“
Heri, makan dulu sini,” aku berkata sambil menenteng bungkusan makanan. ”Meong”,
kucing itu mendekat dan mencium kakiku. Bagaikan sudah tahu jam makannya, Heri
kucing putih yang sudah aku pelihara selama 4 bulan mendekat. Seekor ikan bandeng
yang sengaja aku beli di pasar segera di tempatkan di atas piring dan diberikan
pada Heri. Dengan lahap dia makan hidangan yang sudah tersedia. Setelah
selesai dia menjilat-jilat kaki dan tubuhnya dengan lidahnya.
Aku memperhatikan tingkahnya sambil
posisi jongkok di depannya. ”Meong,” Heri menggelayut di kakiku, berputar dari
kaki kanan ke kaki kiri. Aku sangat
senang melihat perkembangannya. Teringat ketika empat bulan yang lalu ketika
dia ku temukan di pinggir jalan. Sebuah mobil pick up hampir saja menabraknya.
Dia sangat kotor, bulu-bulunya yang putih kelihatan berwarna kecoklatan
bercampur tanah. Tubuhnya yang kurus menandakan bahwa dia tidak mempunyai tuan
yang merawatnya. Insting keibuanku memaksaku untuk membawanya ke rumah. Aku memandikannya kemudian memberinya
makan.
Aku
memberinya nama Heri, bukan karena nama itu pernah berkesan tetapi nama itulah
yang ada dibenakku ketika aku akan menamainya. Hari-hari yang sepi selepas
pulang kantor, sekarang tidak ada lagi. Heri mampu menjadi teman curhatku.
Bagaikan mengerti bahasa yang aku ungkapkan, dia seringkali diam ketika aku menceritakan
sesuatu sambil wajahnya melihat ke arahku. Seperti waktu lalu ketika tiga
pemuda menggodaku dan mengataiku sebagai perawan tua. Aku menangis di
hadapannya. Anehnya aku merasa masalahku menjadi ringan ketika aku sudah menumpahkannya
pada Heri. Aku merasa kehampaanku tanpa pendamping mulai berangsur sirna.
# # #
Hari
ini aku pulang telat, karena ada lembur sehingga otomatis tidak sempat memberi
makan siang Heri. Hal itu memang bukan tidak sengaja. Biasanya kalau ada lembur
aku sering menitipkan Heri pada tetangga sebelah atau meletakan makanan dengan
jumlah banyak dipiring khususnya. Kebiasaan menitipkan dia memang bukan hal
yang wajar. Omongan bahwa aku orang yang aneh, sering terdengar dari beberapa
mulut yang usil dengan perbuatanku. Sehingga aku mulai malas untuk menitipkan
Heri pada siapapun.
Dengan
langkah yang seakan dipaksa, aku memasuki gerbang rumah.
”Heri,.........Heri.......,” aku berteriak dari
depan pintu. Tidak seperti biasanya Heri tidak langsung mendekat. Bahkan tidak
berusaha muncul menjemput tuannya datang. Dengan sedikit gelisah aku masuk dengan
terus mencoba memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban.
Rasa
gelisah dan rasa bersalah karena mengabaikan makan siangnya, membuatku takut
terjadi hal yang tidak diinginkan pada Heri. Aku terus mencari di setiap sudut
kamar dan di bawah kursi, tempat-tempat yang biasanya menjadi ajang bermain
Heri. Tapi nihil, Heri tidak ditemukan. Aku mulai cemas, keringat dingin mulai
keluar. Sudah tidak dirasakan lagi keletihan yang beberapa menit lalu menjamah
kebugaranku.
Tiba-tiba,
aku mendengar suara di atas genting rumah. Suara binatang berkejaran. Cricitt....cricit,
sepertinya suara tikus yang menjerit kesakitan. Mungkin dia kejepit ketika di
kejar temannya, atau ada binatang lain yang lebih besar yang merampas
kebebasannya. Kemudian, gedeblug... Heri muncul dengan membawa sesuatu di
mulutnya yang masih bercampur darah segar. Aku kemudian berteriak dan
menyumpahi Heri dengan kata-kata yang penuh caci yang tentu saja tidak akan
dipahami olehnya.
”Dasar
kucing tidak tahu diri, sudah di kasih makanan enak malah mencari binatang
kotor, awas kamu akan saya hukum!” Aku masih berteriak yang mengakibatkan Heri
melepaskan buruannya yang jatuh dilantai dengan percikan darah.
# # #
Matahari
masih berada di peraduannya, ketika kokok ayam sayup terdengar. Udara masih
terasa dingin menyebabkan orang lebih suka merapatkan selimutnya daripada
beranjak menuju tempat air.
Heri
yang sudah tiga hari mendekam di kerangkengnya menggeliat menggerakan tubuhnya.
Mungkin pegal karena sudah lama badannya tidak beraktivitas. Perbuatannya
memburu dan hampir memakan tikus membuatku sangat marah dan sengaja memberinya
pelajaran. Dia harus mendekam dalam penjara kucing selama seminggu. Penjara dari
triplek yang dibuat persegi dengan pintu yang selalu di kunci pakai gembok yang
khusus dibuat untuk membuat Heri jera dan tidak makan sembarangan.
Sementara
di kamar, tubuhku mulai menggigil, kemudian aku beranjak untuk mematikan AC, membetulkan
letak selimut dan kembali merebahkan badan. Maklum hari ini Minggu, hari yang
bisa khusus untuk istirahat dari seminggu aktivitas di kantor. Kalau bukan
Minggu, aku pasti sudah bangun dan
bersiap berangkat kerja, soalnya jarak antara kantor dengan rumah cukup
jauh. Kalau telat sedikit saja pasti terlambat, belum lagi antrian kendaraan
yang padat pada jam-jam berangkat ke kantor.
# # #
Hari
Senin siang, aku sudah berada di depan rumah. Pagi tadi di kantor aku hanya
mempersiapkan meeting dan membuat jadwal pertemuan dengan klien di kota lain.
Aku terkejut ketika melihat pintu rumah
sudah terbuka, padahal aku sangat ingat kalau pagi sebelum berangkat sudah
memastikan pintu terkunci.
Mungkin
ada pencuri masuk, begitu pikirku. Perasaanku mulai tidak enak. Rasa lelah yang
ada bercampur menjadi ketakutan dan cemas. Sambil mengendap-endap aku berjalan
masuk ke rumah. Tidak terdengar suara, berarti tidak ada orang dirumah.
Melewati ruang tamu tidak ada hal yang mencurigakan bahkan barang-barang pun
terlihat seperti sebelum ditinggalkan. Beberapa guci masih berdiri di
tempatnya, tv 29 incipun tidak berpindah tempat. Sekejap ketenangan meresap
dalam jiwaku. Sebelum melangkah lagi aku menarik nafas agar lebih tenang.
Ruang
tengah semuanya aku teliti dengan seksama, takut ada barang berharga yang
hilang. Tapi tetap tidak ditemukan kejanggalan, tidak ada sedikitpun perobahan.
Tidak ada benda yang bergeser walau sedikitpun. Semua terlihat wajar dan tidak terlihat
bekas orang yang masuk.
Tinggal
kamar yang belum dicek. Aku semakin cemas. Sambil mengumpulkan keberanian, aku
mengambil gunting dari laci untuk berjaga-jaga. Mungkin mereka masih ada di
kamar, atau mereka mencuri barang di kamarku.
Kaki
terasa sangat berat untuk digerakan. Korden dibuka, pintu terkuak. Tidak ada
kehidupan ataupun bekas kehidupan. Kamar masih rapih, bahkan selimut yang
selalu aku lipat sehabis bangun tidur masih rapi di atas ranjang. Almari yang
menjadi tempat menyimpan barang berharga masih terkunci rapat. Perlahan aku
membukanya dan memeriksa setiap perhiasan yang tersimpan. Cincin, kalung dan
beberapa perhiasan lain masih ada ditempatnya. Ah.... ternyata tidak ada
apa-apa. Mungkin saja aku tidak mengunci dengan benar waktu pagi tadi, sehingga
ketika ada angin sedikit saja pintu bisa terbuka.
Sesaat
aku merasakan ketenangan, bersyukur ternyata barang-barang berharga yang sudah
aku kumpulkan sedikit demi sedikit masih utuh. Aku bergegas ke dapur mengambil
air minum. Rasa haus yang tadi sempat terlupa, sekarang menyerang lagi. Aku
sangat senang sekali, kecemasanku berangsur sirna. Aku ingin berbagi
kebahagiaan, aku teringat Heri, ini hari ke empat dia disekap di kandangnya.
”Heri....
Heri,” aku memanggilnya sambil berjalan menuju ke kandangnya yang terkunci. Tak
lupa aku mengambil kunci yang selalu tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi
ternyata kunci itu tidak ada ditempatnya. Mungkin terjatuh, tapi tetap tidak ku
temukan. Aku kembali gelisah. Kasihan Heri, begitu ujarku berarti kandangnya
harus aku dobrak. Heri......Heri, kembali aku memanggilnya. Tapi tidak ada
suara sahutan. Mungkin Heri tidur kelelahan atau bahkan merasakan lapar. Ah
kasihan Heri.
Tepat
di depan kotak persegi empat tempat Heri menghabiskan hukumannya, aku terpana.
Kotak itu sudah terbuka. Dan Heri tidak ada di dalamnya. Aku linglung, penglihatanku
semakin kabur. Dan akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
# # #
Tidak ada komentar:
Posting Komentar