Jumat, 22 April 2016

KUCINGKU SAYANG


            “ Heri, makan dulu sini,” aku berkata sambil menenteng bungkusan makanan. ”Meong”, kucing itu mendekat dan mencium kakiku. Bagaikan sudah tahu jam makannya, Heri kucing putih yang sudah aku pelihara selama 4 bulan mendekat. Seekor ikan bandeng yang sengaja aku beli di pasar segera di tempatkan di atas piring dan diberikan pada Heri. Dengan lahap dia makan hidangan yang sudah tersedia. Setelah selesai dia menjilat-jilat kaki dan tubuhnya dengan lidahnya.
            Aku memperhatikan tingkahnya sambil posisi jongkok di depannya. ”Meong,” Heri menggelayut di kakiku, berputar dari kaki kanan ke kaki kiri. Aku sangat senang melihat perkembangannya. Teringat ketika empat bulan yang lalu ketika dia ku temukan di pinggir jalan. Sebuah mobil pick up hampir saja menabraknya. Dia sangat kotor, bulu-bulunya yang putih kelihatan berwarna kecoklatan bercampur tanah. Tubuhnya yang kurus menandakan bahwa dia tidak mempunyai tuan yang merawatnya. Insting keibuanku memaksaku untuk membawanya ke  rumah. Aku memandikannya kemudian memberinya makan.
            Aku memberinya nama Heri, bukan karena nama itu pernah berkesan tetapi nama itulah yang ada dibenakku ketika aku akan menamainya. Hari-hari yang sepi selepas pulang kantor, sekarang tidak ada lagi. Heri mampu menjadi teman curhatku. Bagaikan mengerti bahasa yang aku ungkapkan, dia seringkali diam ketika aku menceritakan sesuatu sambil wajahnya melihat ke arahku. Seperti waktu lalu ketika tiga pemuda menggodaku dan mengataiku sebagai perawan tua. Aku menangis di hadapannya. Anehnya aku merasa masalahku menjadi ringan ketika aku sudah menumpahkannya pada Heri. Aku merasa kehampaanku tanpa pendamping mulai berangsur sirna.  
# # #
            Hari ini aku pulang telat, karena ada lembur sehingga otomatis tidak sempat memberi makan siang Heri. Hal itu memang bukan tidak sengaja. Biasanya kalau ada lembur aku sering menitipkan Heri pada tetangga sebelah atau meletakan makanan dengan jumlah banyak dipiring khususnya. Kebiasaan menitipkan dia memang bukan hal yang wajar. Omongan bahwa aku orang yang aneh, sering terdengar dari beberapa mulut yang usil dengan perbuatanku. Sehingga aku mulai malas untuk menitipkan Heri pada siapapun.  
            Dengan langkah yang seakan dipaksa, aku memasuki gerbang rumah.
”Heri,.........Heri.......,” aku berteriak dari depan pintu. Tidak seperti biasanya Heri tidak langsung mendekat. Bahkan tidak berusaha muncul menjemput tuannya datang. Dengan sedikit gelisah aku masuk dengan terus mencoba memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban.
            Rasa gelisah dan rasa bersalah karena mengabaikan makan siangnya, membuatku takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Heri. Aku terus mencari di setiap sudut kamar dan di bawah kursi, tempat-tempat yang biasanya menjadi ajang bermain Heri. Tapi nihil, Heri tidak ditemukan. Aku mulai cemas, keringat dingin mulai keluar. Sudah tidak dirasakan lagi keletihan yang beberapa menit lalu menjamah kebugaranku.
            Tiba-tiba, aku mendengar suara di atas genting rumah. Suara binatang berkejaran. Cricitt....cricit, sepertinya suara tikus yang menjerit kesakitan. Mungkin dia kejepit ketika di kejar temannya, atau ada binatang lain yang lebih besar yang merampas kebebasannya. Kemudian, gedeblug... Heri muncul dengan membawa sesuatu di mulutnya yang masih bercampur darah segar. Aku kemudian berteriak dan menyumpahi Heri dengan kata-kata yang penuh caci yang tentu saja tidak akan dipahami olehnya.
            ”Dasar kucing tidak tahu diri, sudah di kasih makanan enak malah mencari binatang kotor, awas kamu akan saya hukum!” Aku masih berteriak yang mengakibatkan Heri melepaskan buruannya yang jatuh dilantai dengan percikan darah.
# # #
            Matahari masih berada di peraduannya, ketika kokok ayam sayup terdengar. Udara masih terasa dingin menyebabkan orang lebih suka merapatkan selimutnya daripada beranjak menuju tempat air.  
            Heri yang sudah tiga hari mendekam di kerangkengnya menggeliat menggerakan tubuhnya. Mungkin pegal karena sudah lama badannya tidak beraktivitas. Perbuatannya memburu dan hampir memakan tikus membuatku sangat marah dan sengaja memberinya pelajaran. Dia harus mendekam dalam penjara kucing selama seminggu. Penjara dari triplek yang dibuat persegi dengan pintu yang selalu di kunci pakai gembok yang khusus dibuat untuk membuat Heri jera dan tidak makan sembarangan.
            Sementara di kamar, tubuhku mulai menggigil, kemudian aku beranjak untuk mematikan AC, membetulkan letak selimut dan kembali merebahkan badan. Maklum hari ini Minggu, hari yang bisa khusus untuk istirahat dari seminggu aktivitas di kantor. Kalau bukan Minggu, aku pasti sudah bangun dan  bersiap berangkat kerja, soalnya jarak antara kantor dengan rumah cukup jauh. Kalau telat sedikit saja pasti terlambat, belum lagi antrian kendaraan yang padat pada jam-jam berangkat ke kantor.
# # #
            Hari Senin siang, aku sudah berada di depan rumah. Pagi tadi di kantor aku hanya mempersiapkan meeting dan membuat jadwal pertemuan dengan klien di kota lain. Aku  terkejut ketika melihat pintu rumah sudah terbuka, padahal aku sangat ingat kalau pagi sebelum berangkat sudah memastikan pintu terkunci.
            Mungkin ada pencuri masuk, begitu pikirku. Perasaanku mulai tidak enak. Rasa lelah yang ada bercampur menjadi ketakutan dan cemas. Sambil mengendap-endap aku berjalan masuk ke rumah. Tidak terdengar suara, berarti tidak ada orang dirumah. Melewati ruang tamu tidak ada hal yang mencurigakan bahkan barang-barang pun terlihat seperti sebelum ditinggalkan. Beberapa guci masih berdiri di tempatnya, tv 29 incipun tidak berpindah tempat. Sekejap ketenangan meresap dalam jiwaku. Sebelum melangkah lagi aku menarik nafas agar lebih tenang.
            Ruang tengah semuanya aku teliti dengan seksama, takut ada barang berharga yang hilang. Tapi tetap tidak ditemukan kejanggalan, tidak ada sedikitpun perobahan. Tidak ada benda yang bergeser walau sedikitpun. Semua terlihat wajar dan tidak terlihat bekas orang yang masuk.
            Tinggal kamar yang belum dicek. Aku semakin cemas. Sambil mengumpulkan keberanian, aku mengambil gunting dari laci untuk berjaga-jaga. Mungkin mereka masih ada di kamar, atau mereka mencuri barang di kamarku.
            Kaki terasa sangat berat untuk digerakan. Korden dibuka, pintu terkuak. Tidak ada kehidupan ataupun bekas kehidupan. Kamar masih rapih, bahkan selimut yang selalu aku lipat sehabis bangun tidur masih rapi di atas ranjang. Almari yang menjadi tempat menyimpan barang berharga masih terkunci rapat. Perlahan aku membukanya dan memeriksa setiap perhiasan yang tersimpan. Cincin, kalung dan beberapa perhiasan lain masih ada ditempatnya. Ah.... ternyata tidak ada apa-apa. Mungkin saja aku tidak mengunci dengan benar waktu pagi tadi, sehingga ketika ada angin sedikit saja pintu bisa terbuka.
            Sesaat aku merasakan ketenangan, bersyukur ternyata barang-barang berharga yang sudah aku kumpulkan sedikit demi sedikit masih utuh. Aku bergegas ke dapur mengambil air minum. Rasa haus yang tadi sempat terlupa, sekarang menyerang lagi. Aku sangat senang sekali, kecemasanku berangsur sirna. Aku ingin berbagi kebahagiaan, aku teringat Heri, ini hari ke empat dia disekap di kandangnya.
            ”Heri.... Heri,” aku memanggilnya sambil berjalan menuju ke kandangnya yang terkunci. Tak lupa aku mengambil kunci yang selalu tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi ternyata kunci itu tidak ada ditempatnya. Mungkin terjatuh, tapi tetap tidak ku temukan. Aku kembali gelisah. Kasihan Heri, begitu ujarku berarti kandangnya harus aku dobrak. Heri......Heri, kembali aku memanggilnya. Tapi tidak ada suara sahutan. Mungkin Heri tidur kelelahan atau bahkan merasakan lapar. Ah kasihan Heri.
            Tepat di depan kotak persegi empat tempat Heri menghabiskan hukumannya, aku terpana. Kotak itu sudah terbuka. Dan Heri tidak ada di dalamnya. Aku linglung, penglihatanku semakin kabur. Dan akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.   

# # #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar