“Kamu mau tidak jadi da’inya As-Shaffa?”
pertanyaan ini sangat mengagetkanku. Bukannya karena aku tidak bisa berdakwah,
itukan makanan keseharianku. Tapi diutus untuk menjadi da’i di wilayah yang
sama sekali belum aku ketahui, hmmm… kayaknya harus pikir-pikir lagi!
“Selama Ramadlan
kan libur,
paling kamu pulang kampung,” pertanyaan
kali ini semakin memojokanku. Aku tahu menolak berdakwah itu berdosa, coz
setiap orang wajib berdakwah, aku ingat salah satu Hadis Nabi ‘sampaikan apa yang datang dariku walaupun
hanya satu ayat’. Orang yang hanya hafal satu ayat saja wajib berdakwah
apalagi aku santri Ma’had Al-Irsyad Salatiga, yang sudah beberapa kali membaca bulughul maram, fathul majid, dan
beberapa kitab lain.
Kali ini aku ga
mungkin bisa mengelak, begitu pikirku. Aku ga tahu apakah ini sebuah rezeki
karena aku dapat amanah baru. Ataukah mimpi buruk, karena otomatis jadwal
liburku terpangkas selama sebulan.
Sepertinya
Ustadz Imran bisa membaca kegalauanku. Makanya beliau memberikan kesempatan
bagiku untuk berfikir. Ustadz Imran adalah pengurus Yayasan As-Saffa yang
selalu rutin mengirimkan da’i ke setiap lokasi yang dianggap ‘rawan’, khususnya
pada Bulan Ramadlan.
Aku masih diam
membisu, pikiranku berkecamuk. Aku sudah rindu kampung halaman. Ayah ibuku
pasti senang menyambut buah hatinya pulang. Bayangkan sudah satu tahun aku
tidak pulang, berarti setahun juga aku tidak bertemu dengan ibuku. Aku rindu
goreng mendoan* buatan ibuku. Bagiku
tidak ada makanan paling enak selain mendoan,
apalagi dimakan ketika masih hangat. Hmmmm… perutku jadi keroncongan.
“Begini saja,
saya yakin kamu di kampung juga berdakwah, tapi kalau kamu menjadi da’inya
As-Shafa, selain dapat amal shaleh, teman baru, dan kamu juga akan dapat honor
lho,” Ustadz Imran tahu aja kelemahanku. Aku jadi tersenyum malu. Hee…boleh
juga pikirku, itung-itung nambah jatah THR-ku.
# #
#
Sebetulnya hari
itu aku rencana mau pulang kampung ke Cilacap. Pakaian ganti selama sebulan
sudah aku siapkan di tas besarku. Malah beberapa kitab ‘kuning’ (karena sudah
lecek) tak terlewatkan. Tapi aku ingat pesan ibuku kalau aku mau pulang mampir
sebentar satu atau dua hari ke Yogya menengok mbahku. Pasti beliau sangat
senang sekali melihat salah seorang cucunya berkunjung. Aku jadi ingat pertanyaan
khasnya kalau aku datang, ‘sopo iki?
Betul sekali,
mbahku sangat senang melihat aku datang. ‘Sesajen’pun disiapkan. Ayam goreng
tambah gudeg khas yogya dan goreng krupuk emping. Lengkaplah sudah, dan tentu
saja aku tidak berniat menyia-nyiakan semua yang sudah terhidang. Aku takut
mbahku tersinggung kalau makanannya tidak aku habiskan, he…he..padahal
lapar.
Satu haripun
berlalu, dan aku harus segera meninggalkan singgasana mbahku. Langsung
pulang…..?
Ntar dulu deh,
aku mau ke Yayasan As-Shaffa minta beberapa buku gratisan. Lumayan untuk nambah
koleksi pustaka pribadiku. Kan
bukan hanya aku yang membaca, beberapa anggota keluargaku bahkan tetanggaku
sering meminjam bukuku. Sialnya kalau lagi hari baik, buku yang dipinjam
kembali dengan utuh. Kalau lagi apes, datang dengan kondisi sudah rusakpun
lumayan. Bahkan beberapa bukuku hilang ketika dipinjam.
Di sinilah aku
harus mendesain ulang rencana liburan ramadlanku, setelah bertemu Ustadz Imran.
# #
#
“Kamu saya utus
ke Banyumas,” Ustadz Imran memberikan keterangan ketika aku sudah tak kuasa
menolak beliau. Sempat aku bertanya kenapa harus aku yang menjadi da’i, yang
dijawabnya dengan santai ‘Kalau kamu mau kenapa cari yang lain’. Sebelum aku
menyatakan siap, aku mengajukan syarat tiga hari sebelum lebaran aku boleh
pulang, yang diamini oleh beliau. So, deal-lah kesepakatan.
“Di sana kamu akan bertemu
dengan Pak Rusydi, pengurus Mesjid At-Taqwa,” Ustadz Imran menambahkan.
Kemudian aku diberikan rute dan kendaraan yang harus aku tumpangi.
“Kapan aku harus
berangkat?” aku mencoba bertanya. Aku mulai mempelajari karakter Ustadz yang
satu ini. Karena otomatis kalau aku jadi ‘ajudan’nya, aku akan selalu banyak
berhubungan dengannya. Apalagi kalau ternyata ada problem di lokasi dakwah, dan
itu yang tidak aku harapkan.
Sepertinya
orangnya easy going, begitu
perkiraanku. Di sini aku menemukan
persamaan tipe denganku yang tidak terlalu suka dengan urusan yang formil.
Sampai penugasan akupun untuk menjadi da’i tidak dilengkapi surat pengantar dari Yayasan.
“Lebih cepat
lebih bagus,” Ustadz Imran menjawab. “Kira-kira kapan kamu siap diterjunkan,”
aku tersenyum mendengar kata-katanya. Emangnya terjun payung.
“Besok tanggal
satu Ramadlan, gimana kalau sekarang kamu berangkat, biar tidak kesorean,”
Ustadz Imran memberi usul. Menurutnya jarak tempuh ke lokasi dari Yogya sekitar
empat jam. Sedangkan sekarang jam sebelas lewat lima menit, berarti sampai lokasi sekitar jam
tiga.
Aku pikir boleh
juga. Kalau berangkat besok sudah puasa. Sedangkan bepergian jauh, ketika berpuasa
pasti melelahkan. Akupun mengiyakan dan berpamitan kepada Ustadz Imran dan
beberapa staff yang lain.
“Nanti aku
kontak Pak Rusydi, kamu tenang saja, kamu tinggal datang ke rumahnya dan bilang
bahwa kamu utusan Ustadz Imran dari Yayasan As-Shoffa,” beliau menambahkan
sambil menjabat erat tanganku.
Sebelum aku
pergi, Ustadz Imran memberikan beberapa lembar kertas bergambar mantan Presiden
Soeharto, aku hitung ada sepuluh. He…he.. aku bukan matre lho.
# #
#
“Bagaimana
perjalannya Fauzi,” Pak Rusydi menyambutku dengan ramah, bagaikan menyambut
kedatangan anak semata wayangnya yang sudah lama merantau. Aku senang sekali
ditanya langsung memakai namaku, berarti Ustadz Imran sudah meneleponnya dan
menjelaskan siapa aku sebenarnya.
“Alhamdulillah
menyenangkan,” aku menjawab dengan muka berseri. Bukan hanya karena sudah
menemukan tempat tinggal Pak Rusydi, tetapi juga keramahan yang sangat tulus
terpancar dari wajahnya. Ternyata mencari rumah di desa sangat mudah. Asal tahu
nama, semua orang tahu rumahnya. Itulah pengalamanku ketika menanyakan rumah
Pak Rusydi di sebuah warung nasi.
Pak Rusydi
tinggal bersama istri dan satu anak lelaki yang sebaya umurnya denganku. Beliau
mengajar di SMP Negeri tak jauh dari rumahnya. Sedangkan istrinya adalah ibu
rumah tangga biasa. Andi, nama anaknya droup out dari IPB, belum tahu persis
sebabnya. Dan itu bukan persoalan penting bagiku.
“Kamu pasti
lelah, sekarang minum dulu airnya mumpung masih hangat,” Pak Rusydi
mempersilahkan aku minum teh manis yang baru saja di sediakan oleh istrinya. Sambil minum teh manis dan makan Goreng
Ubi, Pak Rusydi menceritakan perjalan hidupnya sampai bisa tinggal di Banyumas.
“Sebetulnya saya asli Pekalongan, kebetulan
diangkat PNS di desa ini, sekaligus mendapatkan istri orang sini juga, jadi saya
tinggal disini.”
Yang menarik saya adalah cerita beliau tentang
adanya sebuah gua yang terletak di bukit desa sebelah yang sering dipakai untuk
prosesi ibadah agama tertentu. Kalau tidak salah namanya Gua Maria.
Sayang sekali mulutku tidak mau kompromi sehingga
aku menguap sampai beberapa kali. Secara otomatis ‘dongeng’ hari ini selesai,
dan aku didaulat masuk kamar untuk istirahat.
# # #
Malam ini tarawih pertama. Aku agak kikuk ketika
berangkat ke masjid. Aku takut jumlah rakaat shalatku berbeda dengan masyarakat
di sini. Kenapa tadi di rumah aku tidak mencari info terlebih dahulu pada Pak Rusydi, aku
mengumpat sendiri dalam hati. Untungnya aku tidak disuruh menjadi imam. Tidak
kebayang kalau aku menjadi imam shalat dan ternyata aku melakukan sesuatu yang
tidak biasa dilakukan oleh masyarakat, bisa-bisa saat itu juga aku dipulangkan
karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.
Masyarakat umum biasanya memandang masalah fikih
adalah nomor satu. Perbedaan di dalamnya bagaikan perbedaan aqidah. Maka aku
harus sangat hati-hati untuk urusan ini.
Seperti ramadlan sebelumnya, sehabis shalat
tarawih ada ceramah singkat yang sering disebut kultum. Pak Rusydi yang
kebetulan menjadi imam tarawih langsung mempersilahkan aku untuk menjadi
pembuka kultum di ramadlan ini. Dengan gaya kyai senior, aku mengawali kultum
dengan muqadimah yang sangat lengkap. Aku menjelaskan tentang puasa dan hal-hal
yang sunah untuk dilakukan. Surat Albaqarah ayat 183 tak lupa menjadi referensi
utama.
Usai ceramah aku dikelilingi oleh bapak-bapak yang
ingin sekedar berkenalan dan bertanya sesuatu. Suasana kekeluargaan seperti
inilah yang slalu ku rindukan. Suasana yang jauh dari sifat individualistis.
Ketika ada orang baru, apalagi da’i seperti aku, disambutnya dengan sangat
terbuka.
Perbincangan berlanjut pada aktivitas yang
biasanya dilakukan dalam rangka meramaikan Masjid At-Taqwa. Seorang jamaah
menjawab dengan sedikit keluhan bahwa aktivitasnya sangat kurang. Beliau
menginginkan adanya pengajian Bapak-bapak, pengajian Ibu-ibu dan pengajian
umum. Selama ini yang ada hanya pengajian anak-anak sore hari yang diajar oleh
Kanti.
Topik yang terakhir ini membuatku sangat tertarik
untuk mengoreknya.
“Siapa Kanti, Pak,” aku mencoba bertanya.
“Dia anaknya Pak Rustam, masih SMA kelas tiga,
tapi semangatnya luar biasa,” salah satu jamaah memberikan penjelasan.
“Kalau dia tidak ada otomatis anak-anakpun libur
mengaji, soalnya tidak ada pengganti,” jamaah yang lain menambahkan.
Aku mengambil nafas tertahan menyayangkan hal ini.
Ternyata masih ada daerah yang sangat memerlukan guru ngaji.
Malam semakin larut, satu dua orang jamah sudah
lebih dahulu pamit pulang.
# # #
Matahari masih menyisakan panasnya sore ini. Aku
sengaja pergi ke Masjid untuk melihat anak-anak mengaji, sekalian aku ingin
berkenalan dengan gurunya. Siapa ya….. aku coba mengingat-ingat. Kanti…, ya
itulah namanya. Akhirnya aku ingat juga, maklum seringkali aku tidak terlalu
menghapal nama, apalagi nama perempuan. Takut mengotori hati, cie…..
Alif, Ba…, dari luar sayup-sayup terdengar suara
anak-anak mengaji. Dan beberapa kali pengulangan karena pengucapan kata-katanya
kurang fasih. Ada sekitar dua puluh anak laki-laki dan perempuan yang ikut
mengaji. Dan memang benar ternyata hanya seorang guru yang mengajar.
‘Shadaqallahul Adziem’, suara anak-anak serempak
mengakhiri belajar Qurannya.
“Assalamu ‘Alaikum,” aku mencoba mendekati Kanti
dengan tetap menjaga jarak. Dia bukan muhrimku, batinku berkata.
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh, eh mas
Fauzi” Kanti menjawab salamku dengan lengkap. Sambil membereskan beberapa buku
iqra ke tempatnya, dia mengucapkan terimakasih kepadaku yang sudah mau mengajar
di kampungnya. Aku sangat tersanjung dengan ucapannya, apalagi yang mengucapkan
akhw…eh maksudnya cewek.
Saat itulah aku berusaha mencari informasi untuk
program dakwahku. Kanti sepertinya sangat senang sekali, dan bisa berbagi peran
dalam berdakwah denganku.
“Di sini ada juga LSM yang bergerak dalam bidang
anak, tapi kurang tahu namanya, aktivitas mereka biasanya hari minggu,” Kanti
menjelaskan dengan semangat. Menurut dia kegiatan LSM itu diantaranya
menggambar, membaca dan beberapa kali rekreasi keluar.
“Berarti di samping anak-anak mendapatkan ilmu
agama, mereka juga dapat ilmu lain ya,” aku salut juga ada LSM yang sampai ke
desa untuk mengajar anak-anak.
# # #
Seperti biasa sehabis shalat shubuh aku melakukan
olah raga sebentar. Lari pagi selama setengah jam agar jantungku sehat.
Suasana sangat sepi, hanya beberapa ibu-ibu yang
terlihat membawa sayuran. Mungkin mau dijual ke pasar, pikirku.
Di kejauhan aku melihat kerumunan anak-anak dengan
pakaian sudah rapi. Mungkin mereka akan rekreasi, atau lari pagi? Tak sabar
akhirnya aku mendekat ke kerumunan mereka. Ternyata anak-anak itu mengelilingi
seorang anak muda yang memakai kaos warna hijau kuning. Ada tulisan LSM
pemerhati anak. Oh berarti ini yang sering mengajari anak-anak. Beruntung
sekali aku bertemu dengan mereka. Ingin sekali rasanya bertukar pikiran dan
berbagi pengalaman selama mendampingi anak. Langkahku semakin mendekat ke
kerumunan anak-anak. Beberapa anak terlihat tertawa riang, seperti sedang
mendapatkan hadiah. Bahkan beberapa anak laki-laki berebut mengambil sesuatu
yang ada di tangan seorang anak muda itu. Aku tersenyum dengan tingkah mereka.
Ketika jarakku dengan mereka sudah tidak bersekat, hatiku kelu, mulutku tak
mampu bersuara, ternyata mereka memang sedang membagikan sesuatu. Permen….!!
# # #
Hari Minggu besok anak-anak akan diajak
rekreasi oleh mas-mas dari LSM, Mas Fauzi bisa ikut mendampingi ga? Maaf bukan
Kanti Suudzon, tapi Kanti curiga dengan LSM itu.
Sebuah surat tertanda Kanti H2O Au,
singgah ke tanganku melalui perantara Agus adik bungsunya. Sudah beberapa kali
dia menulis sesuatu kalau ada hal penting dan mendesak. Dan di akhir tulisannya
pasti tertulis H2O Au. Waktu pertama kali melihat tanda
itu wajahku mengerut mencari makna dari tanda itu. Aku tahu itu nama senyawa,
tapi apa maksudnya. H2O artinya air, sedangkan Au adalah
emas. Air emas, …. Apa maksudnya? Air itukan sinonimnya banyu jadi Banyu-emas,
eh…..Banyumas. Akhirnya aku dapat membaca teka teki itu.
Surat tersebut mengingatkan aku ketika salah
seorang pengurus LSM tersebut membagikan permen. Mungkin firasat Kanti benar,
aku ingin tahu aktivitas mereka di luar.
Tepat jam 7 pagi Hari Minggu, aku sudah mandi dan
bersiap untuk pergi. Aku mengajak Andi anaknya Pak Rusydi untuk ikut dalam
‘misi’ ini. Kebetulan aku ga terlalu pandai mengendarai sepeda motor, so…
Andilah yang jadi ojeknya.
Bus mini yang membawa rombongan anak-anak bergerak
ke arah selatan, ke daerah Buntu*, meninggalkan segudang tanya yang ada di
benakku. Dan dengan setia akupun mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak.
Aku tidak mau aksiku membuntuti mereka diketahui. Ternyata rombongan mengarah
ke Pantai Widara Payung. Sebuah pantai yang masih tergolong sepi dan cukup aman
untuk membawa anak-anak untuk berenang. Hmmm, …… ternyata kecurigaanku tidak
terbukti. Akupun merasa sedikit bersalah karena sudah mencurigai mereka.
Kurang lebih satu jam anak-anak dan tiga pengurus
LSM tersebut berpesta air. Aku tersadar ketika mobil mulai bergerak kembali ke
arah selatan, jalan pulang. Maafkan aku teman, aku sudah mencurigai kalian,
bisikku dalam hati dan mohon ampun kalau sudah menodai amaliah puasaku.
Bus mini melaju dengan kencang diselingi dengan
suara-suara mungil terdengar oleh telingaku. Ah senangnya jadi anak-anak !!!
Desa yang dituju sudah terlewat, tetapi ternyata
bus tetap berjalan pelan. Mungkin masih ada wisata yang lain, begitu ujarku
pada Andi di depanku.
Bus berbelok melewati jalan kecil tak beraspal,
dan kemudian berhenti ketika jalannya
tidak cukup dilewati mobil. Anak-anak keluar berhamburan diikuti tiga
pengurus LSM itu. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak, sambil
menyenandungkan lagu-lagu dan yel-yel penggugah semangat. Beberapa ilalang
tumbuh di sepanjang jalan itu. Mungkin ada acara out bond, pengenalan alam pada
anak-anak. Memang pendidikan alam seharusnya diberikan pada anak-anak. Agar
mereka merasa memiliki alam dan bisa menjaganya.
Akhirnya sampailah pada sebuah dataran yang cukup
luas. Mereka semua berhenti berjalan. Jantungku berdetak kencang…..
Di depanku
terlihat sebuah gua. Dan tepat di atas pintu gua ada sebuah tanda yang sangat
jelas terlihat dari jarak lima
belas meter, tempat aku bersembunyi. Palang kayu yang sudah cukup tua tapi
masih terlihat kuat. SALIB !!!!
# #
#
Mendoan : Tempe
pakai tepung terigu yang digoreng setengah matang
Buntu : Nama sebuah daerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar