Jumat, 22 April 2016

Lelaki Kumal


            Pagi itu gerimis menyapa kampungku. Peluh bercampur dengan titik-titik air. Pasar tetap ramai. Semua aktivitas berjalan seperti biasa. Penjual sayuran menawarkan dagangannya. Di sebuah kedai kopi tak jauh dari pasar, aku menikmati segelas kopi susu hangat. Cukup untuk menghangatkan badanku yang mulai terasa dingin. Aku mengambil pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
            Tukang sampah lewat dengan gerobaknya. Aku menutup kedua lubang hidung. Bau sampah tumpah menyebar ke mana-mana. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun yang menutup hidung. Aku menurunkan jariku kembali menikmati kopi susuku. Masih terasa panas. Sebuah pisang goreng kembali mendarat di mulutku. Dingin-dingin seperti ini enaknya memang menikmati goreng pisang panas ditemani kopi susu.
            Seorang berpakaian lusuh dengan rambut panjang tak beraturan berdiri di simpang kedai. Tak banyak yang dia lakukan. Hanya berjalan mondar-mandir. Aku sempat berpikir. Mungkinkah dia merasa kedinginan seperti aku? Jangan-jangan dia sengaja berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa dingin.
            ”Lihat apa kang?” Mbok Minah penjaga kedai bertanya. Aku sampai tidak sadar ternyata menurutnya dia sudah bertanya beberapa kali. Mungkin aku terlalu asyik memperhatikan orang di seberang. Sampai gendang telingaku tidak sensitif lagi.
            ”Apa tiap pagi dia ada di tempat itu?” aku balik bertanya.
            ”Sebentar aku mau membungkus pisang goreng dan kopi pahit,” Mbok Minah memasukan empat potong pisang goreng dan kopi di plastik putih ke dalam kresek hitam dan kemudian meninggalkanku.
            Pandanganku tetap tidak bergeming. Tak lama seorang perempuan mendekatinya dengan sebuah kresek hitam. Laki-laki di ujung jalan itu menerima kresek itu dan kemudian berlalu. Tanpa kata, aku tidak melihat bibirnya bergerak.
            ”Siapa dia Mbok?” kataku pada Mbok Minah ketika dia sudah kembali ke kedai.
            ”Aku tidak pernah bertanya tentang nama dan asal-usul, aku juga tidak menganggap hal itu penting, aku hanya kasihan melihat dia kedinginan. Kalau saja aku tidak berjualan, aku ingin mengajaknya berteduh di kedaiku. Tapi aku takut langgananku jadi tidak mau singgah. Dulu dia selalu mendekat ke kedaiku, tapi diusir oleh suamiku karena baunya. Akhirnya aku menyuruh dia berdiri agak jauh dari kedaiku, dan aku yang akan mengantarkan kopi dan pisang goreng. Aku tidak tahu apakah dia mengerti kata-kataku ketika itu. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi mendekat ke kedaiku. Dia tidak akan pergi sebelum aku membawakan kopi dan pisang goreng.”
            Aku hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Aku membiarkan bibir mbok minah bergerak merangkai kata demi kata. Sepertinya dia tidak peduli apakah aku mendengarkan kata-katanya atau tidak. Mungkin itu juga tidak penting baginya. Yang terpenting ketika kenikmatan berbicara tidak terganggu oleh kekuatan apapun. Atau mungkin jarang ada waktu buatnya membicarakan sesuatu yang menurutnya penting. Bisa jadi dia terlalu bosan dengan kata-kata yang keluar dari banyak mulut. Hanya telinganya yang selama ini selalu bekerja.
* * *
            Mentari belum menampakan sinarnya. Suara jangkrik masih sesekali terdengar. Bacaan alquran melangit dari beberapa menara mesjid. Sejenak aku mendengarkan lantunan ayat-ayat Tuhan membelah kesunyian. Sepertinya dari suara kaset. Karena hampir tiap pagi suara itu yang terdengar. Mungkin suara itu hanya untuk membangunkan orang. Aku hanya tersenyum memikirkan itu.
            Aktivitas pasar sudah ramai. Bahkan dari pertengahan malam beberapa pedagang sudah berada di tempat itu, sambil menunggu barang dari luar kota. Ketika barang datang, mereka segera menggelar dagangannya. Sangat gesit dan rapi. Rutinitas yang tidak pernah berhenti.
            Sambil menunggu pagi, aku mencari koran. Pagi-pagi biasanya penjaja koran mempersiapkan korannya dan menumpuk di pinggir jalan sebelum dijual. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Hampir tidak ada berita yang positif dari negeri ini. Banjir melanda ibu kota, pengungsi lapindo demonstrasi ke Dewan, Demam berdarah kembali merenggut nyawa. Biasanya aku hanya membeli koran setiap Hari Sabtu. Informasi lowongan kerja selalu penuh pada hari itu, hampir tiga halaman biasanya.
            Belum sempat aku melipat halaman terakhir koran yang masih di tanganku. Pandanganku tertuju pada beberapa tulisan mencolok yang membuat darahku mendesir. Keningku berkerut. Relokasi pasar lama ke tempat baru akan dilaksanakan minggu depan. Kemacetan di sekitar pasar lama sudah terlalu parah, sehingga perlu di benahi. Itu alasan yang disebutkan di sana. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Alasan itu memang benar. Pasar yang berada di dekat jalan itu menjadi tempat berkumpulnya manusia. Ada penjual dan pembeli. Ada juga barang-barang yang ditawarkan. Semua itu membutuhkan alat transportasi. Aku hanya berharap di tempat baru, para penghuni pasar lama mendapat tempat yang lebih baik.
            Pikiranku melayang pada Mbok Minah, ”Kemana dia akan pergi berjualan?” akankah dia menempati tempat baru.
            Keinginan untuk mengunjungi kedai kopi Mbok Minah muncul secara tiba-tiba. Belum sempat aku berpikir jauh, dua kakiku sudah mulai berjalan.
            ”Kopi susu satu Mbok,” kataku ketika sampai di depan kedai.
            Tidak ada kata yang keluar dari mulut Mbok Minah. Tangan terampilnya segera mengambil gelas kosong yang baru saja dicucinya. Pandanganku menyapu pada seisi kedai. Aku tidak melihat foto-foto yang kemarin di pajang. Kalenderpun sudah tidak berada lagi di tempatnya. Belum sempat keherananku bertambah, Mbok datang membawakan kopi susu.
            ”Ini kopi susu spesial, khusus untuk Mas Paijo” suara Mbok Minah terdengar berat. Senyumnya mengembang seperti terpaksa. Ada beban berat yang sedang menghimpit dadanya. Ingin rasanya aku menghapus kesedihan itu. Aku jadi teringat ibuku di kampung. Mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Mbok Minah. Hanya penampilannya yang berbeda. Kerut-kerut kulit Mbok Minah terlihat nyata. Mungkin kesedihan dan beban hidup menambah usianya terlihat senja.
            ”Besok Mbok tidak lagi berjualan, Mbok akan pulang kampung saja,” suara itu terdengar lagi, suara yang menambah suasana hatiku bertambah sedih. ”Kemarin anak Mbok yang sulung menyuruh Mbok pulang, dia ingin Mbok merawat anaknya yang masih kecil karena dia dan istrinya sibuk bekerja.” Aku hanya tersenyum mencoba menahan kesedihan.
            ”Mudah-mudahan Mbok bisa lebih senang hidup di tengah-tengah anak sendiri,” kataku mencoba menghibur.
            Beberapa kardus terlihat di balik pintu ketika angin sepoi-sepoi membukanya perlahan.
            Hari ini tidak ada lagi pisang goreng. Hanya kopi susu yang sudah mulai dingin.
* * *
            Pagi ini pasar lama menjadi sepi laksana kuburan. Hilir mudik becak yang membawa barang dan sayuran hampir tidak terlihat lagi. Beberapa kios lain disekitar pasarpun tak luput dari pembersihan. Aku merasakan kesepian yang belum pernah ku rasakan. Aku kehilangan teman bicara. Mbok Minah, mungkin hanya aku yang merasakan ketiadaannya. Dia lebih senang ’mengabdi’ pada anaknya. Meninggalkan beberapa langganan yang selalu menunggu pisang gorengnya matang.
            Aku menyusuri sisa-sisa pasar. Sebuah batu di depanku, aku tendang dan mengenai kaleng susu. Prang ... dia mengeluarkan suara.
            Aku berhenti ketika melihat seorang berwajah kumal berjalan mondar-mandir. Pakaiannya robek di beberapa tempat. Rambutnya memanjang tidak terawat. Aku seperti diingatkan dengan sesuatu. Aku bergegas membeli sebuah roti kering di sebuah toko yang agak jauh dari pasar. Kemudian aku kembali ke tempat laki-laki kumal itu berada. Aku memberikan bungkusan roti itu dan diapun berlalu.
            Ada rasa senang ketika aku telah membantu orang. Aku tidak perduli apakah dia memahami kebaikanku. Pandanganku masih menyusuri langkah laki-laki kumal yang mulai tidak terlihat. Perlahan senyum Mbok Minah tergambar di benakku.
* * *
            Aktivitas pagiku bertambah satu mulai hari ini. Membawakan sebuah roti untuk ’teman’ baruku. Mungkin pada awalnya dia kaget ketika bukan Mbok Minah yang membawakan makanan. Demikian juga makanannyapun berbeda, tidak lagi pisang goreng dan kopi, tetapi roti kering dan aqua gelas.
            Aku menikmati rutinitas itu. Setiap kali aku menyodorkan roti dan aqua gelas, hidungku seakan mencium aroma pisang gorengnya Mbok Minah. Bisa jadi bukan hanya aku yang merasakan itu, tetapi laki-laki itu?
            Hampir satu minggu aku melakukan aktivitas baruku.
            Hari ini dengan wajah berseri aku membawakan dua bungkus roti dan dua aqua gelas. Aku ingin memberikan lebih dari pada biasanya. Karena hari ini memang istimewa bagiku. Dan aku ingin diapun memgetahuinya. Aku tidak mau dianggap durhaka karena melupakan detik-detik menegangkan bagi ibu dan ayahku dua puluh lima tahun yang lalu.
            Laki-laki itu tidak berada di tempat biasa. Aneh, tidak seperti biasa.
Aku berkeliling di sekitar bekas pasar, berharap bertemu dengan dia. Pikiran jelek mulai bermain di otakku.
            ”Sreeet....,” air yang menggenang muncrat mengenai pakaianku, bersamaan dengan angkutan kota yang melaju kencang. Sopir gila! Aku mengumpat dalam hati.
Kakiku mulai menjauh dari tempat itu.
            Di pinggir jalan seorang penjual koran memajang barangnya. Terlihat tulisan-tulisan mencolok di muka untuk menarik minat orang untuk membeli. Pandanganku tertuju pada deretan koran itu, tapi pikiranku mengembara entah ke mana. PENGEMIS DAN GELANDANGAN DI RAZIA, menjadi judul salah satu dari koran itu. Rasa penasaran mulai muncul. Berharap ada berita yang sedang aku cari. Ya berita tentang keberadaan laki-laki kumal itu.
            Empat orang gelandangan dan pengemis di razia oleh petugas ketertiban, sementara seorang lagi melarikan diri dan ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah sungai. Diduga mayat laki-laki kumal itu terjun dari atas jembatan dan mengenai batu-batuan. 
            Deretan kata itu bagaikan kilat yang menyambar. Aku lemas, mungkinkah laki-laki itu.....? Aku tidak berani meneruskan.

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar