerut.
Relokasi pasar lama ke tempat baru akan dilaksanakan minggu depan. Kemacetan di
sekitar pasar lama sudah terlalu parah, sehingga perlu di benahi. Itu alasan
yang disebutkan di sana. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Alasan itu
memang benar. Pasar yang berada di dekat jalan itu menjadi tempat berkumpulnya
manusia. Ada penjual dan pembeli. Ada juga barang-barang yang ditawarkan. Semua
itu membutuhkan alat transportasi. Aku hanya berharap di tempat baru, para
penghuni pasar lama mendapat tempat yang lebih baik.
Pikiranku melayang pada
Mbok Minah, ”Kemana dia akan pergi berjualan?” akankah dia menempati tempat
baru.
Keinginan untuk
mengunjungi kedai kopi Mbok Minah muncul secara tiba-tiba. Belum sempat aku
berpikir jauh, dua kakiku sudah mulai berjalan.
”Kopi susu satu Mbok,”
kataku ketika sampai di depan kedai.
Tidak ada kata yang keluar
dari mulut Mbok Minah. Tangan terampilnya segera mengambil gelas kosong yang
baru saja dicucinya. Pandanganku menyapu pada seisi kedai. Aku tidak melihat
foto-foto yang kemarin di pajang. Kalenderpun sudah tidak berada lagi di
tempatnya. Belum sempat keherananku bertambah, Mbok datang membawakan kopi
susu.
”Ini kopi susu spesial,
khusus untuk Mas Paijo” suara Mbok Minah terdengar berat. Senyumnya mengembang
seperti terpaksa. Ada beban berat yang sedang menghimpit dadanya. Ingin rasanya
aku menghapus kesedihan itu. Aku jadi teringat ibuku di kampung. Mungkin
usianya tidak jauh berbeda dengan Mbok Minah. Hanya penampilannya yang berbeda.
Kerut-kerut kulit Mbok Minah terlihat nyata. Mungkin kesedihan dan beban hidup
menambah usianya terlihat senja.
”Besok Mbok tidak lagi
berjualan, Mbok akan pulang kampung saja,” suara itu terdengar lagi, suara yang
menambah suasana hatiku bertambah sedih. ”Kemarin anak Mbok yang sulung
menyuruh Mbok pulang, dia ingin Mbok merawat anaknya yang masih kecil karena
dia dan istrinya sibuk bekerja.” Aku hanya tersenyum mencoba menahan kesedihan.
”Mudah-mudahan Mbok bisa
lebih senang hidup di tengah-tengah anak sendiri,” kataku mencoba menghibur.
Beberapa kardus terlihat
di balik pintu ketika angin sepoi-sepoi membukanya perlahan.
Hari ini tidak ada lagi
pisang goreng. Hanya kopi susu yang sudah mulai dingin.
* * *
Pagi ini pasar lama
menjadi sepi laksana kuburan. Hilir mudik becak yang membawa barang dan sayuran
hampir tidak terlihat lagi. Beberapa kios lain disekitar pasarpun tak luput
dari pembersihan. Aku merasakan kesepian yang belum pernah ku rasakan. Aku
kehilangan teman bicara. Mbok Minah, mungkin hanya aku yang merasakan ketiadaannya.
Dia lebih senang ’mengabdi’ pada anaknya. Meninggalkan beberapa langganan yang
selalu menunggu pisang gorengnya matang.
Aku menyusuri sisa-sisa
pasar. Sebuah batu di depanku, aku tendang dan mengenai kaleng susu. Prang ...
dia mengeluarkan suara.
Aku berhenti ketika
melihat seorang berwajah kumal berjalan mondar-mandir. Pakaiannya robek di
beberapa tempat. Rambutnya memanjang tidak terawat. Aku seperti diingatkan
dengan sesuatu. Aku bergegas membeli sebuah roti kering di sebuah toko yang
agak jauh dari pasar. Kemudian aku kembali ke tempat laki-laki kumal itu
berada. Aku memberikan bungkusan roti itu dan diapun berlalu.
Ada rasa senang ketika aku
telah membantu orang. Aku tidak perduli apakah dia memahami kebaikanku.
Pandanganku masih menyusuri langkah laki-laki kumal yang mulai tidak terlihat.
Perlahan senyum Mbok Minah tergambar di benakku.
* * *
Aktivitas pagiku bertambah
satu mulai hari ini. Membawakan sebuah roti untuk ’teman’ baruku. Mungkin pada
awalnya dia kaget ketika bukan Mbok Minah yang membawakan makanan. Demikian
juga makanannyapun berbeda, tidak lagi pisang goreng dan kopi, tetapi roti
kering dan aqua gelas.
Aku menikmati rutinitas
itu. Setiap kali aku menyodorkan roti dan aqua gelas, hidungku seakan mencium
aroma pisang gorengnya Mbok Minah. Bisa jadi bukan hanya aku yang merasakan
itu, tetapi laki-laki itu?
Hampir satu minggu aku
melakukan aktivitas baruku.
Hari ini dengan wajah
berseri aku membawakan dua bungkus roti dan dua aqua gelas. Aku ingin
memberikan lebih dari pada biasanya. Karena hari ini memang istimewa bagiku.
Dan aku ingin diapun memgetahuinya. Aku tidak mau dianggap durhaka karena
melupakan detik-detik menegangkan bagi ibu dan ayahku dua puluh lima tahun yang
lalu.
Laki-laki itu tidak berada
di tempat biasa. Aneh, tidak seperti biasa.
Aku berkeliling di sekitar bekas pasar, berharap bertemu dengan dia.
Pikiran jelek mulai bermain di otakku.
”Sreeet....,” air yang
menggenang muncrat mengenai pakaianku, bersamaan dengan angkutan kota yang
melaju kencang. Sopir gila! Aku mengumpat dalam hati.
Kakiku mulai menjauh dari tempat itu.
Di pinggir jalan seorang
penjual koran memajang barangnya. Terlihat tulisan-tulisan mencolok di muka
untuk menarik minat orang untuk membeli. Pandanganku tertuju pada deretan koran
itu, tapi pikiranku mengembara entah ke mana. PENGEMIS DAN GELANDANGAN DI
RAZIA, menjadi judul salah satu dari koran itu. Rasa penasaran mulai muncul.
Berharap ada berita yang sedang aku cari. Ya berita tentang keberadaan
laki-laki kumal itu.
Empat orang gelandangan dan pengemis di razia oleh
petugas ketertiban, sementara seorang lagi melarikan diri dan ditemukan sudah
tidak bernyawa di sebuah sungai. Diduga mayat laki-laki kumal itu terjun dari
atas jembatan dan mengenai batu-batuan.
Deretan kata itu bagaikan
kilat yang menyambar. Aku lemas, mungkinkah laki-laki itu.....? Aku tidak
berani meneruskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar