“Heeh……
pengumuman, minggu depan kita sahur bareng!!” Nety si cewek tomboy asistennya
sang kosma (ketua kelasnya mahasiswa) memberikan sebuah informasi penting hasil
sidang darurat yang dihadiri pemerintahan kelas dan genk of C-4 ( Cewek centil
caem dan culas), Nety, Nita, Rita dan Sinta. Walaupun semuanya berjilbab,
itupun tak lebih hanya karena kewajiban di kampus. Dan bisa ditebak, tentu saja
cara berjilbabnya yang tetap ngetat alias transparan. Biar berjilbab yang penting
gaul, begitu semboyan mereka.
“Ga salah tuh, bukan buka
puasa bareng!” seorang anak cowok mencoba klarifikasi.
“Buka puasa bareng dah basi, sekarang kita
buat trend baru sahur bareng!” Nety ngotot dengan info yang dibawanya.
Menurutnya kalau sahur bersama berarti juga buka puasa bersama. Tapi kalau cuma
buka puasa bersama belum tentu sahur bersama.
Kelasku, termasuk kelas yang
paling solid. Kalau ada kegiatan
semua wajib ikut, bahkan kalau perlu yang sedang sakit dirumahsakitpun diminta
cuti sementara. Sereeem ….!
Terkadang
aku yang agak gerah melihat tingkah mereka. Solid sih ok, kan Rosulullah juga
selalu menanamkan kekeluargaan. Tapi kan solid tidak hanya dinilai dari
kehadiran ketika acara bareng thok, apalagi kalau acaranya ga syar’i! Terkadang aku harus bolos acara
kelas kalau memang ternyata ada kegiatan yang lebih penting. Seperti dua minggu
kemarin ketika teman-teman mengadakan wisata ke Pangandaran. Aku terpaksa
absent karena harus mengisi halaqah
tarbiyah. Dan bisa ditebak, aku menjadi bulan-bulanan teman-teman.
“Susah ya jadi ustadz, terlalu banyak
umat, “ geli juga aku mendengar teman-teman mengatakan itu.
# # # #
Siang
hari sangat terik. Matahari membiarkan panasnya membakar kulit yang sengaja
menantang kuasanya di siang hari. Di kamar kost, aku merebahkan badan pada
kasur kapuk yang sudah sangat lapuk. Walaupun hampir setiap minggu sekali aku
tak pernah absent membiarkannya menghirup panas matahari, tetap saja tak banyak
berpengaruh. Tapi dia sangat berjasa menemani setiap malamku untuk menggapai
gelar sarjana agama. Sebuah gelar yang sangat didambakan oleh keluargaku di
kampung.
“Kalau kamu sudah sarjana, maka pesantren
Babussaadah ini biar kamu yang mengelola,” begitu perkataan ayahku.
Bayanganku kembali pada 2 jam
yang lalu, ketika suara cemprengnya Nety menggedor gendang telingaku. Buka
bersama yang dilanjutkan dengan sahur bersama yang diikuti tiga puluh orang
laki-laki dan perempuan. Oh …..my God, berarti harus nginep bareng dong !!
Aku menyangka acara ini pasti dipenuhi
dengan hal-hal yang berbau maksiat. Aku memutar otak, mencari celah
untuk menyelamatkan diri dari acara sialan ini.
Bukankah puasa dilakukan untuk mendekatkan
diri pada Yang Maha Kuasa. Memperbanyak dzikir, iktikaf di masjid,
bersedeqah, membaca quran dan seabreg kegiatan amaliah ramadlan lainnya. Kadang
aku merasa bahwa teman-temanku terlalu ‘kreatif’ membikin acara. Sampai acara
yang ga mungkinpun jadi mungkin untuk dilakukan. Ngomong ke ketua bahwa aku ga
bisa ikut acara tersebut percuma, jawabannya sudah bisa ditebak ‘kepentingan
pribadi tidak boleh menghalangi kepentingan kelompok’.
Kebayang kalau aku sampai ikut
acara itu, tidur bersama campur aduk antara ikhw eh… laki-laki dengan akhw…eh
perempuan. Pasti seru ceritanya, wajahku bisa nampang menjadi top of the month-nya mading. Kemudian
aku diwawancara koran suara kampus sebagai anak lembaga dakwah yang liberal.
# # #
Pagi
itu cuaca cerah. Matahari mengintip dari balik dedaunan yang tumbuh dihalaman
rumah Pak Ali, tempat aku kost. Aku bergegas menyiapkan peralatan mandi.
Sebagai anak kost, semboyan fastabiqul
khairat, berlomba-lomba mandi duluan sudah menjadi budaya. Terlambat
sedikit maka harus rela mengantri selama satu jam menunggu giliran. Tentu saja
aku sudah sangat berpengalaman dalam masalah ini. Sehingga aku berusaha
membiasakan untuk mandi pagi-pagi sekali, minimalnya setelah shalat shubuh dan qiraatul quran.
Sebetulnya
hari ini aku agak malas ke kampus. Aku tidak mau ketemu dengan makhluk yang
bernama Nety dan C-4 nya. Kemarin iuran untuk acara sahur bareng sudah dimulai.
Semua personel kelas ditodong satu persatu untuk menyerahkan uang lima puluh
ribu. Sebagai anak kost, uang segitu bukanlah sedikit. Perlu waktu beberapa
minggu bahkan sampai sebulan untuk mengumpulkan uang segitu banyaknya. Terpaksa
aku minta tempo untuk membayarnya. Dan ternyata masih ada sepuluh orang lagi
yang mengalami nasib sepertiku.
“Ok,
tapi besok hari terakhir pengumpulan iuran!” Nety mengatakan itu kemarin
didepan kelas yang diikuti suara riuh teman-teman yang lagi bokek. Dia memang
bertugas menarik iuran dan kemudian menyerahkannya pada Bela sang bendum.
Ternyata
hari inipun aku belum punya uang. Semalam aku berusaha mencari pinjaman kepada
Andi, teman sekamarku. Ternyata dia lebih parah dariku, weselnya macet sudah
tiga bulan yang lalu.
Perasaan
males untuk mengikuti acara tersebut, tidak menghalangi aku untuk tetap
membayar iuran, walau harus membobol sisa kas di atmku atau bahkan ngutang.
Terpaksa hari ini aku harus pinjam lagi sama Pak Ali yang sudah aku anggap
sebagai bapakku.
# # #
“Aku
mau ikut acara sahur bareng kalau acaranya di tempatku, dan aku yang
mendesainnya,” akhirnya aku ngomong juga ke sang ketua kelas. Aku mencoba
mencari jalan tengah diantara keinginan teman-temanku yang tetap ngotot dengan
acara sahur barengnya. Aku ingin menjadi bagian dari mereka, komunitas kelas
yang sangat heterogen. Ada Nety si
tomboy girl, Lisa si kutu buku, Armand si vokalis band kampus, sampai akupun
kecipratan gelar si ustadz.
Mungkin
aku bisa saja menghindar dari acara itu. Bisa saja aku pura-pura pulang kampung
karena ada acara keluarga. Adikku di sunat, atau kakekku nikah lagi (ga mungkin
ya…). Tapi ada yang mengganjalku, aktivitasku di Lembaga Dakwah memaksa aku
untuk berbuat sesuatu. Ya, aku ga mungkin membiarkan teman-teman menodai ibadah
puasanya dengan aktivitas yang menurutku konyol. Aku harus berbuat sesuatu.
Sehingga lahirlah ide melaksanakan acara itu di rumahku. Tepatnya di rumah
bibiku yang memang jarang ditempati. Alhamdulillah sang ketua menanggapi dengan
positif dan menyarankan membawa masalah itu ke dewan kelas, minggu depan.
# # #
“Aku
ga setuju banget, akukan sudah nyiapin acaranya di puncak, ya ga coy…!” Nety
ngotot tidak mau menerima usulku. Cara bicaranya yang bak orator memberi api
semangat pada tiga anggota C-4 yang lain untuk menganggukan kepala.
“Mungkin lebih baik kalau aku melaporkan
hasil pemasukan keuangan, totalnya ada satu juta lima ratus ribu rupiah. Anggaran
yang dibutuhkan untuk berangkat ke puncak sekitar satu juta tujuh ratusan. Itu
termasuk biaya transportasi sewa bus, buka puasa dan sahur bersama. Sedangkan
kalau di rumah si ustadz kita bisa menekan dari transportasi,” Bela menjelaskan
dengan panjang lebar.
“
Bendum sudah disogok sama si ustadz tuh, jadi kelihatan sekali pro dia,” Nety
dan C-4 masih mencoba mempertahankan argument mereka. Menurutnya acara itu bisa
menjadi ajang merekatkan persaudaraan kita, sekaligus ajang refreshing dari
kuliah.
“Ok,
semua sudah jelas, kalau teman-teman ikhlas menambah iuran kita, acara di puncak
its ok….., tapi kalau tidak
mau…….berarti kita tidak mungkin bisa menolak usul si Ustadz,” Sang Ketum mulai
mengarahkan pembicaraannya pada usulku. Alhamdulillah aku bersyukur, tidak
sia-sia kemarin aku habis-habisan menerangkan tentang pergaulan islami antara
laki-laki dan perempuan.
Sudah bisa ditebak, teman-teman bukannya
tidak mau pergi ke puncak, mereka hanya tidak mau nambah biaya lagi. So… acara
jadilah di rumahku.
# # #
Hari
ini udara sangat cerah. Awan biru berjalan beriringan ditemani suara nyaring
burung gereja di atap rumahku. Sementara di dalam rumah, aku mempersiapkan
semuanya, menyambut tamu-tamu istimewaku. Sore hari nanti mereka akan datang.
Aku sudah mendesain semua kegiatan sehati-hati mungkin. Aku tidak akan
membiarkan waktu luang sedikitpun untuk terjadinya khalwat. Lantai satu untuk anak cowok dan lantai dua untuk anak
cewek. Pertemuan hanya dilakukan di lantai satu ketika buka bersama yang
dilanjutkan dengan shalat jamaah tarawih kemudian kultum. Pertemuan kedua
ketika akan melaksanakan sahur yang kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh
bersama.
Aku sangat paham bahwa apa yang aku
lakukan sangat beresiko. Bukan hanya sebatas fitnah, bisa jadi aku
dijauhi aktivis dakwah yang lain. Tapi aku juga paham bahwa berdakwah
memerlukan tahapan. Tuhan, ampuni hambamu
yang lemah ini. Hanya ini yang bisa hamba lakukan, hamba hanya berharap apa
yang hamba lakukan adalah bagian dari dakwah menghindarkan teman-teman dari
kemungkinan terjerumus pada aktivitas yang terlarang. Aku sering berfikir, terkadang kita disibukan dengan dakwah kepada orang yang
sangat jauh dari kita, sedangkan teman di dekat kita tidak pernah
tersentuh.
Suara jam dinding berdetak berirama,
melantunkan nada-nada gelisah yang masih setia menemaniku. Aku
membiarkan lamunanku mengembara, mencoba merangkai tahap-tahap dakwah yang
mungkin bisa aku lakukan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar