Jumat, 22 April 2016

SAHUR BARENG


            “Heeh…… pengumuman, minggu depan kita sahur bareng!!” Nety si cewek tomboy asistennya sang kosma (ketua kelasnya mahasiswa) memberikan sebuah informasi penting hasil sidang darurat yang dihadiri pemerintahan kelas dan genk of C-4 ( Cewek centil caem dan culas), Nety, Nita, Rita dan Sinta. Walaupun semuanya berjilbab, itupun tak lebih hanya karena kewajiban di kampus. Dan bisa ditebak, tentu saja cara berjilbabnya yang tetap ngetat alias transparan. Biar berjilbab yang penting gaul, begitu semboyan mereka.
            “Ga salah tuh, bukan buka puasa bareng!” seorang anak cowok mencoba klarifikasi.
            “Buka puasa bareng dah basi, sekarang kita buat trend baru sahur bareng!” Nety ngotot dengan info yang dibawanya. Menurutnya kalau sahur bersama berarti juga buka puasa bersama. Tapi kalau cuma buka puasa bersama belum tentu sahur bersama.
Kelasku, termasuk kelas yang paling solid. Kalau ada kegiatan semua wajib ikut, bahkan kalau perlu yang sedang sakit dirumahsakitpun diminta cuti sementara. Sereeem ….!
            Terkadang aku yang agak gerah melihat tingkah mereka. Solid sih ok, kan Rosulullah juga selalu menanamkan kekeluargaan. Tapi kan solid tidak hanya dinilai dari kehadiran ketika acara bareng thok, apalagi kalau acaranya ga syar’i! Terkadang aku harus bolos acara kelas kalau memang ternyata ada kegiatan yang lebih penting. Seperti dua minggu kemarin ketika teman-teman mengadakan wisata ke Pangandaran. Aku terpaksa absent karena harus mengisi halaqah tarbiyah. Dan bisa ditebak, aku menjadi bulan-bulanan teman-teman.
            “Susah ya jadi ustadz, terlalu banyak umat, “ geli juga aku mendengar teman-teman mengatakan itu.
# # # #
            Siang hari sangat terik. Matahari membiarkan panasnya membakar kulit yang sengaja menantang kuasanya di siang hari. Di kamar kost, aku merebahkan badan pada kasur kapuk yang sudah sangat lapuk. Walaupun hampir setiap minggu sekali aku tak pernah absent membiarkannya menghirup panas matahari, tetap saja tak banyak berpengaruh. Tapi dia sangat berjasa menemani setiap malamku untuk menggapai gelar sarjana agama. Sebuah gelar yang sangat didambakan oleh keluargaku di kampung.
            “Kalau kamu sudah sarjana, maka pesantren Babussaadah ini biar kamu yang mengelola,” begitu perkataan ayahku.
Bayanganku kembali pada 2 jam yang lalu, ketika suara cemprengnya Nety menggedor gendang telingaku. Buka bersama yang dilanjutkan dengan sahur bersama yang diikuti tiga puluh orang laki-laki dan perempuan. Oh …..my God, berarti harus nginep bareng dong !!
            Aku menyangka acara ini pasti dipenuhi dengan hal-hal yang berbau maksiat. Aku memutar otak, mencari celah untuk menyelamatkan diri dari acara sialan ini.
            Bukankah puasa dilakukan untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Memperbanyak dzikir, iktikaf di masjid, bersedeqah, membaca quran dan seabreg kegiatan amaliah ramadlan lainnya. Kadang aku merasa bahwa teman-temanku terlalu ‘kreatif’ membikin acara. Sampai acara yang ga mungkinpun jadi mungkin untuk dilakukan. Ngomong ke ketua bahwa aku ga bisa ikut acara tersebut percuma, jawabannya sudah bisa ditebak ‘kepentingan pribadi tidak boleh menghalangi kepentingan kelompok’.
Kebayang kalau aku sampai ikut acara itu, tidur bersama campur aduk antara ikhw eh… laki-laki dengan akhw…eh perempuan. Pasti seru ceritanya, wajahku bisa nampang menjadi top of the month-nya mading. Kemudian aku diwawancara koran suara kampus sebagai anak lembaga dakwah yang liberal.
#  # #
            Pagi itu cuaca cerah. Matahari mengintip dari balik dedaunan yang tumbuh dihalaman rumah Pak Ali, tempat aku kost. Aku bergegas menyiapkan peralatan mandi. Sebagai anak kost, semboyan fastabiqul khairat, berlomba-lomba mandi duluan sudah menjadi budaya. Terlambat sedikit maka harus rela mengantri selama satu jam menunggu giliran. Tentu saja aku sudah sangat berpengalaman dalam masalah ini. Sehingga aku berusaha membiasakan untuk mandi pagi-pagi sekali, minimalnya setelah shalat shubuh dan qiraatul quran.
            Sebetulnya hari ini aku agak malas ke kampus. Aku tidak mau ketemu dengan makhluk yang bernama Nety dan C-4 nya. Kemarin iuran untuk acara sahur bareng sudah dimulai. Semua personel kelas ditodong satu persatu untuk menyerahkan uang lima puluh ribu. Sebagai anak kost, uang segitu bukanlah sedikit. Perlu waktu beberapa minggu bahkan sampai sebulan untuk mengumpulkan uang segitu banyaknya. Terpaksa aku minta tempo untuk membayarnya. Dan ternyata masih ada sepuluh orang lagi yang mengalami nasib sepertiku.
            “Ok, tapi besok hari terakhir pengumpulan iuran!” Nety mengatakan itu kemarin didepan kelas yang diikuti suara riuh teman-teman yang lagi bokek. Dia memang bertugas menarik iuran dan kemudian menyerahkannya pada Bela sang bendum.
            Ternyata hari inipun aku belum punya uang. Semalam aku berusaha mencari pinjaman kepada Andi, teman sekamarku. Ternyata dia lebih parah dariku, weselnya macet sudah tiga bulan yang lalu.
            Perasaan males untuk mengikuti acara tersebut, tidak menghalangi aku untuk tetap membayar iuran, walau harus membobol sisa kas di atmku atau bahkan ngutang. Terpaksa hari ini aku harus pinjam lagi sama Pak Ali yang sudah aku anggap sebagai bapakku.
# # #
            “Aku mau ikut acara sahur bareng kalau acaranya di tempatku, dan aku yang mendesainnya,” akhirnya aku ngomong juga ke sang ketua kelas. Aku mencoba mencari jalan tengah diantara keinginan teman-temanku yang tetap ngotot dengan acara sahur barengnya. Aku ingin menjadi bagian dari mereka, komunitas kelas yang sangat heterogen.  Ada Nety si tomboy girl, Lisa si kutu buku, Armand si vokalis band kampus, sampai akupun kecipratan gelar si ustadz.
            Mungkin aku bisa saja menghindar dari acara itu. Bisa saja aku pura-pura pulang kampung karena ada acara keluarga. Adikku di sunat, atau kakekku nikah lagi (ga mungkin ya…). Tapi ada yang mengganjalku, aktivitasku di Lembaga Dakwah memaksa aku untuk berbuat sesuatu. Ya, aku ga mungkin membiarkan teman-teman menodai ibadah puasanya dengan aktivitas yang menurutku konyol. Aku harus berbuat sesuatu. Sehingga lahirlah ide melaksanakan acara itu di rumahku. Tepatnya di rumah bibiku yang memang jarang ditempati. Alhamdulillah sang ketua menanggapi dengan positif dan menyarankan membawa masalah itu ke dewan kelas, minggu depan.
# # #
            “Aku ga setuju banget, akukan sudah nyiapin acaranya di puncak, ya ga coy…!” Nety ngotot tidak mau menerima usulku. Cara bicaranya yang bak orator memberi api semangat pada tiga anggota C-4 yang lain untuk menganggukan kepala.
            “Mungkin lebih baik kalau aku melaporkan hasil pemasukan keuangan, totalnya ada satu juta lima ratus ribu rupiah. Anggaran yang dibutuhkan untuk berangkat ke puncak sekitar satu juta tujuh ratusan. Itu termasuk biaya transportasi sewa bus, buka puasa dan sahur bersama. Sedangkan kalau di rumah si ustadz kita bisa menekan dari transportasi,” Bela menjelaskan dengan panjang lebar. 
            “ Bendum sudah disogok sama si ustadz tuh, jadi kelihatan sekali pro dia,” Nety dan C-4 masih mencoba mempertahankan argument mereka. Menurutnya acara itu bisa menjadi ajang merekatkan persaudaraan kita, sekaligus ajang refreshing dari kuliah.
            “Ok, semua sudah jelas, kalau teman-teman ikhlas menambah iuran kita, acara di puncak its ok….., tapi kalau tidak mau…….berarti kita tidak mungkin bisa menolak usul si Ustadz,” Sang Ketum mulai mengarahkan pembicaraannya pada usulku. Alhamdulillah aku bersyukur, tidak sia-sia kemarin aku habis-habisan menerangkan tentang pergaulan islami antara laki-laki dan perempuan.
            Sudah bisa ditebak, teman-teman bukannya tidak mau pergi ke puncak, mereka hanya tidak mau nambah biaya lagi. So… acara jadilah di rumahku.
# # #
            Hari ini udara sangat cerah. Awan biru berjalan beriringan ditemani suara nyaring burung gereja di atap rumahku. Sementara di dalam rumah, aku mempersiapkan semuanya, menyambut tamu-tamu istimewaku. Sore hari nanti mereka akan datang. Aku sudah mendesain semua kegiatan sehati-hati mungkin. Aku tidak akan membiarkan waktu luang sedikitpun untuk terjadinya khalwat. Lantai satu untuk anak cowok dan lantai dua untuk anak cewek. Pertemuan hanya dilakukan di lantai satu ketika buka bersama yang dilanjutkan dengan shalat jamaah tarawih kemudian kultum. Pertemuan kedua ketika akan melaksanakan sahur yang kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh bersama.
            Aku sangat paham bahwa apa yang aku lakukan sangat beresiko. Bukan hanya sebatas fitnah, bisa jadi aku dijauhi aktivis dakwah yang lain. Tapi aku juga paham bahwa berdakwah memerlukan tahapan. Tuhan, ampuni hambamu yang lemah ini. Hanya ini yang bisa hamba lakukan, hamba hanya berharap apa yang hamba lakukan adalah bagian dari dakwah menghindarkan teman-teman dari kemungkinan terjerumus pada aktivitas yang terlarang. Aku sering berfikir, terkadang kita disibukan dengan dakwah kepada orang yang sangat jauh dari kita, sedangkan teman di dekat kita tidak pernah tersentuh. 
            Suara jam dinding berdetak berirama, melantunkan nada-nada gelisah yang masih setia menemaniku. Aku membiarkan lamunanku mengembara, mencoba merangkai tahap-tahap dakwah yang mungkin bisa aku lakukan selanjutnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar